Ngatijo (73) dengan cermat menata cetakan berisi adonan kue keranjang ke dalam tungku yang berada di atas kompor berbahan bakar minyak tanah di industri kue Bak Cang Kue Mangkuk di Kampung Tukangan, Danurejan, Yogyakarta, Rabu (4/2/2026). Meski telah menjadi juru kukus musiman di tempat itu sejak tahun 1985, pria dari Semanu, Gunungkidul, itu tetap berhati-hati ketika menata cetakan berisi campuran tepung ketan, gula, dan beberapa bahan baku kue keranjang lainnya tersebut agar ruang di dalam tungku logam itu dapat digunakan seefisien mungkin.
Pada bagian depan tempat usaha yang lokasinya tak jauh dari Stasiun Lempuyangan itu Siany Wati (77) tengah sibuk melayani Annisa. Annisa adalah seorang pembeli dari Jakarta yang menyempatkan singgah untuk membeli dua kilogram kue keranjang. Siany dan kakaknya, Sulistyowati (80), adalah penerus usaha yang dirintis pada tahun 1960-an oleh Siauw Boen Tyhaw, ayah mereka.
Setiap menjelang tahun baru China, Imlek, tempat usaha tersebut kembali sibuk memproduksi kue keranjang. Sebanyak enam pekerja dari Gunungkidul, termasuk Ngatijo yang sehari-hari berprofesi sebagai petani, didatangkan ke pabrik kue itu untuk memutar roda produksi.
Mereka memasak mulai pukul 06.00 hingga sekitar pukul 20.00. Kompor berbahan bakar minyak tanah tetap mereka pertahankan untuk meminimalkan risiko terputusnya proses pengukusan karena kehabisan bahan bakar.
”Hari ini saya hanya membuat kue keranjang 200 kilo(gram). Sekarang sunyeh (sepi), tidak seperti zaman dahulu. Syukur-syukur semua laku,” tutur Siany. Puncak keramaian masa penjualan pun kini hanya sekitar 10 hari sebelum Imlek. Sekitar dua dekade lalu, pembeli kue keranjang di tempat itu sudah membanjir sejak 21 hari sebelum hari raya itu.
Kue keranjang yang diproduksi di tempat itu dijual dengan harga Rp 55.000 per kilogram. Siany pun kini hanya membuat kue itu berdasarkan pesanan. Makanan yang juga dikenal dengan nama dodol cina atau Nian Gao tersebut merupakan salah satu kue khas perayaan Imlek yang digunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, tujuh hari menjelang tahun baru Imlek. Kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah Imlek).
Kue keranjang dalam wujud sesaji dipercayai ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku atau Cau Kun Kong agar membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga (Giok Hong Siang Te). Wujud bulat kue tersebut memiliki makna agar keluarga yang merayakan Imlek dapat terus bersatu, rukun, dan bulat tekadnya dalam menghadapi tahun mendatang.
Meski kuliner modern kian beragam dan menggerus popularitas panganan tradisional, keberadaan kue keranjang terus dipertahankan agar simbol doa kepada sang Raja Surga itu akan tetap selalu ada di setiap pengujung tahun. Kue keranjang pun menjadi sarana meraih rezeki ekstra bagi Ngatijo dan rekan-rekan seperantauannya ketika Imlek akan tiba.



