Pelajaran dari Jepang Membangun Ekosistem Kendaraan Ramah Lingkungan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Selain aspek keandalan produk, Jepang sebagai inovator industri otomotif dunia juga mempertimbangkan aspek keamanan nasional dalam memproduksi kendaraan. Mobil atau motor bertenaga listrik bisa lumpuh apabila terjadi gangguan suplai energi. Peristiwa gangguan jaringan listrik kereta Jalur Yamanote di Tokyo pada pertengahan Januari 2026 menjadi peringatan nyata.

Warga kawasan metropolitan Tokyo terganggu rutinitasnya pada pertengahan Januari lalu, tepatnya pada Jumat (16/1/2026) pagi. Layanan perjalanan kereta rel listrik (KRL) jalur Yamanote mengalami gangguan sejak pukul 03.50 waktu setempat. Padahal, jalur tersebut merupakan salah satu rute paling vital. Jalur Yamanote mengitari kota Tokyo yang memungkinkan penumpang transit lebih cepat mencapai titik tujuan mereka.

Akibatnya, para pekerja, pelajar, dan masyarakat Tokyo yang rutin berkomuter setiap pagi terhambat perjalanannya. Diberitakan sekitar 670 ribu orang terdampak karena 230 perjalanan kereta dibatalkan selama listrik di jalur tersebut padam.

Kendala teknis berhasil diatasi dan kereta dapat dijalankan mulai pukul 13.00 waktu setempat atau pukul 11.00 WIB. Gangguan listrik terjadi lebih dari 8 jam sejak dini hari dan dapat berjalan normal setelah tengah hari. Penyebab peristiwa ini adalah adanya kesalahan dalam menjalankan prosedur kerja yang dilakukan oleh teknisi di malam hari sebelum kejadian.

Mandeknya layanan KRL Jalur Yamanote mengingatkan bahwa sumber energi dalam jaringan seperti listrik terbilang rentan apabila dibandingkan dengan sumber energi yang tersimpan pada kendaraan. Kejadian tersebut dapat dikaitkan dengan konsep Kokudo Kyojinka atau National Resilience.

Salah satu penjabaran riil konsep Kokudo Kyojinka dalam ranah otomotif Jepang diungkapkan oleh Akio Toyoda, CEO Toyota periode 2009–2023. Dalam tayangan Media Briefing on Battery EV Strategies yang dipublikasikan pada Desember 2021, Akio menyatakan bahwa target yang ingin dicapai Toyota adalah menciptakan kendaraan rendah karbon. Lebih jauh lagi, tidak hanya cukup rendah karbon, tetapi juga perlu mengejar ketercapaian teknologi carbon-neutral vehicles alias kendaraan tanpa karbon sama sekali.

Menurut pandangan Akio, mobil listrik berbasis baterai bukan solusi yang berkelanjutan. Persoalannya bukanlah perbandingan antara mobil listrik dan mobil mesin pembakaran dalam. Namun, menekankan pada bagaimana membangun mesin pembakaran dalam dengan bahan bakar rendah karbon atau bahkan nol karbon.

Kendaraan ramah lingkungan tidak hanya kendaraan listrik

Pandangan Akio dalam hal transportasi ramah lingkungan ala Jepang sejalan dengan strategi pabrikan otomotif selain Toyota. Mereka yang menapaki jalan yang sama antara lain Daihatsu, Honda, Mazda, Mitsubishi, Nissan, Subaru, serta Suzuki.

Merujuk data penjualan mobil di Jepang dari Japan Automobile Dealers Association (JADA), beberapa pabrikan sudah lebih banyak menjual mobil hibrida daripada mobil dengan bahan bakar bensin. Misalnya saja pabrikan Honda, di mana penjualan mobilnya sepanjang 2025 didominasi oleh jenis hybrid electric vehicle (HEV).

Sekitar 225.888 unit mobil HEV Honda berhasil terjual di pasar domestiknya. Angka tersebut lebih besar tiga kali lipat dibandingkan dengan penjualan mobil bertenaga bensin sebanyak 77.499 unit.

Situasi serupa juga terjadi pada jenama Toyota, sebagai penguasa pangsa pasar mobil domestik Jepang. Tercatat sepanjang tahun 2025 sebanyak 852.015 unit mobil HEV diserap oleh pasar lokal. Sementara itu, penjualan mobil bermesin BBM-nya sebanyak 416.051 unit.

Apabila ditilik secara makro, terlihat bahwa bauran energi penggerak mobil baru yang terjual di Jepang didominasi oleh jenis hibrida. Perhitungan Litbang Kompas berdasarkan data penjualan mobil dari JADA menunjukkan bahwa sejak tahun 2021 hingga 2025 proporsi penjualan mobil hibrida semakin dominan di Jepang.

Pad tahun 2021 sebesar 55 persen penjualan mobil baru disumbang oleh mobil bermesin BBM (bahan bakar minyak), sedangkan mobil hibrida menyumbang 44 persen dan mobil listrik hanya 1 persen.

Penjualan mobil hibrida itu terus tumbuh setiap tahun, hingga pada tahun 2025 penjualan mobil hibrida meraup 62 persen pangsa pasar. Penjualan mobil bertenaga BBM tercatat sebanyak 36 persen dan mobil listrik 2 persen.

Sesuai dengan arah kebijakan pemerintah

Berkaca dari data JADA, aksi dari industri dan respons pasar otomotif Jepang sudah sejalan dengan program yang dicanangkan Pemerintah Jepang. Program yang menargetkan bahwa pada tahun 2035 mobil baru yang terjual sudah harus 100 persen merupakan kendaraan ramah lingkungan.

Kendaraan ramah lingkungan yang dianggap memiliki keberlanjutan paling tinggi adalah fuel cell vehichle (FCV). Mobil dengan FCV bermesin pembakaran dalam dengan bahan bakar hidrogen.

FCV dianggap sebagai kendaraan paling ramah lingkungan karena dua faktor. Pertama, emisi yang dihasilkan dari pembakaran hidrogen hanya berupa uap air. Kedua, tidak memerlukan material mineral dan sistem produksi yang kompleks serta menghabiskan banyak energi seperti halnya untuk memproduksi baterai kendaraan. Belum lagi mengenai persoalan penanganan limbah berbahaya dari baterai yang sudah habis masa pakainya.

Faktor produksi baterai juga menjadi pertimbangan yang penting bagi Jepang. Pasalnya, beberapa material penting bahan untuk memproduksi baterai harus didatangkan dari negara lain. Beberapa di antaranya didatangkan dari China. Ketegangan geopolitik antarnegara dapat memengaruhi keberlanjutan produksi baterai untuk kendaraan listrik.

Poin lain yang sangat dipertimbangkan adalah risiko kendala pasokan listrik yang disebabkan berbagai faktor. Mulai dari gangguan suplai energi dari pembangkit listrik hingga akibat serangan fisik ataupun serangan siber dari pihak asing. Apabila kendaraan ramah lingkungan sepenuhnya diarahkan pada kendaraan bertenaga baterai, hal ini menjadi celah rawan yang mengancam keamanan nasional Jepang.

Meskipun demikian, pemerintah Jepang juga memandang tetap pentingnya adopsi mobil listrik secara cepat. Angka penjualan kendaraan elektrik ini masih di kisaran 2 persen pada tahun lalu. Merespons situasi tersebut, pemerintah Jepang berencana meningkatkan nilai subsidi pembelian mobil listrik.

Hingga awal tahun 2026, nilai subsidi yang diberikan kepada pembeli mobil listrik sebesar 900.000 yen atau setara dengan Rp 97 juta. Muncul wacana untuk meningkatkan subsidi di tahun anggaran 2026 menjadi 1,3 juta yen atau sekitar Rp 140 juta. Sementara itu, subsidi untuk mobil hibrida yang saat ini senilai Rp 65 juta, rencananya akan ditambah menjadi Rp 91 juta.

Dilihat dari besaran nilai subsidinya, pemerintah Jepang lebih mendorong masyarakat supaya membeli mobil bertenaga baterai. Sementara itu, tidak dikesampingkan pula dukungan untuk calon pembeli mobil hibrida karena masih dalam kategori mobil ramah lingkungan.

Dengan paket kebijakan subsidi serta situasi industri dan pasar otomotif Jepang terkini, target tahun 2035 bahwa semua mobil baru merupakan kendaraan ramah lingkungan sepertinya cukup realistis dapat dicapai. Dalam waktu lima tahun, sejak 2021 hingga 2025, penjualan mobil BBM dapat ditekan dari 55 persen menjadi 36 persen. Sepuluh tahun ke depan besar kemungkinan sudah dapat ditekan seminim mungkin. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Purbaya Bingung: Banyak Perusahaan Asing di RI Tak Bayar Pajak!
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pemprov DKI Pastikan Jarak Tempuh Transjabodetabek Trayek Blok M-Bandara Soetta Cuma 5-10 Menit dengan Tarif Rp3.500
• 41 menit laluwartaekonomi.co.id
thumb
Menkeu Purbaya Yudhi Akan Rotasi 50 Pegawai Pajak, sang Menteri Beri Respons soal OTT KPK yang Menyasar Anak Buahnya
• 41 menit lalugrid.id
thumb
Menperin Bidik Penjualan Mobil 2026 Capai 850 Ribu Unit
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Mensesneg Sebut Kepala Desa Harus Aktif Pantau Kelompok Rentan
• 6 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.