Waspada Orang Terdekat Tiba-Tiba Menyendiri, Selamatkan Sebelum Terlambat

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Faktor ekonomi dalam peristiwa bunuh diri anak di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur tidak berdiri sendiri. Tragedi ini membentuk pola berulang ketika pelaku melewati fase penentuan hidupnya dalam kesendirian seringkali tak diketahui orang terdekat. 

Bunuh diri seorang anak di Ngada, sebuah kabupaten di Pulau Flores pada Kamis (29/1/2026) mengguncang perhatian publik nasional.

Korban nekat bunuh diri setelah permintaan uang untuk membeli sebuah buku dan pena tak dikabulkan ibunya. Permintaan itu disampaikan korban kepada ibunya sehari sebelum peristiwa naas itu. 

Ibunya yang merupakan orangtua tunggal dengan lima anak itu tak dapat memenuhi permintaan korban. Korban selama ini dititipkan dan diasuh neneknya. 

Tanda perubahan sikap korban sebenarnya sudah terlihat tiga jam sebelum peristiwa itu. Dua tetangganya melihat korban duduk termenung di bale-bale dekat pondok milik neneknya. Wajahnya tampak murung dan hari itu ia diketahui tak ke sekolah. 

Sekitar pukul 11.00 WIB, tetangga yang sama hendak pergi mengikat kerbau di sekitar pondok tersebut. Dari kejauhan, mereka melihat korban sudah bunuh diri. 

Kini, korban telah pergi meninggalkan ibu dan empat saudaranya. Tiga jam kesendiriannya sebelum mengambil tindakan nekat itu luput dari perhatian siapa pun. 

Pola serupa

Pola yang sama terulang dalam beberapa kasus bunuh diri di sejumlah daerah di Indonesia.  Seperti kasus bunuh diri ibu dan anaknya di Desa Tanimulya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Warga menemukan dua kerangka manusia di sebuah rumah pada Juli 2024. Dua kerangka ini merupakan bagian tubuh dari Elia Imanuel Putra (24) dan ibunya, Iguh Indah Hayati (55).

Iguh dan anaknya mengakhiri hidup dengan mengonsumsi zat beracun karena depresi berat ditinggalkan suami sebagai tulang punggung keluarga. 

Baca JugaBunuh Diri dan Gangguan Mental karena AI Meningkat, Tujuh Gugatan Hantam OpenAI
Baca JugaBunuh Diri pada Anak, Krisis Kesehatan Mental yang Terabaikan
Baca JugaBunuh Diri pada Anak, Alarm Sunyi Saat Tak Mampu Ungkapkan Keputusasaan

Sebelum ditemukan telah meninggal, Iguh sempat berpamitan kepada tetangganya pada tahun 2019 untuk mencari pekerjaan di Sumedang. Sejak saat itu, keduanya hilang bak ditelan bumi. 

Warga di kawasan pemukiman padat itu mengira keduanya telah pindah rumah. Iguh yang selama aktif bersosialisasi dengan tetangganya tiba-tiba tak terlihat lagi.

Hal serupa dilakukan EN (34), warga Kampung Cae, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, pada September 2025. EN disebut membunuh kedua anaknya sebelum bunuh diri. Ia diduga bunuh diri karena suaminya kecanduan judi online dan menanggung utang besar.

Sebelum mengakhiri hidupnya, EN selama seminggu hanya berada di rumahnya. Dia tidak bersosialisasi sama sekali dengan tetangganya. 

Sikap ini berbeda drastis dengan EN selama ini dikenal warga sebagai pribadi yang ceria. Dia tidak tertutup. Buktinya, EN aktif di posyandu, pengajian, dan kerja bakti.

Keresahan EN ini gagal ditangkap warga sekitarnya. Padahal, rumah antarwarga di sana berdempetan. EN adalah satu dari sedikitnya 600 jiwa yang tinggal kampung padat penduduk itu. 

Bukan tunggal

Tiga kasus bunuh diri ini memiliki kesamaan pemicu awal yakni faktor ekonomi. Namun, faktor tersebut menurut psikolog dan akademisi sebenarnya bukan pemicu tunggal.

Menurut psikolog dan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Efnie Indrianie, faktor ekonomi bisa berdampak pada kondisi psikis namun bukanlah faktor tunggal. 

Korban yang tertekan secara psikis karena terdampak ekonomi akan mengambil langkah nekat. Hal ini rawan terjadi jika individu tersebut  tidak memiliki ruang aman untuk mengadu dan mendapatkan kenyamanan emosional. 

"Selama individu tersebut mendapatkan dukungan, ruang aman dan rasa dilindungi, tindakan ekstrem ini seharusnya bisa dicegah," ucap Efnie. 

Sementara Dosen Fakultas Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia, Sri Maslihah berpendapat, masalah ekonomi merupakan salah satu faktor risiko yang merupakan kondisi pemicu munculnya perilaku bermasalah pada Individu. 

Khususnya dalam kasus anak bunuh diri, Sri menilai kemiskinan seringkali membuat orangtua stres. Hal ini berpengaruh pada pola pengasuhan anak. 

Dalam situasi ini, anak bisa mengalami deprivasi materi dan merasa kekurangan di banding teman-temannya. Anak usia dini juga mengalami keterbatasan memahami situasi ekonomi keluarganya.

"Ketidakmampuan orangtua sering disalahartikan sebagai sikap pelit. Hal ini terjadi karena komunikasi yang tidak berjalan baik, " tuturnya. 

Menurutnya, fenomena bunuh diri pada anak yang terus terjadi harus ditangani dari  berbagai level, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. 

Sekolah harus memiliki sistem deteksi dini untuk mengenali anak-anak yang beresiko terutama kesulitan ekonomi dan mengalami perundungan. Bantuan di sekolah idealnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan anak seperti buku dan alat tulis. 

Baca JugaSurat Lusuh Ibu dari Banjaran, Alarm Lemahnya Dukungan Sosial
Baca JugaTinggalkan Surat untuk Suami, Perempuan di Bangkalan Meninggal Diduga Bunuh Diri
Baca JugaKenapa Pelaku Bunuh Diri Meninggalkan Pesan yang Ditulis Tangan?

"Peran guru konseling atau wali kelas dan masyarakat juga diperlukan tidak hanya anak itu mengalami masalah. Kunjungan ke rumah dan pendampingan secara personal merupakan langkah konkret untuk meringankan beban anak tersebut, " ujarnya. 

Tiga peristiwa ini setidaknya mengingatkan masyarakat waspada ketika orang terdekat tiba-tiba menarik diri dan memilih menyendiri. Janganlah penyesalan datang terlambat. 

Kepekaan keluarga, teman dan lingkungan sekitar terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun dapat menjadi langkah awal mencegah hilangnya nyawa.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
AHY Sebut Pertumbuhan Ekonomi Tumbuh Positif Dorong RI Naik Kelas
• 3 jam lalueranasional.com
thumb
Alasan Orang Cerdas Cenderung Merasa Kurang Pintar dan Suka Meremehkan Diri Sendiri Menurut Psikologi
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
Ramai Peserta PBI BJPS Berstatus Nonaktif Disebut Anggaran Masuk MBG, BPJS Kesehatan Buru-Buru Beri Tanggapan
• 5 jam lalunarasi.tv
thumb
Akademi Politik: Jalan Menguasai Otoritas Keuangan 
• 5 jam lalukompas.id
thumb
Bukan Skutik Biasa, SYM Formica 2026 Meluncur Dirancang Kuat Angkut Barang
• 44 menit lalueranasional.com
Berhasil disimpan.