Fenomena pencemaran lingkungan kembali terjadi di wilayah Jakarta Utara. Aliran Kali Kamal Muara, Penjaringan, tertutup oleh busa tebal yang memutih. Kemunculan busa yang diduga kuat berasal dari limbah rumah tangga dan industri ini terlihat keluar saat Rumah Pompa Polder Kamal sedang beroperasi.
Kondisi air kali yang menghitam pekat ditambah hamparan busa yang beterbangan hingga ke pinggir tanggul tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga mematikan mata pencaharian warga setempat, khususnya para nelayan kerang hijau.
Salah satu nelayan, Anai, mengungkapkan keluhannya. Ia menyebut limbah busa ini membuat hasil tangkapan kerang hijau berkurang drastis. Kerang-kerang tersebut mati dan membusuk akibat air yang tercemar, sehingga tidak layak konsumsi dan tidak laku dijual.
"Ya kalau kena limbah memang mati total kerangnya. Kalau mati kan kerangnya enggak bisa dikonsumsi," ujar Anai di lokasi.
Kerugian Capai Jutaan Rupiah
Dampak ekonomi yang dirasakan nelayan sangat signifikan. Anai menuturkan, jika limbah terus mencemari kali, kerugian yang ditanggung nelayan bisa mencapai jutaan rupiah dalam sekali panen.
"Kalau mati ya rugi, bukan rugi lagi, luar biasa jutaan (rupiah) ruginya. Bukan satu dua yang mati, itu bisa ribuan (kerang), bukan ratusan lagi," keluhnya.
Para nelayan berharap pemerintah segera turun tangan mengatasi permasalahan limbah ini agar tidak terus-menerus mengalir hingga ke laut lepas. Jika tidak segera ditangani, mereka khawatir ekosistem laut akan rusak permanen dan mematikan sumber penghidupan mereka.
"Dari kali ini limbahnya. Jangan sampai ke laut karena imbasnya luar biasa," harap Anai.




