Penulis: Fityan
TVRINews - Jakarta
Pemerintah Indonesia mempercepat optimalisasi sumur idle dan teknologi canggih guna mengamankan ketahanan energi nasional.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan bahwa minyak bumi akan tetap menjadi pilar utama dalam bauran energi global setidaknya hingga pertengahan abad ini.
Meskipun transisi energi hijau terus digalakkan, kebutuhan akan hidrokarbon diperkirakan tidak akan surut secara signifikan dalam tiga dekade mendatang.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas), Laode Sulaeman, mengungkapkan bahwa berdasarkan proyeksi data global, pangsa pasar minyak bumi masih akan mendominasi penggunaan energi dunia hingga 50 persen pada tahun 2050.
(Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas), Laode Sulaeman (dua dari kiri) pada forum Energy Outlook 2026, Kamis 5 Februari 2026)
"Ramalan ExxonMobil untuk tahun 2050 menunjukkan energi terbarukan berada di angka 25 persen, namun minyak tetap memegang porsi 50 persen. Sementara data dari lembaga energi lain memprediksi angka di kisaran 45 hingga 55 persen," ujar Laode dalam forum Energy Outlook 2026 di Jakarta, Kamis 5 Februari 2026.
Strategi Peningkatan Produksi Nasional
Menanggapi dinamika pasar global tersebut, Indonesia berkomitmen untuk memperkuat kedaulatan energi melalui peningkatan produksi domestik.
Keberhasilan ini tercermin pada capaian tahun 2025, di mana realisasi produksi minyak siap jual (lifting) nasional berhasil menyentuh angka 605.300 barel per hari, sesuai dengan target APBN.
Namun, pemerintah menyadari bahwa mempertahankan dan meningkatkan laju produksi memerlukan langkah-langkah strategis yang lebih agresif.
Laode menjelaskan bahwa fokus utama saat ini adalah melakukan modernisasi pada lapangan minyak eksisting melalui optimalisasi teknologi.
Reaktivasi Sumur dan Eksplorasi Timur
Selain intervensi teknologi, pemerintah tengah memacu program reaktivasi sumur-sumur yang tidak aktif (idle).
Hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 787 sumur telah berhasil dipetakan untuk diaktifkan kembali dari total potensi mencapai 6.300 sumur di seluruh Indonesia.
"Meskipun kita sudah mencapai 605 ribu barel, diperlukan upaya berkelanjutan untuk menaikkan laju produksi jangka panjang. Strategi kami bertumpu pada tiga pilar: penguatan tata kelola, pengawasan yang ketat, serta optimalisasi lapangan," tegas Laode.
Langkah strategis lainnya mencakup percepatan eksplorasi di wilayah Indonesia Timur. Pemerintah juga berencana menawarkan 110 wilayah kerja migas baru yang dinilai memiliki potensi cadangan menjanjikan untuk menarik minat investor global dan memperkuat cadangan nasional di masa depan.
Editor: Redaksi TVRINews


