JAKARTA, KOMPAS.com – Rencana pemerintah mempercepat selang waktu keberangkatan atau headway kereta rel listrik (KRL) lintas Tanah Abang–Rangkasbitung menjadi 4–8 menit disambut positif oleh pengguna.
Namun, warga mengingatkan agar kebijakan tersebut disiapkan secara matang, tidak hanya diterapkan saat jam sibuk, dan dibarengi peningkatan infrastruktur secara menyeluruh.
Salah satu pengguna KRL, Icha (33), warga Cisauk, menilai percepatan headway merupakan langkah progresif untuk mengurangi kepadatan penumpang. Meski demikian, ia meragukan kesiapan teknis jika target tersebut benar-benar diterapkan.
Baca juga: KRL Greenline Kian Sesak, Penumpang: Dari Rawa Buntu Sudah Ramai Banget
"Headway menjadi 4-8 menit itu sih wah banget ya, kalau bisa sampai 4 menit. Tapi saya agak sanksi ya, mengingat jumlah penumpang juga akan semakin bertambah," ujar Icha kepada Kompas.com.
Menurut dia, kebijakan tersebut sebaiknya tidak hanya berlaku pada jam-jam sibuk, tetapi konsisten sepanjang jam operasional KRL.
"Tapi rencana ini perlu disambut baik oleh para pengguna commuterline. Hanya saja, diharapkan tidak hanya di jam-jam sibuk saja percepatan headway tetapi konsisten di sepanjang jam perjalanan," lanjutnya.
Saat ini, kata Icha, headway KRL rute Line masih berkisar 20 menit. Jika ingin dipersingkat hingga di bawah 10 menit, dibutuhkan persiapan teknis yang serius, termasuk penambahan rangkaian dan peningkatan sistem pendukung.
Perempuan yang rutin menggunakan KRL Rangkasbitung–Tanah Abang untuk bekerja itu juga menilai penambahan jumlah gerbong dan rangkaian kereta (trainset) perlu dilakukan.
"Juga perlu diperhatikan soal teknologi persinyalan (KRL) perlu diperbaharui," tuturnya.
Senada, warga Serpong, Dian (30), berharap rencana percepatan headway tidak dilakukan terburu-buru. Ia menilai pertumbuhan hunian di sepanjang jalur KRL Green Line akan terus meningkatkan jumlah penumpang dalam beberapa tahun ke depan.
Baca juga: Headway KRL Tanah Abang-Rangkasbitung Akan Dipersingkat Jadi 4-8 Menit, Kapan Terealisasi?
Menurut Dian, tanpa perbaikan sistem persinyalan dan penambahan kapasitas kereta, percepatan headway berisiko tidak efektif.
"Selain itu, perlu ada penambahan gerbong di rangkaian KRL rute green line. Tambah lah satu atau dua gerbong, tidak perlu baru, tetapi bisa untuk mengatasi penumpukan penumpang," kata Dian.
"Sekarang ini di jam sibuk kan numpuk banget. Jadi ke depannya harapannya headway lebih singkat, penumpukan tidak terjadi lagi," lanjutnya.
Sebelumnya diberitakan, headway KRL lintas Tanah Abang–Rangkasbitung direncanakan dipercepat menjadi 4–8 menit.
Rencana ini merupakan hasil kajian dan proyeksi penumpang KRL hingga 2035 yang dilakukan Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Jakarta (BTP) bersama sejumlah instansi pada 28 Januari 2028.





