Tahun 2045 kelak, Indonesia genap berusia satu abad. Sebuah usia yang panjang, cukup panjang untuk melahirkan empat hingga lima generasi dengan cara pandang, luka sejarah, dan mimpi yang berbeda-beda. Pada titik itu, estafet kepemimpinan bangsa hampir pasti berada di tangan mereka yang hari ini disebut “generasi muda”- entah generasi Z, pasca-Z, atau nama apa pun yang kelak disematkan sejarah. Namun bagi saya, penamaan generasi tidak pernah sepenting watak dan nilai yang mereka bawa.
Idealisme dan pragmatisme adalah dua virus sosial yang sama-sama menular. Keduanya menyebar diam-diam, tanpa suara, tetapi membentuk arah hidup seseorang secara perlahan. Generasi sebelum kita pernah turun ke jalan, berdiri di depan gedung parlemen, mempertaruhkan nyawa demi meruntuhkan rezim yang mereka anggap menindas. Ironisnya, sebagian dari mereka kini justru menjadi bagian dari bangunan kekuasaan yang dahulu mereka gugat. Sejarah pun mengajukan pertanyaan yang sama kepada kita: apakah kita akan berbeda, atau hanya mengulang siklus yang sama dengan wajah yang lebih muda?
Pada masa muda, idealisme terasa seperti nyala api. Kita berdiri di sisi mereka yang tersisihkan oleh fakta sosial (rakyat kecil), mereka yang suaranya tenggelam oleh hiruk-pikuk kepentingan elite. Namun seiring bertambahnya usia, meluasnya pergaulan, dan semakin seringnya tangan kita berjabat dengan kekuasaan, api itu perlahan diuji. Bukan oleh teori, melainkan oleh kenyamanan, akses, dan gengsi sosial.
Tanpa kita sadari, rasa bangga pun bergeser. Dulu bangga berdiri bersama rakyat, kini bangga berdiri di samping pejabat. Dulu bangga memberi manfaat langsung, kini bangga mengabadikan momen bersama simbol kekuasaan. Padahal, kekuasaan itu sejatinya digaji oleh rakyat, diberi mandat oleh rakyat, dan seharusnya bekerja untuk rakyat. Pragmatisme mengajarkan kita bahwa kedekatan dengan elite lebih menjanjikan daripada keberpihakan pada mereka yang lemah. Di titik inilah idealisme tidak mati, ia hanya tergelincir, pelan tapi pasti.
Indonesia 2045 lalu ingin kita bawa ke arah mana? Apakah benar ia akan menjadi “Indonesia Emas”, atau hanya sekadar Indonesia yang lebih modern tetapi kehilangan nuraninya? Emas tanpa nilai moral hanyalah logam; berkilau, tetapi dingin dan tak bernyawa. Kemajuan ekonomi tanpa keberpihakan sosial hanya melahirkan jurang, bukan keadilan.
Yang lebih menyedihkan adalah ketika bekerja untuk rakyat kecil dianggap kurang prestisius, sementara berdekatan dengan lingkar elite, apa pun rekam jejak moral kekayaan dan kekuasaannya dianggap sebagai puncak keberhasilan. Ketika tangan yang membantu masyarakat dianggap biasa, tetapi tangan yang menjabat kekuasaan diperlakukan seolah pencapaian tertinggi. Di sanalah pragmatisme menjelma menjadi etos, dan idealisme direduksi menjadi nostalgia masa kuliah.
Namun, di tengah segala kegelisahan itu, saya masih memilih untuk membayangkan Indonesia 2045 sebagai ruang harapan. Sebuah negeri yang dipenuhi pemuda-pemuda yang bangga berdiri di samping mereka yang tertindas oleh zaman, bukan semata-mata berdiri di samping mereka yang dimuliakan oleh jabatan. Pemuda-pemuda yang mengukur keberhasilan bukan dari seberapa dekat mereka dengan elite, melainkan dari seberapa nyata manfaat yang mereka hadirkan bagi masyarakat.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling sering berfoto dengan kekuasaan, tetapi siapa yang tetap setia pada nurani ketika kekuasaan menguji arah berpihaknya. Dan mungkin, Indonesia Emas 2045 bukan tentang siapa yang paling tinggi berdiri di panggung negara, melainkan siapa yang paling rendah hati bersujud di hadapan penderitaan rakyatnya.




