Jakarta, tvOnenews.com - Kasus anak SD berinisial YBR di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang bunuh diri karena tak mampu membeli alat tulis menjadi sorotan publik.
Pada Kamis (29/1/2026) lalu, anak kelas IV SD ini ditemukan tewas dengan cara gantung diri di pohon cengkeh. Saat ditemukan, dia mengenakan baju olahraga berwarna merah.
Di tempat kejadian perkara (TKP), ditemukan juga sebuah surat yang dialamatkan untuk ibunya.
Dalam surat itu, anak 10 tahun itu meminta ibunya untuk tidak bersedih dan tidak perlu mencarinya.
Dia juga menggambar sosok anak laki-laki yang sedang menangis di selembar kertas itu.
Kadisdik Ngada Elisius Kletus Watungadha menyebut investigasi mendalam tentang peristiwa memilukan ini sudah dilakukan oleh pihaknya mulai dari lingkup keluarga hingga sekolah korban.
Diketahui selama ini YBR tinggal bersama neneknya di sebuah pondok bambu sederhana.
Ibu dan ayah YBR memiliki lima orang anak. YBR tinggal terpisah dengan ibunya, sedangkan ayahnya pergi merantau ke Kalimantan dan tak kunjung kembali.
Berdasarkan hasil investigasinya, Elisius menyebut YBR menghampiri ibunya dan meminta untuk dibelikan buku satu minggu sebelum meninggal dunia.
“Ibunya ditinggal suami. Belum punya uang, kasih uang ke anak buat beli buku,” ujarnya saat diwawancarai tvOne, Rabu (5/2/2026).
Sementara itu, saat menemui kepala sekolah dan guru tempat YBR belajar, Elisius mendapatkan informasi bahwa YBR merupakan anak yang ceria.
“Dalam diskusi itu saya tanya bagaimana figur anak di sekolah. Info yang saya dapat anaknya supel, ceria, suka bergaul. Kalau bawa bekal bentuknya ubi-ubian,” kata dia.
Terpisah, Guru SDN Rutojawa, Kabupaten Ngada, NTT sekaligus Wali Kelas YBR (10) Bonivasius Snae mengatakan YBR merupakan anak yang pintar dan jujur.
“Kalau ke seharian korban, anak ini selalu ceria. Kalau di kelas juga anaknya termasuk pintar, jujur dan selalu bermain bersama teman-teman,” ujar Bonivasius saat diwawancarai tvOne di acara Pagi-Pagi Seru.
Bonivasius lantas menceritakan kondisi kelasnya. Di kelasnya hanya ada delapan orang siswa yang terdiri dari lima orang laki-laki dan tiga orang perempuan.


