Jakarta, VIVA – Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri mengatakan, tas milik seorang siswa pelempar molotov di SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat, pada Selasa 3 Februari tertulis nama pelaku penembakan massal di beberapa wilayah di dunia.
“Nama-nama yang tertera adalah pelaku penembakan massal dan sering dijadikan referensi di komunitas ekstrem online,” kata Juru Bicara Densus 88, Kombes Polisi Mayndra Eka Wardhana, di Jakarta, Rabu.
Ia merincikan, nama pertama yang ditulis adalah Stephen Paddock yang merupakan pelaku penembakan massal Las Vegas 2017.
- ANTARA/HO-Densus 88 AT Polri
“Insiden ini termasuk penembakan paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat modern,” katanya.
Ia melanjutkan, nama kedua adalah Adam Peter Lanza, seorang pelaku penembakan Sandy Hook Elementary School 2012. Peristiwa tersebut menewaskan anak-anak usia sekolah dasar dan guru.
“(Adam Peter Lanza) sering dijadikan simbol ekstrem kekerasan nihilistik,” ujarnya.
Lalu, nama ketiga adalah Seung-Hui Cho, pelaku penembakan Virginia Tech 2007. Kasus penembakan tersebut menjadi salah satu kasus awal yang banyak dianalisis dalam studi tentang lone wolf dan alienasi sosial.
Nama keempat adalah Salvador Ramos, pelaku penembakan di Uvalde, Texas, pada tahun 2022. Pelaku menargetkan sekolah dasar.
Nama kelima, imbuh dia, adalah Luca Traini yang merupakan pelaku penembakan bermotif rasial di Macerata, Italia 2018.
“(Luca Traini) berafiliasi dengan ideologi ekstrem kanan,” ucapnya.
Nama terakhir adalah Brenton Tarrant, pelaku serangan teror di Christchurch, Selandia Baru pada tahun 2019.
Selain nama, anak tersebut juga menuliskan #ZERO DAY dan TCC pada tasnya.
Mayndra menjelaskan, istilah #ZERO DAY sering dipakai dalam subkultur kekerasan ekstrem dan merujuk pada hari eksekusi serangan.
“Ini juga terkait dengan narasi film Zero Day tentang penembakan sekolah,” imbuhnya.
Sementara itu, TCC mengacu pada True Crime Community, sebuah komunitas yang menyebarkan paparan ekstremisme dan ideologi kekerasan.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa anak tersebut merupakan korban perundungan dan memiliki keinginan untuk balas dendam terhadap teman-temannya yang kerap kali melakukan perundungan terhadapnya. Selain itu, sang anak juga diduga kuat menghadapi masalah keluarga.
Balas dendam itu kemudian dilampiaskan dengan melakukan aksi kekerasan di sekolah.



