Liputan6.com, Jakarta - Penurunan muka tanah (land subsidence) menjadi salah satu faktor utama yang memperparah banjir di Jakarta. Hasil riset menunjukkan sejumlah wilayah di ibu kota mengalami penurunan permukaan tanah lebih dari 10 sentimeter per tahun.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional, Budi Heru Santosa, mengatakan temuan tersebut berdasarkan pengolahan citra satelit.
Advertisement
“Penurunan muka tanah dipicu oleh dua faktor utama, yakni kondisi alami lapisan tanah aluvial Jakarta yang mudah terkompaksi serta aktivitas manusia, terutama pengambilan air tanah secara berlebihan,” kata Budi dalam diskusi Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset di Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Ia menjelaskan, kebutuhan air bersih yang terus meningkat mendorong masyarakat dan pelaku usaha menyedot air tanah dalam jumlah besar. Hal ini terjadi karena layanan jaringan air perpipaan belum menjangkau seluruh wilayah Jakarta secara merata.
Menurut Budi, hasil riset sejumlah instansi, termasuk BRIN, menunjukkan penyedotan air tanah menyebabkan rongga di dalam lapisan tanah kehilangan kandungan air. Akibatnya, terjadi pemampatan yang memicu penurunan permukaan tanah secara bertahap.
“Kondisi ini banyak ditemukan di wilayah pesisir utara Jakarta, seperti Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan sebagian Jakarta Pusat,” ujarnya.




