Kesempatan Selalu Ada di Sekitar Kita

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ada seorang pria yang suatu malam bertemu dengan seorang malaikat. Malaikat itu berkata kepadanya bahwa hal besar akan terjadi dalam hidupnya: dia akan memiliki kesempatan untuk memperoleh kekayaan besar, meraih kedudukan terhormat di masyarakat, dan menikahi seorang wanita cantik.

Pria itu pun menghabiskan seluruh hidupnya menunggu janji keajaiban tersebut. Namun, tak satu pun hal itu benar-benar terjadi. Dia menjalani hidup dalam kemiskinan, dan akhirnya meninggal dunia dalam kesepian.

Ketika tiba di surga, dia kembali bertemu dengan malaikat itu. 

Dengan nada penuh keluhan dia berkata :  “Kamu pernah mengatakan aku akan mendapatkan kekayaan, kedudukan tinggi, dan seorang istri cantik. Aku menunggu seumur hidup, tetapi aku tidak mendapatkan apa-apa.”

Malaikat itu menjawab dengan tenang :  “Aku tidak pernah mengatakan akan memberimu semua itu secara langsung. Aku hanya berjanji akan memberimu kesempatan untuk memperoleh kekayaan, kedudukan yang terhormat, dan seorang istri cantik. Namun, kamu membiarkan semua kesempatan itu berlalu begitu saja.”

Pria itu kebingungan: “Aku tidak mengerti maksudmu.”

Malaikat pun menjelaskan :  “Apakah kamu ingat, suatu ketika kamu pernah mendapatkan sebuah ide yang sangat bagus, tetapi kamu tidak berani melaksanakannya karena takut gagal?”

Pria itu mengangguk.

Malaikat melanjutkan:  “Karena kamu tidak bertindak, beberapa tahun kemudian ide itu diberikan kepada orang lain. Orang itu tidak takut mencoba, dan akhirnya berhasil. Kamu pasti ingat dia—dialah yang kemudian menjadi orang terkaya di negeri itu.”

Malaikat lalu berkata lagi : “Masih ingatkah kamu, saat kota tempat tinggalmu dilanda gempa besar? Sebagian besar rumah runtuh, dan ribuan orang terjebak di bawah puing-puing. Kamu sebenarnya memiliki kesempatan untuk membantu menyelamatkan mereka yang masih hidup. Namun kamu takut rumahmu akan dijarah pencuri saat kamu pergi, lalu menjadikan ketakutan itu sebagai alasan untuk tidak menolong siapa pun, dan hanya menjaga rumahmu sendiri.”

Pria itu kembali mengangguk, kali ini dengan rasa malu.

Malaikat berkata :  “Padahal itu adalah kesempatan emas bagimu untuk menyelamatkan ratusan nyawa. Dari sana, kamu bisa memperoleh kehormatan dan penghargaan besar di kota itu.”

Kemudian malaikat bertanya lagi :  “Apakah kamu ingat seorang wanita cantik berambut hitam legam, yang begitu menarik hatimu? Kamu belum pernah mencintai seorang wanita sedalam itu, dan setelahnya pun tidak pernah bertemu wanita sebaik dia.”

Pria itu mengangguk.

Malaikat melanjutkan :  “Namun kamu berpikir dia tidak mungkin menyukaimu, apalagi mau menikah denganmu. Karena takut ditolak, kamu membiarkannya berlalu dari hidupmu.”

Kali ini pria itu mengangguk sambil menangis.

Malaikat berkata lembut :  “Sahabatku, dialah wanita yang seharusnya menjadi istrimu. Kalian akan memiliki beberapa anak yang cantik, dan bersamanya hidupmu akan dipenuhi kebahagiaan.”

Sesungguhnya, setiap hari kita dikelilingi oleh banyak kesempatan, termasuk kesempatan untuk mencintai dan dicintai. Namun sering kali, seperti pria dalam cerita ini, kita berhenti melangkah hanya karena rasa takut—dan akhirnya kesempatan itu pun menghilang.

Kita takut ditolak, sehingga tidak berani mendekati orang lain.
Kita takut ditertawakan, sehingga enggan mengungkapkan perasaan.
Kita takut terluka, sehingga tidak berani berkomitmen.

Namun kita memiliki satu kelebihan dibandingkan pria dalam cerita tersebut:  kita masih hidup. Dan selama kita masih hidup, kita masih bisa mulai dari sekarang—mengulurkan tangan dan meraih kesempatan yang ada di hadapan kita.

Hikmah Cerita

Percayalah, takdir tidak ditentukan oleh kata-kata orang lain, melainkan diperjuangkan oleh tangan kita sendiri. Orang lain boleh memberi saran, tetapi yang menanggung akibat dari setiap keputusan tetaplah diri kita sendiri.

Dalam hidup, setiap orang memiliki peluang untuk berhasil. Namun dunia ini penuh dengan peluang yang bercampur aduk—ada kesempatan yang tampak seperti jebakan, dan ada jebakan yang tampak seperti kesempatan. Karena terlalu ragu dan bimbang, seseorang bisa kehilangan peluang. Namun di sisi lain, kehati-hatian juga kadang menyelamatkan kita dari bahaya.

Saat seseorang masih berada dalam kekurangan, kesempatan harus direbut dengan usaha sendiri. Saat seseorang telah sukses, ribuan kesempatan justru akan datang menghampiri.

Di titik itulah, kebijaksanaan diperlukan—untuk membedakan mana peluang sejati, dan mana jebakan yang menyamar sebagai peluang. (jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bank Mandiri Gandeng UNG, Mahasiswa Kini Bisa Bayar UKT via Livin’
• 22 jam laluharianfajar
thumb
PM Australia Kunjungi Indonesia Hari Ini, Ada Pengalihan Arus di Delapan Ruas Jalan
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Pendaftaran SNBP Dibuka pada Februari 2026, 5 Prodi di UI Sepi Peminat Tahun Lalu, Apa Saja?
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
BRIN Hadirkan Peraih Nobel Kimia 2025 untuk Menginspirasi Periset Muda RI
• 3 jam laludetik.com
thumb
KOMIK: Matinya Kepakaran, Ketika Semua Orang Merasa Jadi Ahli
• 9 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.