REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan RI menyatakan perubahan iklim berperan besar terhadap meningkatnya kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia. Peningkatan suhu global seperti El Nino membuat nyamuk Aedes aegypti semakin aktif, agresif, dan meningkatkan risiko penularan dengue ke manusia.
Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor, Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa, dan Tanaman Beracun Kemenkes, dr Fadjar SM Silalahi, mengatakan perubahan iklim menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi nyamuk Aedes aegypti, vektor utama dengue. Menurutnya, suhu yang lebih hangat membuat nyamuk makin sering menggigit karena membutuhkan lebih banyak darah untuk berkembang biak.
Baca Juga
Usia Produktif 15-44 Tahun Lebih Berisiko Terinfeksi Dengue
Ini Cara Membedakan Demam Biasa dengan Gejala Dengue
Siswa SD Diduga Bunuh Diri karena tak Mampu Beli Buku, Kenali Tanda Depresi pada Anak
"Nyamuk menjadi lebih sering menggigit karena membutuhkan darah untuk perkembangbiakan. Akibatnya, potensi penularan ke manusia jauh lebih tinggi, dan populasi nyamuk juga bertambah," kata dr Fadjar dalam diskusi media di kawasan Cikini, Jakarta, Rabu (4/2/2026)
Ia mengatakan peningkatan kasus dengue umumnya terjadi setelah kenaikan Oceanic Nino Index (ONI) yang menandai fenomena El Nino. Pola ini tercermin pada 2024, yang ditetapkan sebagai tahun terpanas dalam sejarah pencatatan Indonesia dengan suhu rata-rata nasional mencapai 27,5 derajat Celsius.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pada 2024, jumlah kasus dengue pada mencapai rekor yaitu 257.271 kasus dengan 1.461 kematian dan terjadi di seluruh provinsi. Peningkatan kasus juga terjadi secara global dengan sekitar 14 juta kasus, 7 juta kasus terkonfirmasi dan sekitar 10 ribu kematian di dunia.
"Setiap kali El Nino tinggi, kasus DBD juga meningkat. Ini menunjukkan bahwa pengaruh iklim terhadap peningkatan kasus dengue sangat-sangat berpengaruh," kata dia.