Jakarta: Pemerintah mengupayakan pengelolaan sampah berkelanjutan. Upaya tersebut didukung penuh dengan optimalisasi teknologi waste to energy (WtO).
“Sebagai bagian dari komitmen kami mendukung agenda pemerintah dalam pengelolaan sampah berkelanjutan, kami melihat bahwa keberhasilan proyek Waste-to-Energy tidak cukup hanya dari sisi teknologi pembangkit, tetapi dari kesiapan sistem operasional di lapangan," kata Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa, Adrianus Hadiwinata, dalam keterangan yang dikutip Rabu, 4 Februari 2026.
Penguatan teknologi WtE sebagai bagian dari strategi nasional mengatasi persoalan sampah. Sekaligus, memperkuat bauran energi.
Dengan timbunan sampah nasional yang kini melampaui 189.000 ton per hari, proyek WtE diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang yang tidak hanya berdampak pada lingkungan. Termasuk, mendorong ekonomi sirkular serta ketahanan energi.
Adrianus mengatakan pihaknya sebagai korporasi yang berpengalaman di bidang alat berat, mendukung seluruh rantai penanganan limbah, mulai dari pre-processing, transfer, feeding, hingga keberlanjutan operasional fasilitas WtE melalui pendekatan sistem yang terintegrasi.
Salah satu pengembangan yang saat ini berjalan adalah proyek WtE di Sukabumi bersama Cahaya Yasa Cipta, serta inisiatif RDF yang sudah berjalan sejak Juli 2025. Di tingkat regional, pengalaman implementasi RDF untuk kebutuhan industri semen di Thailand juga memperlihatkan bahwa keberhasilan proyek berbasis pengolahan limbah menjadi energi sangat ditentukan oleh kesiapan sistem operasional di lapangan.
"Melalui penempatan dua unit Hiab di Sukabumi serta dukungan material handler Liebherr LH 40, kami berharap dapat membantu memastikan proses penanganan limbah berjalan lebih stabil, efisien, dan berkelanjutan,” kata Adrianus.
Baca Juga: Presiden Prabowo Siapkan 34 Proyek Waste to Energy, Tangani Krisis Sampah Nasional
Dalam konteks feeding limbah, MCP menghadirkan solusi berbasis crane, Hiab 19000 sebagai electric waste feeder yang dirancang untuk memastikan aliran limbah ke lini WtE atau RDF berlangsung stabil dan terkontrol. Saat ini, dua unit Hiab telah ditempatkan untuk mendukung operasional proyek di Sukabumi, sebagai bagian dari penguatan sistem feeding yang lebih konsisten dibanding metode konvensional berbasis excavator diesel.
Sistem feeding berbasis electric memungkinkan operasi yang lebih stabil, menekan biaya operasional harian, serta mengurangi risiko gangguan teknis yang dapat memicu downtime. Sementara itu, untuk kebutuhan transfer dan handling limbah berskala menengah hingga besar, MCP juga menghadirkan Liebherr material handler LH 40 yang dirancang khusus untuk operasi waste duty.
Unit ini memungkinkan penanganan limbah curah secara kontinu, mengurangi jumlah alat yang dibutuhkan dalam satu fasilitas, serta menjaga konsistensi feeding ke bunker atau conveyor dalam jangka panjang. Melalui pendekatan ini, peran perusahaan alat berat dalam proyek Waste-to-Energy tidak lagi terbatas sebagai pemasok unit, tetapi sebagai penyedia sistem operasional terintegrasi.
Seiring meningkatnya komitmen pemerintah terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan, keberadaan mitra industri yang memahami karakter limbah Indonesia menjadi faktor penentu agar proyek WtE tidak hanya berjalan secara teknis. Tetapi, layak secara operasional dan ekonomi dalam jangka panjang.




