Bisnis.com, JAKARTA – Langkah penegakan hukum oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri dalam mengusut dugaan manipulasi perdagangan saham perlu dikomunikasikan secara jelas agar tidak menimbulkan ketakutan berlebihan di kalangan investor.
Pengamat pasar modal Teguh Hidayat mengatakan pentingnya komunikasi kebijakan yang lebih menenangkan dari pemerintah dan regulator, terutama di tengah kondisi pasar yang masih rentan. Menurutnya, penindakan seharusnya diarahkan untuk membangun kepercayaan, bukan menciptakan kegaduhan.
“Kalau ke depan terbukti ada tersangka dan praktik manipulasi benar-benar berkurang, berarti langkah ini tepat. Tapi kalau hasilnya tidak jelas, untuk sementara ini sentimennya justru negatif,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).
Di sisi lain, Teguh juga menyoroti belum adanya preseden aparat kepolisian yang langsung melakukan penggeledahan dan penyelidikan di pasar modal tanpa melalui mekanisme pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlebih dahulu.
“Karena sebelumnya tidak pernah ada kejadian seperti ini, pasar mungkin merasa aman-aman saja. Namun dengan adanya langkah ini, bukan hanya pelaku manipulasi yang merasa tertekan, investor yang tidak melakukan pelanggaran pun ikut takut,” imbuhnya.
Pandangan serupa disampaikan pengamat pasar modal Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy. Dia menilai langkah aparat penegak hukum dalam mengusut dugaan manipulasi saham bisa menjadi sentimen positif maupun negatif bagi pasar, bergantung pada kekuatan bukti dan cara penyampaiannya ke publik.
Baca Juga
- PADI Buka Suara Soal Minna Padi Diselidiki Bareskrim Kasus Pelanggaran Pasar Modal
- Profil Emiten PIPA yang Diselidiki Bareskrim dalam Kasus Manipulasi IPO
- Bareskrim Usut MINA, PADI Hingga PIPA, Begini Reaksi Bos Bursa Efek Indonesia (BEI)
Menurut Budi, penindakan yang didukung bukti kuat dan terbukti merugikan investor akan mendapat dukungan dari pelaku pasar. Sebaliknya, jika dilakukan tanpa kejelasan, langkah tersebut berisiko menciptakan kesan bahwa pelaku pasar tidak dirangkul.
“Silakan tindak yang jelas bersalah dan merugikan. Tapi jangan memusuhi atau mencurigai semua pelaku pasar. Yang tidak melakukan pelanggaran pun bisa ikut takut,” ujarnya.
Dia menambahkan, komunikasi kebijakan yang inklusif dan menenangkan menjadi kunci agar reformasi dan penegakan hukum benar-benar berdampak positif terhadap kepercayaan pasar.
Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya berpendapat dalam jangka pendek, isu ini dapat memengaruhi sentimen pasar. Namun dalam perspektif menengah hingga panjang, ini merupakan tahap penting dalam pembenahan ekosistem pasar.
Dia menjelaskan pasar yang sehat bukan yang tanpa kasus, melainkan yang konsisten menindak pelanggaran. Bagi investor institusi, khususnya asing, hal ini dipandang sebagai indikasi keseriusan Indonesia dalam memperbaiki kredibilitas pasar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



