Pemilik kulit sawo matang mungkin sudah familiar dengan pujian “eksotis” sejak masih kecil. Kata tersebut biasanya digunakan untuk memvalidasi kecantikan seseorang yang tidak berkulit putih atau terang.
Tak dapat dipungkiri, kulit putih masih diagung-agungkan oleh sebagian besar masyarakat. Oleh karena itu pujian “eksotis” menjadi alternatif pujian untuk perempuan berkulit sawo matang.
Padahal, dalam dalam sejarahnya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang dianggap asing atau berbeda. Sehingga ketika label “eksotis” dipakai untuk memvalidasi kecantikan, tanpa disadari seseorang itu ditempatkan sebagai sesuatu yang berbeda, bukan diakui setara.
Asal muasal dari sebutan “eksotis”Menurut kajian Post-Colonial Studies, kata “eksotis” pertama kali digunakan pada tahun 1699 untuk menggambarkan sesuatu yang asing dan berasal dari luar.
Saat bangsa Eropa melakukan invasi ke berbagai wilayah, seperti Afrika dan Asia, mereka menemukan kebudayaan serta sumber daya alam yang berbeda dari yang mereka kenal. Dari situlah istilah ini mulai digunakan.
Dikutip dari buku berjudul “Understanding postcolonialism Routledge” karya Jane Hiddleston istilah “eksotis” lama-kelamaan digunakan untuk menggambarkan perbedaan fisik, termasuk warna kulit pada masa kolonialisme.
Karena mayoritas orang Eropa berkulit putih, kulit hitam dipandang sebagai sesuatu yang berbeda dan dilabeli “eksotis”. Mereka dianggap cantik, tapi asing.
Hingga kini, penyebutan “eksotis” masih mengakar kuat di masyarakat, termasuk di Indonesia.
Warisan kolonialisme pengaruhi kepercayaan diri seseorangDr. Amal Abu-Bakare, PhD, dosen di University of Liverpool mengatakan, pujian “eksotis” dari era kolonial memengaruhi tingkat kepercayaan diri seseorang hingga kini.
“Akibat sejarah itu, hingga kini banyak perempuan dan laki-laki berkulit berwarna (lebih gelap seperti hitam atau sawo matang) masih berjuang untuk berdamai dengan diri mereka sendiri,” ujarnya.
Tak jarang, istilah “eksotis” dianggap sebagai pujian yang baik bagi pemilik kulit sawo matang. Padahal, menurut Dr. Amal Abu-Bakare, anggapan tersebut tidak tepat.
“‘Eksotis’ bukanlah sebuah pujian… Alangkah baiknya jika kita belajar untuk memberikan pujian dengan istilah yang tepat,” ucapnya.
Baca juga: 25 Warna Nail Art untuk Kulit Sawo Matang, Bikin Kuku Tampak Cantik





