Ramalan Industri Komponen Otomotif 2026, Ancaman Badai PHK Berlanjut

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) memproyeksikan kinerja industri komponen otomotif pada 2026 masih akan dibayangi tekanan dan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang telah terjadi sejak tahun lalu.

Sekretaris Jenderal GIAMM Rachmat Basuki mengatakan, pasokan komponen otomotif di pasar domestik melemah seiring dengan turunnya angka produksi dan penjualan mobil sepanjang 2025.

Data Gaikindo mencatat, produksi mobil nasional tercatat mencapai 1,14 juta unit sepanjang Januari–Desember 2025. Realisasi tersebut turun 4,1% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan 2024 yang mencapai 1,19 juta unit.

"Untuk proyeksi kinerja pada 2026 diperkirakan masih akan sama dengan 2025," ujar Basuki kepada Bisnis, dikutip Rabu (4/2/2026).

Kondisi tersebut membuat suplai komponen otomotif di pasar domestik ikut turun. Basuki menuturkan, tekanan terhadap industri komponen diperparah oleh penurunan penjualan mobil domestik yang telah berlangsung hampir tiga tahun terakhir, yang selama ini menjadi penopang utama kinerja sektor tersebut.

Penjualan mobil secara wholesales sepanjang 2025 mencapai 803.687 unit atau turun 7,2% (year-on-year/YoY), sementara penjualan ritel melemah 6,3% menjadi 833.692 unit. 

Baca Juga

  • Ini Dia 4 Tokoh Pelopor Industri Otomotif Indonesia, Bawa Merk Jepang Mendominasi
  • Kaleidoskop 2025: Babak Belur Industri Otomotif hingga Euforia Mobil Listrik
  • Potret 4 Dekade Industri Otomotif RI: Dari Mobnas hingga Mobil Listrik

Kondisi ini, menurut Basuki, turut memicu terjadinya PHK massal di sejumlah perusahaan komponen otomotif sejak pertengahan 2025. Meski tidak ada angka pasti, namun jumlah karyawan terdampak PHK di perusahaan anggota GIAMM berkisar 3%–23%.

"Pasti [banyak yang terdampak PHK], namun sebagian ada yang menginformasikan, tetapi sebagian lainnya tidak," ujar Basuki.

Alhasil, untuk menjaga skala keekonomian industri, Basuki menilai sektor komponen otomotif membutuhkan volume produksi yang memadai guna menggerakkan pabrik dalam negeri. 

Menurutnya, hal tersebut dapat didorong melalui pemberian insentif fiskal seperti pada masa pandemi Covid-19, dengan persyaratan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi agar pemasok domestik turut bergairah.

Selain itu, insentif juga diperlukan bagi produk yang telah berorientasi ekspor. Basuki menekankan, daya saing produk ekspor harus terus diperkuat, mengingat kenaikan upah minimum provinsi (UMP) yang tidak diiringi peningkatan produktivitas masih menjadi faktor yang menekan daya saing industri nasional.

"Salah satu penyebab kurang kompetitifnya Indonesia adalah masalah UMP yang naik terus, tidak disertai naiknya produktivitas. Makanya investor enggan masuk, dan memilih negara tetangga," katanya.

Kabar baiknya, nilai ekspor komponen otomotif Indonesia pada 2025 mencapai US$7,5 miliar atau setara Rp125,8 triliun, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran US$7 miliar. Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, dan Korea Selatan tercatat sebagai pasar utama tujuan ekspor.

Basuki menegaskan, perluasan penetrasi pasar ekspor menjadi kunci untuk menjaga kinerja industri komponen otomotif, di tengah lemahnya permintaan domestik.

"Meskipun penjualan domestik kendaraan roda empat turun, akan tetapi kami sangat tertolong dengan naiknya ekspor," pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Board of Peace untuk "A Piece of Gaza"
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Canda Arief Hidayat ke Anwar Usman: Orangtua yang Sudah Tak Berguna di MK karena Segera Pensiun
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Habib Bahar Mangkir Diperiksa soal Kasus Pengeroyokan Banser, Polisi Jadwal Ulang!
• 7 jam laluokezone.com
thumb
Prilly Latuconsinna Sampaikan Permintaan Maaf Soal Kontroversi Open To Work
• 11 jam lalucumicumi.com
thumb
Profil Dini Kurnia Mantan Istri Ressa Rizky, Ternyata Sudah Menikah Lagi
• 7 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.