Tingkat kemiskinan nasional berhasil ditekan hingga ke level 8,25 persen, turun 0,22 persen poin dibandingkan Maret 2025
IDXChannel - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan profil kemiskinan Indonesia periode September 2025 menunjukkan tren positif.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan bahwa tingkat kemiskinan nasional berhasil ditekan hingga ke level 8,25 persen, turun 0,22 persen poin dibandingkan Maret 2025.
Penurunan ini setara dengan berkurangnya jumlah penduduk miskin sebanyak 490 ribu orang, sehingga total penduduk miskin per September 2025 tercatat sebesar 23,36 juta orang.
Amalia menjelaskan, Garis Kemiskinan (GK) pada September 2025 mengalami kenaikan 5,30 persen dari posisi Maret 2025. Namun, ia menekankan pentingnya menerjemahkan angka per kapita tersebut ke dalam konteks pengeluaran riil sebuah keluarga.
Mengingat rata-rata satu rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,76 anggota keluarga, BPS menetapkan ambang batas pengeluaran bulanan yang lebih konkret.
"Garis kemiskinan per kapita perlu diterjemahkan menjadi garis kemiskinan per rumah tangga dan oleh sebab itu pada September 2025 secara rata-rata satu rumah tangga miskin di Indonesia terdapat 4,76 anggota keluarga sehingga garis kemiskinan per rumah tangga miskin adalah sebesar 3.053.269 per bulan," kata Amalia dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS, Kamis (5/2/2026).
Dia juga mengingatkan bahwa angka ini merupakan rata-rata nasional yang bersifat dinamis. "Setiap provinsi juga memiliki garis kemiskinan yang berbeda-beda bergantung pada tingkat harga dan komoditas yang dikonsumsi di daerah tersebut akan lebih tepat bila kita lihat dalam konteks bulanan bukan dalam konteks harian," katanya.
Meskipun kemiskinan menurun baik di perkotaan sebesar 6,6 persen, maupun pedesaan sebesar 10,72 persen, BPS mencatat bahwa konsentrasi penduduk miskin masih mendominasi di Pulau Jawa dengan jumlah 12,32 juta orang atau 52,75 persen dari total nasional. Sementara itu, penurunan terdalam terjadi di wilayah Maluku dan Papua yang mencapai 0,68 persen poin.
Terkait ketimpangan, Indeks Gini (Gini Ratio) nasional ikut membaik di angka 0,363, turun 0,012 basis poin dari Maret 2025. Ketimpangan di wilayah perkotaan (0,383) terpantau masih jauh lebih tinggi dibandingkan pedesaan (0,295).
Perbaikan potret sosial ini didorong oleh beberapa faktor fundamental sepanjang 2025, di antaranya, realisasi bansos hingga September 2025 meningkat 75 persen dari target APBN, termasuk penyaluran PKH kepada 9,69 juta keluarga.
Kemudian produksi padi pada September 2025 naik 8,75 persen secara tahunan (yoy), memperkuat ketahanan pangan dan pendapatan petani dan terjadi penyerapan tenaga kerja sebanyak 1,90 juta orang dalam satu tahun terakhir dengan peningkatan pada kegiatan formal.
(kunthi fahmar sandy)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5493463/original/024696000_1770224962-WhatsApp_Image_2026-02-04_at_23.16.13.jpeg)