Bagi generasi Z, berwisata tidak selalu soal bepergian ke destinasi wisata yang viral. Pengalaman yang otentik dan personal justru kerap menjadi pertimbangan utama.
Dalam keseharian kita, kosakata seperti healing, self-reward, staycation, hingga chasing sunset sering kita dengarkan dan temukan. Bukan tanpa sebab, kosakata ini muncul karena tren aktivitas wisata demikian tengah gencar di kalangan generasi muda, terutama gen Z dan milenial muda. Berbeda dari generasi-generasi sebelumnya, kelompok usia muda ini memiliki preferensi baru yang mengubah tatanan pariwisata di Indonesia hingga tingkat global.
Data Statistik Wisatawan Nusantara 2021-2024 menunjukkan, kelompok masyarakat usia produktif muda mendominasi jumlah perjalanan wisatawan Indonesia. Lebih dari setengah perjalanan wisatawan lokal dilakukan oleh kelompok masyarakat yang berusia maksimal 34 tahun. Bahkan, ada kecenderungan populasi wisatawan yang berusia kurang dari 25 tahun atau gen Z semakin banyak.
Pada tahun 2021, misalnya, perjalanan wisata yang dilakukan kelompok gen Z itu masih sebesar 14,64 persen. Namun, pada 2024 angkanya meningkat menjadi 17,95 persen. Pertumbuhan wisatawan ini menunjukkan bahwa kelompok generasi ini akan menentukan tatanan pariwisata Indonesia dan global.
Menariknya, generasi tersebut memiliki gaya hidup dan pemikiran yang memengaruhi style dan preferensi berwisata yang berbeda dari kelompok usia lainnya. Sembari melepas penat dari rutinitas, mereka juga sangat mengutamakan pengalaman-pengalaman baru ketika berwisata. Pengalaman tersebut dapat berupa live event, seperti konser, pameran, dan event olahraga. Tidak seperti generasi lainnya yang biasa menjadikan kegiatan berwisata hanya sebatas melepas penat atau mengunjungi tempat-tempat wisata.
Salsa (27), karyawan swasta di Jakarta Pusat, merasa pengalaman hadir di live event juga menjadi pertimbangannya ketika menentukan destinasi wisata, apalagi jika acara itu sesuai dengan minatnya. ”Waktu ada JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival) di Jogja, itu aku datang langsung ke sana,” ucap Salsa saat dihubungi di Jakarta, Jumat (30/1/2026). Ketertarikan pada perfilman membuatnya menghadiri langsung perfilman internasional yang diselenggarakan setiap tahun itu. Ia juga merasa beberapa teman-teman sebayanya juga kerap menjadikan live event seperti konser ataupun festival-festival sebagai destinasi wisata mereka.
Preferensi wisata itu nyatanya tidak hanya terjadi di Indonesia. Pada tingkat global, ketertarikan wisatawan terutama gen Z pada live event sebagai opsi berwisata juga terlihat. Kondisi ini kemudian mendorong segmen pariwisata gaya hidup ini berpotensi mengalami pertumbuhan pesat.
Lembaga riset dan informasi khusus pariwisata Skift memprediksi pangsa pasar live event akan menembus 2,9-3 triliun dolar AS dari dampak total pariwisata. Tidak hanya itu saja, dalam surveinya, Skift menyebutkan, sebanyak 20 persen dari responden terutama generasi X dan milenial melakukan perjalanan wisata demi menonton live event.
Salah satu segmen live event yang laris dikunjungi generasi muda adalah konser dan festival musik. Dalam beberapa tahun terakhir, pengunjung dan penikmat konser musik di Indonesia terus bertambah. Survei lembaga Populix yang diadakan pada 20-22 Oktober 2023 menyebutkan bahwa 57 persen responden yang didominasi gen Z dan milenial sudah berencana akan menonton konser musik pada tahun yang akan datang (2024). Bahkan, mayoritas berencana datang ke konser musik satu sampai tiga kali dalam setahun.
Pencarian terhadap pengalaman dalam kegiatan berwisata gen Z ternyata tidak hanya dilakukan pada acara besar seperti konser atau festival semata. Berwisata bagi mereka juga dapat dilakukan dalam lingkup kegiatan sederhana dan berada di sekitar tempat tinggalnya. Terpenting, aktivitas itu memberikan pengalaman baru dan otentik bagi mereka.
Menurut Fika (24), karyawan swasta di Jakarta, mencari kuliner otentik sembari menyusuri jalanan di Jakarta sudah cukup menjadi kegiatan berwisata yang berkesan baginya. ”Seru kalau mencari makanan-makanan hidden-gem sambil jalan-jalan masuk gang,” ceritanya ketika ditemui, Jumat (30/1/2026). Bagi Fika, kegiatan itu cukup membuatnya bersemangat karena mendapatkan pengalaman baru di setiap perjalanannya.
Berdasarkan laporan lembaga McKinsey, bagi generasi muda, pengalaman dari kegiatan wisata merupakan cerita kolektif yang dapat dibagikan melalui media sosial. Gen Z, yang sangat terbiasa dengan dunia digital termasuk media sosial, kerap mencari inspirasi wisata dari platform tersebut. Sebaliknya, mereka juga sering berbagi pengalaman berwisata bagi pengguna media sosial lainnya.
Di platform Tiktok, misalnya, berbagai informasi dan pengalaman berwisata bertebaran. Konten-konten dengan kata kunci place to go memberikan informasi pengalaman pemilik akun tentang sejumlah destinasi wisata di suatu kota yang ia kunjungi selama periode waktu tertentu. Konten-konten ini juga memberikan gambaran yang jelas tentang suasana, penilaian tempat, biaya, sehingga memudahkan pengguna media sosial untuk merencanakan perjalanan mereka.
Dengan kemudahan ini, para wisatawan terutama gen Z menjadikan media sosial seperti TikTok sebagai bahan untuk membuat rencana wisata. Do It Yourself (DIY) travel atau perjalanan wisata yang dirancang sendiri tanpa bantuan agen wisata atau pemandu wisata pun semakin berkembang. Jurnal berjudul “Do It Yourself Travel as a Gen Z Travel Culture in the Digital Era in Indonesia” menyebutkan bahwa DIY travel ini dilakukan Gen Z sekaligus untuk menunjukkan ekspresi diri dan mencari pengalaman yang sesuai dengan minat masing-masing.
Devon (26), karyawan swasta di Jakarta, yang seringkali berwisata sembari touring motor mengatakan bahwa ia sering membagi cerita perjalanannya di media sosial. “Karena touring-nya jauh, aku share di media sosialku, karena itu juga jadi pencapaian buatku”, ucapnya. Ia juga merasa bahwa kegiatan berwisata dengan touring itu unik yang dapat memberikan cerita berbeda bagi pengguna media sosial lainnya.
Pergeseran preferensi wisata dan kelompok usia wisatawan itu menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan pariwisatanya. Budaya, tradisi, dan kekhasan daerah menjadi modal kuat untuk membentuk destinasi wisata yang menawarkan pengalaman unik bagi wisatawan. Selain itu, kuliner serta nuansa yang unik di setiap daerah pun juga menjadi daya tarik tinggi bagi wisatawan saat ini.
Sesuai dengan survei McKinsey pada tahun 2024, aktivitas, budaya, kuliner, dan destinasi wisata yang otentik dan bernuansa lokal menjadi beberapa faktor pertimbangan wisatawan untuk memilih destinasi wisata. Pengalaman baru dan unik memberikan nilai tambah bagi destinasi wisata bersangkutan. Kombinasi antara nilai-nilai lokal dan live event menjadi potensi baru untuk dikembangkan dalam pariwisata Indonesia. Dengan sentuhan digital dan promosi yang relevan dengan gaya gen Z di media sosial, maka sektor pariwisata yang menawarkan nuansa pengalaman menjadi ceruk baru bagi pengembangan industri pariwisata.
UMKM dan usaha rumahan juga dapat menjadi aktor penggerak jenis pariwisata baru tersebut. Rumah makan yang menyajikan masakan khas daerah dengan nuansa lokal, kedai kopi kecil, hingga kegiatan produksi UMKM lokal dapat menjadi destinasi wisata baru yang mengundang minat generasi muda. Dengan demikian, bukan hanya sektor pariwisata saja yang dapat meraup keuntungan, tetapi juga para pengusaha UMKM hingga warga desa juga dapat menikmati dari potensi pariwisata ini. (LITBANG KOMPAS)



