Kawasan Condet, Jakarta Timur, dikenal sebagai salah satu sentra usaha refill parfum atau isi ulang parfum. Di wilayah ini, wewangian dengan harga terjangkau diracik langsung di toko, dengan beberapa aroma yang kerap menyerupai parfum-parfum bermerek ternama.
Di antara deretan kios parfum isi ulang, Evi Parfum menjadi salah satu yang mencuri perhatian. Ukuran tokonya terlihat lebih luas dibandingkan toko lainnya. Berdasarkan pantauan kumparan pada Selasa (27/1), toko tersebut sudah ramai oleh pelanggan yang silih berganti mencoba aroma parfum sebelum memutuskan membeli.
Jafar, salah satu pegawai, menjelaskan harga parfum refill di toko tersebut relatif ramah di kantong. Untuk ukuran standar dengan racikan satu banding satu, parfum dijual seharga sekitar Rp 30.000 per botol. Sementara racikan dua banding satu dibanderol sedikit lebih tinggi, yakni sekitar Rp 35.000 per botol.
“Rata-rata sih kebanyakan tuh (yang dijual varian) 1.500 (mili). (Ada) 1.800 (jenis cairan parfum) yang dijual dari berbagai merek,” kata Jafar kepada kumparan di Toko Evi Parfum, Condet, Jakarta Timur, Selasa (27/1).
Menurut Jafar, parfum dari merek internasional masih menjadi pilihan utama pelanggan. Merek-merek seperti Chanel dan Dior paling banyak diminati, baik oleh konsumen perempuan maupun laki-laki. Meski begitu, permintaan parfum untuk perempuan tercatat lebih dominan. Beberapa varian juga bersifat uniseks sehingga dapat digunakan oleh siapa saja.
“Dior itu cewek-cowok. Kalau cowok (biasanya) kan (varian) Sauvage. Kalau cewek yang Blooming Bouquet,” terang Jafar.
Selain merek luar negeri, Evi Parfum juga menyediakan sejumlah parfum dari merek lokal. Namun, jumlahnya masih kalah dibandingkan parfum internasional. Beberapa merek lokal yang tersedia di antaranya Mykonos, HMNS, dan Jayrose. Jafar menuturkan sebagian besar cairan parfum diperoleh dari pemasok luar negeri, khususnya dari India dan Swiss, yang selama ini menjadi sumber pasokan utama.
“Tergantung kalau misalkan kita habis terus order, tahu-tahu dateng. Kadang harus nunggu juga gitu, lama. Kita kan quantity-nya banyak, kadang (pasokan) yang masuk itu cuman tiga bulan,” tutur Jafar.
Dari sisi kunjungan, toko refill parfum ini cenderung ramai pada akhir pekan. Selain akhir pekan para pelanggan juga tetap berdatangan. Keramaian biasanya meningkat signifikan pada momen khusus seperti bulan Ramadan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
“Kalau lebaran lebih-lebih. Bisa tiga kali lipat (penjualannya). Ramai banget, mungkin karena kita biasanya abis lebaran tutup, jadi mungkin pada nyetok mereka,” ujar Jafar.
Jafar telah bekerja di Evi Parfum sejak 2010. Jafar mengungkapkan perjalanan usaha parfum refill tersebut telah beroperasi sejak awal 2000-an. Pada awal berdiri, toko hanya dijalankan oleh tiga orang pekerja. Lalu, meningkatnya permintaan membuat jumlah pegawai terus bertambah.
“Yang kerja di sini sekarang 20 (pegawai). Itu terbanyak. Dulu cuman dari tiga orang,” ungkap Jafar.
Kini, Evi Parfum telah memiliki sekitar empat cabang yang seluruhnya masih berada di kawasan Condet. Namun, lokasinya tersebar dan tidak berdekatan satu sama lain. Beberapa cabang tergolong baru dan mulai beroperasi dalam beberapa tahun terakhir. “(Cabang yang baru) mungkin ada tiga tahun, setahun (sudah berdiri),” sebut Jafar.




