Di media sosial, kepakaran dan latar belakang keilmuan mulai terlihat tidak berarti. Tom Nichols, penulis buku Matinya Kepakaran, mengatakan kemudahan akses informasi bagi banyak orang membuat masyarakat “merasa” menjadi pakar.
Satu kejadian di media sosial membuktikan pernyataan Nichols. Usai berpulangnya influencer Lula Lahfah, banyak perbincangan mengklaim kematian Lula disebabkan GERD yang memicu serangan jantung.
Klaim itu ditentang seorang dokter dengan nama pengguna @wita_desandri. Menurut penelusuran Katadata, Wita adalah seorang dokter spesialis jantung di Rumah Sakit Khusus Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta. Ia juga mengantongi sertifikat sport cardiologist–spesialisasi bidang kardiologi khusus untuk atlet.
Ia menjelaskan GERD, secara saintifik, tak memicu sakit jantung atau henti jantung. Sebab lambung dan jantung tak berhubungan meski punya posisi yang cukup dekat dan hanya dibatasi otot diafragma.
Namun, klaim tersebut ditentang netizen. Ia diserang, disebut “kurang belajar” oleh banyak netizen.
Hal serupa juga terjadi kepada dr. Bobby Arfhan, dokter spesialis jantung di Rumah Sakit Hermina, Depok, Jawa Barat. Ia menjelaskan hal serupa di media sosial Threads, tetapi berujung mendapat serangan netizen.
Kemudahan akses informasi oleh orang banyak bisa menciptakan bias kognitif yang disebut efek Dunning-Kruger. Artinya, karena mudahnya mendapatkan informasi, manusia terkadang merasa banyak tahu—meski yang ia pelajari hanya sebagian kecil dari sebuah disiplin ilmu.
Kondisi ini cukup mengkhawatirkan di Indonesia. Sebab kini ruang digital dipenuhi opini liar yang menyesatkan dari para kreator dengan disiplin ilmu yang belum jelas.
Apalagi, menurut survei Reuters pada 2025, 44% masyarakat Indonesia mengonsumsi informasi dari content creator. Sementara, 25% masyarakat lebih banyak mengonsumsi informasi dari media jurnalistik, dan sisanya dari sumber lain.



