Telepon Darurat Xi Jinping: Janjikan Hadiah ke Trump, Militer Tiongkok Bergolak

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Di tengah tekanan politik dan militer yang kian menyesakkan, Xi Jinping secara mendadak melakukan manuver diplomatik tingkat tinggi. Pada akhir Januari 2026, pemimpin Tiongkok itu lebih dahulu melakukan panggilan video dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, lalu disusul panggilan telepon langsung dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Rangkaian komunikasi ini langsung memicu perhatian internasional. Waktunya dinilai sangat sensitif, karena berlangsung ketika Xi sedang menghadapi dua krisis besar sekaligus: tekanan geopolitik eksternal dan gejolak kekuasaan internal yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Xinhua Membuka Tabir: Taiwan Jadi Pokok Utama

Kantor berita resmi Tiongkok, Xinhua, menjadi media pertama yang mengungkap detail percakapan Xi–Trump. Dalam laporannya, Xinhua menegaskan bahwa Xi secara khusus menyampaikan satu pesan utama: isu Taiwan adalah kepentingan paling sensitif dan paling penting dalam hubungan Tiongkok–Amerika Serikat.

Xi menuntut agar Washington menangani penjualan senjata ke Taiwan dengan “sangat hati-hati”, sebuah peringatan yang muncul di tengah spekulasi luas tentang kondisi militer Tiongkok pasca-gejolak internal.

Versi Trump: Telepon Panjang, Daftar Panjang, Nada Sangat Positif

Tak lama berselang, Trump menuliskan pernyataannya di media sosial. Dia menyebut percakapan dengan Xi sebagai “sangat baik dan berlangsung lama”, mencakup beragam topik strategis:

Trump juga mengungkap rencana kunjungannya ke Tiongkok pada April 2026, serta menyatakan antusiasmenya secara terbuka.

Lebih jauh, Trump membeberkan komitmen ekonomi yang disebut berasal dari pihak Xi, antara lain:

Trump menutup pernyataannya dengan kesimpulan optimistis: hubungan AS–Tiongkok, termasuk hubungan pribadinya dengan Xi, berada dalam kondisi “sangat baik”, dan diyakini akan menghasilkan banyak capaian positif dalam tiga tahun ke depan.

“Daftar Hadiah” Xi dan Kecurigaan Dunia

Bagi banyak pengamat, pola ini sangat tidak lazim. Xi tampak menyodorkan “daftar hadiah” ekonomi yang menggiurkan—dari kedelai, energi, hingga teknologi inti—untuk menyenangkan Trump.

Pertanyaan pun mengemuka: apakah Xi, seorang politisi yang dikenal sangat kalkulatif, sedang memanfaatkan obsesi Trump pada perdagangan demi mengamankan tujuan strategis yang jauh lebih mendesak?

Tiga Fokus Utama Perhatian Dunia

Panggilan telepon Xi–Trump segera memusatkan perhatian global pada tiga isu besar:

  1. Perundingan nuklir AS–Iran yang diperkirakan segera dimulai. Dunia menunggu langkah Trump berikutnya—apakah perang besar di Timur Tengah sudah di ambang pintu.
  2. Krisis kendali militer Xi Jinping, terutama setelah penanganan terhadap Zhang Youxia, yang justru memicu perlawanan lunak di tubuh militer. Dengan Sidang Parlemen Nasional (Lianghui) dijadwalkan berlangsung Maret 2026, risiko politik Xi semakin besar.
  3. Motif di balik “hadiah besar” kepada Trump—apakah ini sekadar diplomasi dagang, atau sinyal darurat dari seorang pemimpin yang posisinya sedang goyah?

Putin Juga Diundang: Panggung Internasional untuk Xi

Tak hanya Trump. Setelah panggilan video Xi–Putin, Kremlin mengonfirmasi bahwa Putin menerima undangan resmi Xi dan dijadwalkan berkunjung ke Tiongkok pada paruh pertama 2026.

Artinya, dalam waktu relatif berdekatan, Xi berupaya menghadirkan dua pemimpin dunia paling berpengaruh ke Beijing.

Pakar isu Tiongkok, Tang Jingyuan, menilai langkah ini sebagai upaya Xi “melampaui permintaan Trump”. Menurutnya, tujuan inti Xi adalah memberi panggung internasional bagi dirinya sendiri, untuk menunjukkan bahwa ia masih memiliki dukungan global—sebuah kebutuhan mendesak di tengah tekanan internal yang semakin berat.

Isu Taiwan dan Militer yang Lumpuh

Xinhua menekankan bahwa Taiwan menjadi fokus utama Xi dalam pembicaraan dengan Trump. Namun, analisis internal menunjukkan paradoks besar: Xi justru tidak berada dalam posisi yang memungkinkan untuk berperang.

Zhang Youxia dan Liu Zhengli merupakan figur kunci perencanaan isu Taiwan. Setelah keduanya jatuh, yang terdampak bukan hanya individu, tetapi seluruh jaringan loyalis dan perwira inti di bawah mereka.

Dalam kondisi ini:

Kesimpulannya, perang di Selat Taiwan pada tahap ini hampir mustahil, bukan karena kurangnya niat, melainkan karena hilangnya kendali efektif atas militer.

Sidang Parlemen 4 Februari: Petir Menggelegar, Hujan Setetes

Pada 4 Februari 2026, Komite Tetap Parlemen Nasional Tiongkok ke-14 menggelar sidang darurat di Beijing, dipimpin Zhao Leji dan dihadiri sekitar 150 anggota.

Publik semula menduga sidang ini akan:

Namun hasilnya mengejutkan: nama Zhang dan Liu sama sekali tidak disentuh. Yang dicabut justru status beberapa anggota lain dari Shanghai, Shandong, dan Sichuan.

Banyak analis menilai, pada detik-detik terakhir muncul perlawanan besar yang tidak bisa ditekan, sehingga agenda sidang terpaksa “diturunkan levelnya”. Ini menjadi sinyal kuat bahwa upaya Xi membersihkan arena kekuasaan mengalami kegagalan serius.

Lebih mencolok lagi, selama lebih dari sepuluh hari setelah penangkapan Zhang, tidak ada satu pun sistem partai, pemerintahan, atau komando militer regional yang secara terbuka menyatakan dukungan penuh terhadap keputusan Xi.

Surat 25 Jenderal dan Titik Didih Militer

Di tengah ketidakpastian ini, beredar luas di internet sebuah surat terbuka yang diklaim ditandatangani 25 jenderal Tiongkok, menyebut 24 Januari 2026 sebagai “hari gelap”.

Surat tersebut:

Keaslian surat ini memang belum terverifikasi. Namun banyak pengamat menilai, benar atau palsunya surat itu bukan lagi inti persoalan. Yang jauh lebih penting adalah fakta bahwa narasi semacam ini bisa beredar luas, menandakan kemarahan internal telah melampaui rasa takut terhadap kekuasaan.

Kesimpulan: Telepon sebagai Sinyal Darurat

Rangkaian panggilan Xi kepada Trump dan Putin bukan sekadar diplomasi biasa. Ia mencerminkan seorang pemimpin yang sedang berpacu dengan waktu, berusaha mengamankan dukungan eksternal di saat fondasi internalnya retak.

Dalam konteks ini, telepon Xi bukan tanda kekuatan—melainkan sinyal darurat. Dan dunia kini menunggu:
apakah panggung internasional cukup untuk menutupi krisis di dalam Beijing, atau justru akan mempercepat babak baru dari gejolak kekuasaan Tiongkok.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jumpa Manchester City, Misi Balas Dendam dan Ambisi 33 Tahun Arsenal
• 23 menit lalumediaindonesia.com
thumb
KAI Logistik Optimalkan Kawasan Gudang Kalimas untuk Perkuat Rantai Logistik Terpadu
• 58 menit lalumediaapakabar.com
thumb
DKI Targetkan Penambahan 10.000 Armada Bus Transjakarta Hingga 2029 dengan Teknologi Listrik
• 1 jam lalunarasi.tv
thumb
AAJI Blak-blakan Cara Asuransi Jiwa Jaga Rasio Klaim Asuransi Kesehatan
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Putin-Xi Jinping Bahas Situasi di Kuba, Iran dan Venezuela Melalui Telepon
• 17 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.