Penulis: Rini
TVRINews-Banjarmasin
Minimnya pasokan beras lokal dan Jawa memicu kenaikan harga eceran menjelang Ramadan.
Kurangnya ketersediaan stok pada tingkat distributor memicu tren kenaikan harga beras di pasar tradisional Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Fenomena ini berdampak pada varietas beras lokal maupun pasokan yang didatangkan dari Pulau Jawa.
Berdasarkan pantauan di kawasan Muara Kelayan, kenaikan harga telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Para pedagang melaporkan bahwa keterbatasan pasokan menjadi faktor utama yang mengerek harga jual ke konsumen.
Seorang agen beras setempat, Hajjah Maslihah, mengungkapkan bahwa lonjakan harga bervariasi tergantung pada ukuran kemasan. Untuk penjualan per karung (sak), kenaikan tercatat berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp20.000.
"Ketersediaan beras lokal seperti jenis Siam dan Pandak mulai berkurang di pasaran. Kondisi ini merupakan dampak dari kegagalan panen di sejumlah wilayah sentra akibat cuaca ekstrem dan banjir," ujar Maslihah Rabu 4 Ferbruari 2026.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada harga eceran di tingkat masyarakat. Menurut Maslihah, harga per liter rata-rata mengalami kenaikan sebesar Rp1.000 hingga Rp2.000 dibandingkan harga normal sebelumnya.
Selain komoditas lokal, tekanan harga juga merambah ke jenis beras asal Pulau Jawa. Meski distribusinya masih berjalan, penipisan stok di level distributor menyebabkan harga ikut terkoreksi naik.
Kendala iklim di daerah penghasil disinyalir menjadi penyebab utama terganggunya rantai pasok menuju Kalimantan Selatan. Gagal panen yang dialami petani membuat volume beras yang masuk ke gudang-gudang agen tidak sebanding dengan permintaan pasar yang tetap tinggi.
Meski terjadi fluktuasi harga, para pelaku usaha di Banjarmasin memberikan kepastian mengenai ketahanan pangan. Para pedagang menjamin bahwa stok beras, baik lokal maupun Jawa, masih berada dalam level aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam menghadapi bulan suci Ramadan mendatang.
Editor: Redaktur TVRINews



