PENTAS politik elektoral masih tiga tahun lagi, tapi "silat kata" yang menggambarkan dinamika menuju perhelatan itu telah mencuat.
Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia Ahmad Ali menyingkap kemungkinan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon presiden yang kuat.
"Kalau saya sih sederhana saja, emang ada calon pesiden (yang) lebih baik daripada Gibran?” ujar Ahmad Ali dalam podcast "Gaspol" Kompas.com, 22 Januari 2026.
Ia membandingkan dengan tokoh muda lain yang seusia. Disebutlah nama Agus Harimurti Yudhoyono dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin jauh lebih senior dibanding Gibran).
Jadi, menurut saya, itulah konteks diskursus yang dibuka oleh Ahmad Ali. Diskursus yang kemudian dibaca sebagai "Gibran bakal melawan Prabowo Subianto di Pilpres 2029".
Dalam dunia politik yang lebih cair dari es, pernyataan dari tokoh politik mengandung langkah, kemungkinan, serta gambaran (prediksi) politik konkret di masa mendatang.
Awalnya sekadar diskursus. Tes ombak itu bisa berakhir sebagai aspirasi, dapat pula membentur tembok dan kesepian di pasar politik yang kejam.
Diskursus Ali justru 'mati muda' karena diredam oleh internal partainya, PSI, yakni Joko Widodo---tokoh pensiunan presiden yang menjadi "panutan" dan kiblat politik PSI.
Baca juga: Di Balik Kalimat Berjuang Mati-matian Jokowi di Rakernas PSI 2026
Jokowi tak lain adalah ayah Gibran, pemain politik lihai dan sulit diduga dan ditebak--terutama ketika ia mengorbitkan Gibran menjadi duet Prabowo di Pilpres 2024.
Jokowi seolah mengoreksi Ali. Menurut dia, Prabowo-Gibran akan maju kembali pada Pilpres 2029.
"Kan sudah saya sampaikan Prabowo-Gibran dua periode," kata Jokowi seperti dikutip sejumlah media pada akhir Januari 2026.
Secara politik, langkah Jokowi membelokkan diskursus Gibran capres sangat tepat. Pilpres masih jauh, kartu-kartu politik harus dimasukkan dalam peti--kalaupun diskursus itu tak hendak dikubur, seyogianya dibicarakan dalam internal saja. Mungkin begitu pikiran Jokowi.
Di masa yang masih jauh dari Pilpres ini, Wapres Gibran lebih baik terlihat satu barisan dan satu langgam dengan presiden. Jokowi sangat paham itu.
Maka yang ia gulirkan justru antitesis dari Ahmad Ali: Prabowo-Gibran dua periode. Diskursus ini top. Punya pesan solid: Gibran loyal dan tak keluar dari barisan Presiden Prabowo.
Lagi pula jika diskursus ini mengkristal, Jokowi, Gibran dan PSI bakal menikmati keuntungan berlipat: Berkuasa sepuluh tahun.
Politik hakikatnya adalah medan kekuasaan---siasat dan taktik diadu demi kepentingan tertinggi, yakni berkuasa dan mengelola kekuasaan.
Namun, bukan demi kekuasaan itu sendiri, melainkan untuk kebaikan bersama, kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat.
Isyarat dari Jokowi itu mungkin saja merampas perhatian Prabowo. Namun, saat ini, diskursus itu pun akan disimpan di laci.




