Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan virus Nipah dapat menular melalui buah terbuka yang terkontaminasi kelelawar, seperti yang terjadi pada kasus di India.
Wabah virus ini mencuat di India setelah lima kasus terkonfirmasi di Kolkata, Bengal Barat sejak awal Januari 2026. Meski belum ada kematian yang dilaporkan, sekitar 100 orang terdampak virus ini telah dikarantina dan menjalani sejumlah tes.
Menurut Budi, penularan virus Nipah berkaitan dengan kebiasaan kelelawar yang menggigit buah, lalu buah tersebut dikonsumsi manusia tanpa melalui proses pembersihan atau pemasakan.
“Ya itu di India karena itu penularannya kan lewat kelelawar ya. Jadi biasanya kelelawar tuh gigit buah, buahnya tuh kalau enggak dicuci, enggak dimasak, dimakan, (virus) itu menular,” kata dia usai menghadiri peringatan Hari Kanker Sedunia 2026 di South Quarter Dome, Jakarta Selatan pada Rabu (4/2).
Budi juga mengingatkan agar masyarakat tetap waspada meski belum ada kasus di dalam negeri. “Belum ada di Indonesia, ya dijaga aja teman-teman ya,” katanya.
Jalur Penularan yang Perlu DiwaspadaiPenularan virus Nipah terjadi melalui beberapa jalur. Jalur pertama dari kelelawar ke manusia melalui konsumsi sari pohon kurma mentah, buah yang terkontaminasi air liur, atau urine kelelawar yang terinfeksi.
Jalur kedua melalui hewan perantara, seperti babi yang terinfeksi. Mengutip dari WHO, wabah di Malaysia dan Singapura tahun 1998-1999 sebagian besar terjadi karena kontak langsung dengan babi sakit atau jaringannya yang terkontaminasi.
Jalur ketiga adalah penularan antar manusia yang terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh pasien terinfeksi. Penularan ini kerap terjadi di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan.



