Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) bakal melakukan groundbreaking pembangunan kilang baru untuk memproduksi sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur berkapasitas 6.000 barel per hari (bph) di Cilacap, Jawa Barat pada Jumat (6/2/2026) besok.
Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza dalam acara 'Energy Outlook 2026' di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Oky mengatakan, kilang itu akan mencampurkan avtur dengan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah, dan palm oil mill effluent (POME).
"Jadi kami sedang mengejar besok, insyaallah kita akan groundbreaking the first stand alone dedicated green refinery di Cilacap," ucap Oki.
Dia berharap keberadaan kilang baru itu dapat mendukung penggunaan SAF secara optimal pada 2050. Hal ini seperti target global di mana SAF diharapkan dapat memberikan kontribusi sebesar 65% hingga 70% dari total pengurangan emisi yang dibutuhkan untuk mencapai net zero emission pada 2050.
"Harapannya kita terus bisa mengejar SAF hingga nanti seperti target dunia di 2050 itu setengah dari SAF itu berasal dari nabati," ucap Oki.
Asal tahu saja, wacana pembangunan kilang baru untuk memproduksi SAF di Cilacap telah bergulir sejak tahun lalu. Pertamina menargetkan kilang itu dapat beroperasi pada 2029. Namun saat itu, belum ada sinyal kapan pembangunan dimulai.
Saat itu, Spesialis Senior Pengembangan Bioenergi dan Biofuel PT Kilang Pertamina International (KPI) Sahkundiyar mengatakan bahwa pembangunan kilang SAF masih menghadapi tantangan.
Adapun, tantangan itu seperti nilai investasi jumbo dan off taker atau pembeli yang belum pasti.
"Ini maju mundur karena investasinya besar dan off taker-nya belum pasti. Tapi kami percaya akan bertahap," jelasnya pada Oktober 2025 lalu.
Berdasarkan catatan Bisnis, Kilang Cilacap saat ini telah mampu memproduksi bioavtur SAF dengan kandungan minyak inti sawit atau refined bleached deodorized palm kernel oil (RBDPKO) sebesar 2,4% dengan kapasitas 9.000 barel per hari. Green Refinery Kilang Cilacap ini akan dikembangkan ke tahap 2.
Selain itu, Sahkundiyar mengungkapkan, KPI juga tengah mengembangkan proyek used cooking oil to sustainable aviation fuel (USAF) atau avtur berbahan minyak jelantah di Kilang Dumai dan Balongan. Hal ini merupakan replikasi proyek USAF yang saat ini telah dikembangkan di Kilang Cilacap.
"Balongan sangat menjanjikan karena dari lokasi di Jawa, dekat dengan sumber UCO di Jakarta atau Surabaya," katanya.
Baca Juga
- Pembangunan Pabrik Bahan Baku Bioavtur di Sumsel Senilai Rp310 Miliar Dimulai
- Google hingga Singapore Airlines Ikut Uji Coba Pembelian Bioavtur
- Kawasan Asean Berpotensi Produksi 8,5 Juta Barel Bioavtur per Hari pada 2050




