Ramalan Purbaya vs Ekonom soal Pertumbuhan Ekonomi yang Diumumkan BPS Hari Ini

katadata.co.id
10 jam lalu
Cover Berita

Badan Pusat Statistik bakal mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 pada hari ini, Kamis (5/2). Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat 2025 mencapai 5,4%, meski sepanjang tahun berada di bawah target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

“Mendekati 5,2%, ada kemungkinan di sekitar 5,1%," ujar Purbaya di Jakarta, pekan ini. 

Meski demikian, Purbaya optimistis pertumbuhan ekonomi bakal bergerak lebih pesat pada tahun ini dan mencapai 6%. Strateginya berfokus pada menggerakkan dua mesin pertumbuhan secara bersamaan, yaitu sektor pemerintah dan swasta.

Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya memperkirakan, pertumbhan ekonomi Indonesia pada sepanjang tahun lalu berada di kisaran 4,7% hingga 5,5%.

“Pertumbuhan kami perkirakan akan meningkat setelah tahun 2025 sekitar 4,7-5,5%, tahun 2026 ini kami perkirakan pertumbuhan ekonomi berkisar antara 4,9-5,7%, dengan titik tengah adalah 5,3%,” kata Perry ada pekan lalu.

Ramalan Ekonom Tak Seoptimistis Purbaya

Sejumlah ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal keempat 2025 lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun, proyeksi mereka tak seoptimistis Purbaya. 

Ekonom BCA David Sumual memproyeksi, pertumbuhan ekonomi pada kuartal terakhir tahun lalu mencapai 5,26%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun mencapai 5,07% secara tahunan. 

Proyeksi serupa juga disampaikan Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman. Ia memproyeksikan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tumbuh 5,07%. 

“Kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia akan meningkat dari 5,04% menjadi 5,25% secara tahunan pada kuartal keempat 2025," kata Faisal seperti dikutip dari Antara.

Faisal menjelaskan, proyeksi kinerja yang lebih kuat pada kuartal IV 2025 didorong oleh membaiknya permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB), sejalan dengan agenda pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman memberikan proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 lebih rendah, yakni sebesar 5%. 

“Prediksi 2025 angkanya tidak jauh beda dengan 2024. Konsumsi masih stagnan, belum ada dorongan yang signifikan,” ujar Rizal kepada Katadata.co.id, Senin (2/2).

Menurutnya, momentum belanja pemerintah yang biasanya meningkat pada akhir tahun belum optimal. Penyerapan anggaran di sejumlah kementerian dan pemerintah daerah masih di bawah target, bahkan belum mencapai 90%, antara lain akibat kebijakan efisiensi anggaran.

“Kondisi ini membuat dorongan dari sisi pengeluaran pemerintah melambat,” katanya.

 

Rizal mengatakan, realisasi pertumbuham ekonomi pada kuartal keempat harus mencapai 5,7% jika pemerintah ekonomi sepanjang 2025 sesuai target APBN sebesar 5,2%. Namun, angka tersebut dinilai berat dicapai.

“Kalau tidak sampai 5,7% di kuartak IV, kemungkinan besar pertumbuhan 2025 masih di angka 5%. Kalau pun lebih, paling 5,1% itu sudah bagus,” kata dia.

Pandangan yang lebih optimistis datang dari Peneliti Ekonomi CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet. Ia menilai sejumlah penopang ekonomi masih bekerja cukup baik, terutama investasi yang terdorong program hilirisasi pemerintah. 

Selain itu, konsumsi rumah tangga meski tertahan masih relatif stabil di kisaran 4,8–4,9%. Stabilitas konsumsi ini dinilai penting karena menjadi kontributor terbesar terhadap PDB. Belanja pemerintah juga mulai pulih pada semester kedua setelah sempat terkontraksi di awal tahun.

“Dengan pola belanja yang biasanya menumpuk di akhir tahun dan adanya spemerintah, kuartal IV berpotensi lebih kuat,” ujar Rendy.

CORE memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal IV bisa mencapai 5,2–5,4% secara tahunan. Dengan asumsi tersebut, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 diproyeksikan berada di kisaran 5,3%.

Meski demikian, Rendy mengingatkan ruang akselerasi tetap terbatas. Ia menilai investasi kemungkinan tidak setinggi dua kuartal sebelumnya karena kapasitas produksi industri mulai mendekati puncak, sementara konsumsi kelas menengah bawah masih tertahan.

Sementara itu, Dana Moneter International atau IMF dalam proyeksi terbarunya pada Januari 2026 memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun lalu hanya mencapai 5% dan diproyeksi meningkat menjadi 5,1% pada 2026.

 

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Begini Cara Beli Tiket Transjakarta Lewat GoPay
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mengulik iCAR V23, SUV Listrik Retro-Modern Bisa Diajak Off Road!
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Bareskrim Bongkar Peredaran Obat Aborsi Ilegal di Bogor, Modus Paket Berisi Obat Lambung
• 6 jam lalukompas.com
thumb
DPR minta BPJS segera buat mekanisme darurat aktivasi ulang JKN PBI
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Ucapkan Sumpah di Hadapan Prabowo Presiden, Adies Kadir Sah Jadi Hakim Konstitusi
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.