Empat kali ledakan bom molotov terjadi di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa (3/2) sekitar pukul 10.30 WIB. Peristiwa itu memicu kepanikan siswa dan guru, hingga kegiatan belajar mengajar dihentikan dan seluruh siswa dipulangkan lebih awal.
Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya, Aiptu Ade, mengatakan ledakan terjadi saat para siswa tengah menjalani jam istirahat dan makan program MBG.
“Saat kejadian anak-anak panik dan terpaksa dipulangkan lebih awal. Sebelumnya jadwal pulang pukul 14.00 WIB,” ujarnya.
Akibat insiden tersebut, satu siswa mengalami luka ringan setelah menginjak serpihan paku dari material bangunan. Korban telah mendapat perawatan dan diperbolehkan pulang.
Pelaku Siswa Aktif Kelas IXWakapolres Kubu Raya, Kompol Andri Syahroni, mengungkapkan terduga pelaku merupakan siswa aktif kelas IX di sekolah tersebut.
“Pelaku adalah siswa sekolah itu sendiri. Saat ini masih dalam proses penyidikan,” katanya.
Pelaku telah diamankan aparat kepolisian. Penanganan kasus turut melibatkan Densus 88 Antiteror untuk pendalaman motif dan latar belakang pelaku.
Densus 88: Pelaku Korban Bullying dan Terpapar Konten KekerasanJuru bicara Densus 88, Kombes Pol Myandra Eka Wardhana, menyampaikan bahwa pelaku merupakan korban perundungan (bullying) di lingkungan sekolah dan diduga memiliki keinginan balas dendam terhadap teman-temannya.
“Yang bersangkutan merupakan korban perundungan dan memiliki keinginan melakukan balas dendam. Selain itu, diduga kuat menghadapi masalah keluarga,” ujar Myandra, Rabu (4/2).
Densus 88 juga mengungkap bahwa pelaku tergabung dalam True Crime Community (TCC) dan tertarik pada konten-konten kekerasan di ruang digital.
Komunitas tersebut telah dipantau aparat sejak akhir tahun lalu karena dinilai berpotensi memicu perilaku ekstrem pada remaja. TCC merupakan komunitas tanpa struktur resmi yang berkembang di berbagai platform digital seperti YouTube, TikTok, podcast, Reddit, dan X.
Barang Bukti dan Pendalaman LanjutanDari tangan pelaku, polisi menyita sejumlah barang bukti berbahaya, antara lain:
5 gas portable yang direkatkan petasan, paku, dan pisau
6 botol bom molotov berisi bahan bakar dan sumbu kain
1 bilah pisau
Kapolda Kalimantan Barat, Irjen Pol Pipit Rismanto, menambahkan bahwa hasil pendalaman awal menunjukkan pelaku juga mengalami tekanan akibat kondisi keluarga.
“Kakek dan ayahnya sedang sakit. Ini berdampak pada kondisi psikis anak, karena meski masih kecil, ia sudah menanggung beban permasalahan keluarga,” ujar Pipit.
Meski demikian, aktivitas pelaku di sekolah sebelumnya terpantau normal. Ia diketahui bercita-cita menjadi mekanik dan memiliki hobi bermain gim tembak-tembakan.
“Ini masih bersifat sementara. Kami terus mendalami untuk menentukan langkah penanganan yang tepat,” kata Pipit.




