Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menanggapi soal seorang nenek di Maluku yang hidup terasing bersama anak dan cucunya di hutan selama bertahun-tahun.
Ia menegaskan, bantuan lansia hingga program Sekolah Rakyat (SR) dapat dimanfaatkan untuk warga rentan tersebut dan harus teridentifikasi oleh struktur pemerintahan hingga tingkat desa.
“Justru itu yang salah satu yang kami diskusikan pada saat saya, kami berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri (Tito Karnavian) dan Menteri Sosial (Saifullah Yusuf) untuk kemudian yang tadi saya sampaikan mengenai kepekaan dan kepedulian sosial itu harus ditindaklanjuti dengan langkah konkret,” kata Pras di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta Pusat, Kamis (5/2).
Ia menekankan pentingnya peran aparatur pemerintah dalam memetakan kondisi warga agar kasus serupa tidak kembali luput dari perhatian negara.
“Misalnya kepada seluruh jajaran sampai ke tingkat desa ya, bagaimana untuk mengidentifikasi seluruh penduduk atau masyarakat di desanya masing-masing, di RW-nya masing-masing, di RT-nya masing-masing. Untuk memastikan seperti yang tadi di Maluku itu bisa termonitor oleh struktur pemerintah kita yang paling ujung,” ujarnya.
Menurut Pras, setelah warga terdata, pemerintah sebenarnya memiliki berbagai instrumen untuk membantu kelompok rentan, termasuk lansia yang hidup dalam kondisi ekstrem.
“Nah ketika sudah bisa termonitor, maka di situ ada beberapa instrumen yang sesungguhnya sangat memungkinkan untuk kita bisa membantu saudara-saudara kita yang dalam kondisi yang seperti itu,” kata Pras.
Ia menyebutkan, Kementerian Sosial memiliki program khusus bagi lansia yang bahkan diberikan secara langsung ke rumah penerima.
“Misalnya program di Kementerian Sosial, ada program sosial yang seperti lansia, itu khusus untuk kepada lansia, itu juga ada. Yang itu bahkan sampai diantar ke rumahnya masing-masing itu setiap hari,” ujarnya.
Selain bantuan bagi lansia, Prasetyo menegaskan pemerintah juga menyiapkan solusi pendidikan bagi anak-anak yang tidak mengenyam sekolah formal akibat kondisi sosial tertentu.
“Kemudian kalau bersama dengan anak-anaknya itu, yang memang misalnya kondisinya karena oleh sebab tertentu tidak dapat mengenyam pendidikan atau tidak bersekolah, nah itulah kemudian pemerintah juga sekarang punya yang namanya program sekolah rakyat,” kata Pras.
Ia membuka kemungkinan anak-anak dalam kasus tersebut dapat diarahkan ke program tersebut.
“Barangkali bisa masuk ke program sekolah rakyat ini,” ujarnya.
Pras menegaskan, kunci utama agar intervensi sosial berjalan efektif adalah memastikan seluruh warga rentan terdata sehingga akar persoalan dapat diselesaikan secara menyeluruh.
“Jadi memang ya harus dimulai dari kita harus memastikan bahwa semua teridentifikasi supaya kita bisa selesaikan akar masalah dan carikan solusinya,” kata Pras.
Sebelumnya, kisah pilu datang dari Saparua, Maluku Tengah, Maluku. Di Desa Haria, Kecamatan Saparua, tinggalah Nenek Fransina Tamaela (69) yang hidup terasing di tengah hutan.
Ia tinggal di sebuah gubuk beralas tanah, dan hanya ditutupi daun-daun rumbia untuk tembok dan atap sejak 2016 atau 10 tahun lalu. Ia juga menggunakan sejumlah terpal untuk menutup sisi lain dari gubuk itu.
Fransina hidup tanpa listrik, air bersih, serta tanpa jaminan kesehatan resmi pemerintah. Ia hidup bersama dua anak perempuanya yang mengalami keterbelakangan mental serta tiga cucu yang masih kecil, dua di antaranya duduk di kelas 1 dan 4 SD.
Kondisi Fransina baru terungkap setelah pemerintah kecamatan bersama petugas kesehatan mendatangi langsung tempat tinggalnya pada Rabu (4/2). Tempat tinggal Fransina itu berjarak 2 kilometer dari pemukiman terdekat, yakni Desa Haria yang hanya bisa dijangkau dengan jalan kaki.




