Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI periode 2014–2024 Dino Patti Djalal mengungkapkan kesan positif usai mengikuti pertemuan dengan Presiden RI Prabowo Subianto yang membahas keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BOP) terkait konflik Palestina.
Dino mengaku sempat terkejut dengan suasana pertemuan yang berlangsung sangat terbuka dan dua arah. Ia menyebut diskusi berjalan tanpa batasan topik, di mana para peserta bebas menyampaikan pertanyaan, kritik, hingga kekhawatiran secara langsung kepada Presiden.
“Saya cukup terkejut karena diskusinya sangat terbuka dan candid. Tidak ada top-down, tidak ada larangan bertanya. Semua risiko, opsi, dan skenario dibahas secara jujur,” ujar Dino, Rabu, 4 Februari 2026.
Dalam pertemuan tersebut, lanjut Dino, Presiden Prabowo secara terbuka membahas berbagai risiko yang berpotensi dihadapi Indonesia ke depan, termasuk dinamika geopolitik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat.
Meski demikian, Presiden menilai Board of Peace saat ini merupakan satu-satunya opsi yang tersedia untuk mendorong gencatan senjata di Gaza.
“Presiden melihat ini secara realistis. Board of Peace bukan solusi ajaib, tapi ini satu-satunya opsi yang ada di atas meja saat ini. Ini adalah sebuah eksperimen dengan risiko kegagalan yang tinggi,” kata Dino.
Ia menilai risiko terbesar berasal dari pengaruh Israel dalam politik global, terutama relasinya dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Namun, Presiden Prabowo menekankan bahwa Indonesia akan menjaga kekompakan dengan negara-negara mayoritas Muslim seperti Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Yordania sebagai kekuatan penyeimbang.
Menurut Dino, sikap realistis Presiden juga tercermin dari komitmen Indonesia untuk tetap berhati-hati dan mempertahankan opsi keluar dari Board of Peace apabila langkah tersebut bertentangan dengan prinsip dan kepentingan nasional.
“Ini ditekankan berulang kali. Indonesia masuk dengan hati-hati dan selalu memegang opsi untuk keluar. Presiden tidak ragu untuk menarik diri jika arah kebijakan ini menyimpang dari prinsip kita,” tutur Dino.
Ia menambahkan Presiden Prabowo juga menyadari adanya tantangan besar dalam komunikasi publik terkait isu Palestina. Banyak informasi yang tidak bisa disampaikan secara terbuka, sehingga kerap menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat.
Selain itu, dalam pertemuan tersebut ditegaskan bahwa Board of Peace harus tetap berada dalam koridor mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mengingat badan tersebut dibentuk berdasarkan keputusan Dewan Keamanan PBB.
Indonesia, menurut Dino, berkepentingan untuk memastikan BOP tetap kredibel dan tidak keluar dari mandat internasionalnya.
Ia menegaskan tujuan utama keterlibatan Indonesia tetap tidak berubah, yakni mendukung kemerdekaan Palestina melalui solusi dua negara (two-state solution).
“Tujuan akhirnya jelas, Palestina merdeka. Untuk itu kita harus berdiplomasi, melobi, berdebat, dan bersikap pragmatis serta realistis,” kata Dino.
Meski mengakui risiko kegagalan yang tinggi akibat banyak faktor, mulai dari dinamika Amerika Serikat, Israel, hingga situasi di lapangan, Dino menilai langkah ini tetap penting karena tidak ada alternatif jalur perdamaian lain saat ini.
“Ini memang eksperimen, tapi ini satu-satunya permainan yang ada sekarang. Jalannya masih panjang, dan kita berharap tujuan utama, yaitu two-state solution, bisa tercapai,” tutur Dino.
Editor: Redaktur TVRINews



