Menteri PPPA Akui Kelalaian Negara, Kasus Siswa SD NTT Bukti Perlindungan Anak Belum Sempurna!

suara.com
7 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Seorang siswa SD berinisial YBR (10) meninggal dunia di Ngada, NTT, diduga karena masalah ekonomi keluarga.
  • Menteri PPPA Arifah Fauzi mengakui peristiwa ini bukti negara belum optimal melindungi anak dari kemiskinan.
  • Tragedi ini dipicu kesulitan membeli alat tulis, namun merupakan dampak dari berbagai tekanan sosial ekonomi mendalam.

Suara.com - Tragedi meninggalnya YBR (10), siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuka kembali luka lama soal rapuhnya perlindungan anak di Indonesia. YBS diduga mengakhiri hidupnya setelah tidak mendapatkan uang untuk membeli buku dan pensil.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi secara terbuka mengakui bahwa peristiwa ini menjadi bukti negara belum sepenuhnya mampu melindungi anak, khususnya anak-anak dari keluarga miskin.

“Peristiwa ini mengingatkan kita semua bahwa perlindungan terhadap anak belum sepenuhnya bisa kita penuhi,” kata Arifah kepada wartawan di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Menurut Arifah, keputusan tragis yang diambil YBS tidak bisa dilihat sebagai akibat dari satu faktor tunggal. Ketidakmampuan membeli alat tulis hanyalah pemicu terakhir dari rangkaian tekanan sosial dan ekonomi yang dialami korban.

“Kami melihat ini bukan satu faktor saja. Banyak faktor pendukung di belakangnya sehingga anak melakukan hal yang di luar dugaan,” ujarnya.

Berdasarkan penelusuran KPPPA di lapangan ditemukan kalau kondisi keluarga YBS termasuk keluarga tidak mampu. Arifah menekankan kalau situasi tersebut menjadi alarm bagi negara dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan layanan dasar benar-benar menjangkau kelompok paling rentan.

“Keluarga ini bisa dikatakan keluarga yang tidak mampu. Ini menjadi perhatian kita bersama, bagaimana seluruh stakeholder memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat yang memang seharusnya mendapatkan kesempatan dan pelayanan dari pemerintah,” kata Arifah.

Ia pun mengajak setiap lembaga pemerintah pusat dan daerah untuk sama-sama melakukan intropeksi dalam melakukan upaya perlindungan anak.

“Ini menjadi introspeksi kita bersama agar bisa saling menguatkan dan memberikan dukungan nyata kepada masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga: Lebih Gelap dari Sekadar Tidak Punya Uang: Tragedi Anak SD di NTT

Sebelumnya diberitakan, seorang anak berinisial YBR (10) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, pada Kamis (29/1/2026). Korban diketahui merupakan siswa kelas IV SD.

Saat mengevakuasi jasad korban, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan berbahasa daerah Bajawa yang ditujukan kepada ibunya. Hingga kini, kepolisian masih menyelidiki latar belakang peristiwa tersebut, termasuk dugaan kekecewaan korban karena tidak dibelikan peralatan tulis akibat keterbatasan ekonomi keluarga.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Istana Buka Suara soal Siswa SD Akhiri Hidup di NTT
• 23 jam lalusuara.com
thumb
Ini Pesan Tegas Presiden Prabowo Buat Pasar Modal RI
• 12 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Jadikan Batang Seledri sebagai Camilan, Bagus untuk Jantung hingga Tekanan Darah
• 10 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Seskab Teddy Ungkap Hasil Pertemuan Prabowo dengan Eks Menlu: BoP-Kebijakan LN
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Top! Perwira Pertamina Pimpin Tim Pengembangan Aset Migas di Aljazair
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.