Suatu pagi di grup WhatsApp keluarga, seorang ayah membagikan potongan video berdurasi 3 menit 55 detik. Isinya peringatan—disampaikan dengan nada cemas—tentang keadaan bangsa yang menurutnya kian tak menentu, dipicu oleh potongan konten lama yang kembali disebarkan dan diberi bingkai baru.
Ia menulis singkat: “Sekadar mengingatkan.” Beberapa menit kemudian, notifikasi berdenting. Ada yang menanggapi dengan emoji tertawa. Ada yang membalas singkat: “Hoaks, Pak.” Selebihnya diam. Sang ayah tak membalas lagi. Sejak hari itu, ia tetap ada di grup, tetapi lebih sering menjadi pembaca sunyi.
Adegan semacam ini bukan peristiwa langka. Ia berulang kali terjadi di banyak ruang domestik kita: grup keluarga, grup RT, grup pengajian, hingga linimasa Facebook, Instagram, dan TikTok. Media sosial membuat semua orang bisa hadir dan bersuara. Namun, tidak semua kehadiran dianggap pantas untuk didengar, terutama bagi generasi tua yang kini sering merasa hadir di ruang yang ramai, tetapi asing.
Sejumlah penelitian memberi konteks atas kegelisahan ini. Laporan Pew Research Center pada 2020—yang kemudian diperbarui pada 2023—menunjukkan bahwa kelompok usia lanjut lebih sering membagikan konten keliru, terutama yang bernuansa politik dan moral.
Riset dari Universitas Colorado Boulder menambahkan penjelasan penting: kerentanan ini bukan terutama soal rendahnya kecerdasan atau niat buruk, melainkan kebiasaan lama dalam memercayai informasi melalui relasi sosial, tokoh yang dianggap alim, atau figur yang berbicara dengan penuh keyakinan.
Media sosial bekerja dengan logika berbeda: potongan video, judul emosional, dan algoritma yang mempromosikan keterlibatan, bukan ketelitian. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan semakin memperkeruh keadaan, membuat batas antara informasi asli dan rekayasa kian sulit dikenali, terutama bagi generasi yang tidak tumbuh bersama teknologi ini.
Di Indonesia, temuan-temuan itu sering diterjemahkan secara kasar di ruang publik. Istilah seperti “emak-emak Facebook” berseliweran sebagai label ejekan bagi ibu-ibu tua yang aktif bermedia sosial. Ia dipakai untuk menertawakan, bukan untuk memahami.
Di balik istilah itu, tersembunyi kegagalan kita membaca persoalan secara lebih jernih. Alih-alih mendorong pendampingan lintas generasi, kita justru sibuk menertibkan mereka dengan cemooh.
Dari sini, ruang publik perlahan berubah menjadi ruang seleksi. Yang cepat dan lantang diberi panggung dan yang lambat serta ragu diminta menyingkir dengan sopan, seolah kebisingan adalah satu-satunya tanda partisipasi. Kehadiran yang semula ingin berpartisipasi berubah menjadi gangguan yang perlu dikoreksi.
Dalam konteks politik elektoral maupun percakapan sehari-hari, situasi ini menjadi lebih tajam. Pandangan generasi tua dianggap usang, emosional, atau mudah dimanipulasi, seolah pengalaman hidup puluhan tahun tiba-tiba tak lagi punya nilai.
Ruang Publik yang Terbuka, tapi SelektifDi titik inilah pemikiran Hannah Arendt terasa relevan. Dalam The Human Condition (1958)—yang ia tulis setelah menyaksikan kehancuran Eropa akibat totalitarianisme—Arendt menegaskan bahwa manusia hanya sungguh-sungguh menjadi manusia ketika ia tampil dan diakui di ruang publik. Pengakuan itu bukan soal sepakat atau tidak sepakat, melainkan pengakuan bahwa seseorang layak didengar sebagai subjek.
Ketika kehadiran hanya disambut ejekan atau pengabaian, yang hilang bukan sekadar pendapat, melainkan juga martabat. Pengasingan semacam ini tidak dilakukan dengan larangan atau kekerasan. Ia berlangsung halus, nyaris tak terasa.
Generasi tua tetap boleh berbicara, tetapi pembicaraan mereka dianggap mengganggu alur percakapan. Mereka tetap hadir di grup WhatsApp, tetap aktif di Facebook, tetapi kehadirannya tidak lagi diharapkan. Ruang publik tampak terbuka, tetapi sesungguhnya semakin selektif.
Perubahan ini tidak bisa dilepaskan dari cara ruang publik digital bekerja. Jurgen Habermas—yang menulis The Structural Transformation of the Public Sphere pada awal 1960-an, dalam konteks krisis demokrasi Eropa pascaperang—membayangkan ruang publik sebagai arena dialog rasional, tempat argumen diuji melalui percakapan.
Media sosial mengubah imajinasi itu secara drastis. Percakapan dipercepat, dipendekkan, dan direduksi menjadi reaksi. Yang dihargai bukan ketepatan, melainkan keterlibatan. Bukan kejernihan, melainkan keterkejutan.
Dalam ruang seperti ini, kebijaksanaan sering kalah sebelum sempat berbicara. Algoritma tidak sabar menunggu argumen yang matang. Ia lebih menyukai kemarahan yang segera. Di grup RT atau linimasa politik, suara bernada tenang sering tenggelam, sementara yang provokatif justru cepat naik ke permukaan. Bagi generasi yang dibesarkan dalam budaya tutur, jeda, dan kewibawaan pengalaman, ruang publik semacam ini terasa tidak ramah.
Ketika Kebijaksanaan Kalah oleh EmosiDari sini kita menyaksikan pergeseran yang lebih dalam: kebijaksanaan usia yang perlahan berubah menjadi kemarahan. Media sosial bukan hanya ruang informasi, melainkan juga ruang emosi.
Algoritma bekerja dengan memelihara keterlibatan dan keterlibatan paling mudah dipantik oleh rasa takut dan marah. Generasi tua—yang kerap merasa nilai-nilai yang mereka pegang digerus perubahan cepat—menjadi sasaran empuk dinamika ini.
Pemikir etika Islam Ibnu Miskawaih—yang hidup pada abad ke-10 dan menulis Tahdzib al-Akhlaq—menegaskan bahwa kebajikan lahir dari keseimbangan jiwa. Kemarahan bukan tanda kekuatan moral, melainkan gejala ketidakseimbangan. Usia tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan; ia harus terus dirawat melalui latihan batin dan pengendalian diri. Dalam ruang publik yang terus memancing reaksi, kebajikan semacam ini justru menjadi yang paling rapuh.
Tradisi Islam klasik telah lama menaruh perhatian pada adab hidup bersama. Al-Farabi—dalam Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadilah—membayangkan masyarakat sebagai kerja sama menuju kebaikan dan kebahagiaan bersama, bukan arena saling menyingkirkan demi kemenangan sesaat.
Sementara itu, Abu Hamid al-Ghazali—dalam Ihya’ Ulum al-Din—mengingatkan tentang bahaya lisan dan tanggung jawab sosial dari setiap ucapan. Bagi al-Ghazali, kata-kata bukan sekadar ekspresi diri, melainkan juga tindakan moral yang membawa konsekuensi sosial.
Maka, persoalan kita hari ini bukan semata bagaimana membuat generasi tua lebih cakap bermedia sosial. Pertanyaan yang lebih mendasar: Bagaimana masyarakat menyediakan ruang publik yang tidak mempermalukan mereka yang tertinggal dan tidak memutus mereka dari percakapan bersama? Literasi digital penting, tetapi empati sosial jauh lebih menentukan.
Dalam budaya politik dan media kita yang gemar ramai, cepat bereaksi, dan segera berpindah ke isu berikutnya, ruang publik sering kali lebih sibuk merawat kegaduhan ketimbang menumbuhkan kebijaksanaan.
Ruang publik yang sehat bukanlah ruang yang hanya memberi tempat bagi yang paling cepat dan paling lantang. Ia adalah ruang yang cukup tenang untuk menampung suara yang berbicara pelan dan cukup dewasa untuk merawat kebijaksanaan, bahkan ketika ia datang dengan bahasa yang terasa usang. Jika tidak, kita akan mewarisi ruang publik yang semakin bising, penuh reaksi, tetapi miskin pengertian.
Barangkali masalah terbesar ruang publik kita hari ini bukan kekurangan suara, melainkan kehilangan kesabaran untuk mendengar. Dalam kebisingan yang kita pelihara sendiri, kebijaksanaan justru tersingkir perlahan, dianggap usang, lalu dibiarkan pergi tanpa pernah benar-benar kita pahami.

