Kasus Anak di NTT, Pentingnya Kenali Perubahan Perilaku untuk Cegah Bunuh Diri

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Catatan Redaksi: Bunuh diri bukan jalan keluar persoalan kehidupan, segera cari pertolongan atau klik www.healing119.id atau telepon darurat 119 ext. 8 atau WhatsApp +62 813-8007-3120.

YBR (10), siswa laki-laki kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal karen gantung diri, Kamis (29/1) siang. YBR mengakhiri hidup di pohon cengkeh di dekat pondok yang merupakan tempat tinggalnya bersama sang nenek (80).

Dalam proses olah TKP, polisi menemukan sepucuk surat untuk ibunya. Surat yang ditulis tangan oleh korban ditemukan di sekitar lokasi kejadian.

Begini bunyi surat korban dalam bahasa daerah Ngada:

Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti)

Mama Galo Zee (Mama, saya pergi dulu)

Mama molo Ja'o ( Mama, relakan saya pergi)

Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis, Mama)

Mama jao Galo Mata (Mama, saya pergi)

Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya)

Molo Mama (Selamat tinggal, Mama)

Di akhir tulisan tangan ini ada gambar dengan emoji menangis.

Kenali Perubahan Perilaku pada Anak, Bisa Jadi 'Alarm'

Menurut Psikolog Klinis Anak Rumah Dandelion, Reti Oktania, M.Psi., Psi., penting untuk memahami beberapa perubahan perilaku yang bisa menjadi tanda peringatan dini. Perubahan tersebut bisa menunjukkan 'alarm' dan pertanda orang tua dan orang-orang di sekitar anak perlu memberikan perhatian lebih.

Apa Saja Tanda Perubahan Perilaku Anak yang Mesti Orang Tua Ketahui!?

1. Perubahan emosi atau mood ekstrem

- Menunjukkan emosi sedih, putus asa, murung yang berkepanjangan

- Merasa tidak bermakna, tidak berguna, yang berkepanjangan

- Menunjukkan kemarahan di level ekstrem dan tidak biasa

- Menunjukkan emosi takut dan cemas intens dan berkepanjangan

2. Perubahan perilaku, penurunan fungsi sehari-hari

- Kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai

- Menolak melakukan aktivitas yang sebelumnya bagian dari rutinitas (misal: tidak bersekolah untuk waktu yang lama)

- Menurunnya kemampuan bina diri sehari-hari (misal: tidak mau mandi, tidak mau makan, kamar berantakan yang tidak biasa untuk waktu yang lama)

- Menurunnya performa akademik yang tidak biasa

- Menampilkan perilaku menyakiti diri sendiri, dan atau orang lain

- Menampilkan perilaku berisiko (misal: kebut-kebutan, konsumsi narkoba)

3. Perubahan pola interaksi sosial

- Menarik diri dari teman dan keluarga

- Lebih banyak diam, tidak seperti biasanya

- Mengurung diri di dalam kamar secara berkepanjangan

4. Perubahan energi dan level aktivitas fisik

- Lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur, atau sulit tidur

- Tidak mau makan, atau peningkatan asupan makanan yang tidak biasa

- Terlihat lesu, kurang bertenaga, tanpa penjelasan medis secara berkepanjangan

- Mengeluhkan kondisi kesehatan fisik (sakit perut, pusing, mual, dll), tanpa penjelasan medis secara berkepanjangan

Anak Tunjukkan Gejala Red Flag Perubahan Perilaku, Ini yang Perlu Orang Tua Lakukan!

Menurut Reti, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua ketika anak dan remaja mereka menunjukkan red flag perubahan perilaku.

Hal pertama adalah meluangkan waktu untuk berkomunikasi yang terbuka dan tidak menghakimi (non-judgemental). Cara ini sangat penting pada fase-fase si kecil diyakini mengalami perubahan perilaku.

"Ajak, dan jika diperlukan, beri bantuan agar anak dan remaja terkoneksi kembali dengan support system-nya (baik keluarga, maupun teman). Tawarkan bantuan apa yang dibutuhkan," jelas Reti kepada kumparanMOM.

Anda juga bisa mengajak anak untuk terlibat kembali pada rutinitas harian dan aktivitas-aktivitas yang realistis. Misalnya, ajaklah ia untuk berolahraga ringan atau memasak makanan yang bernutrisi.

"Bisa juga bantu anak untuk mengorganisir hal-hal di sekitarnya. Mulai dari bantu dan melibatkan ia untuk merapikan kamar atau bantu anak mengenali prioritasnya," tutur Reti.

Terkadang Anak Tidak Menunjukkan Gejala Kesehatan Mental

Yang tidak kalah penting, terkadang kita tidak selalu bisa menyadari tanda-tanda anak yang mengalami gejala kesehatan mental. Terkadang, tandanya pun tidak tampak jelas, Moms.

"Salah satu tanda yang tidak tampak jelas adalah ketika anak memiliki pola pikir negatif yang tidak biasa. Jika pola pikir ini muncul secara intens dan berulang, orang tua dapat mengajak anak untuk komunikasi lebih terbuka mengenai kendala yang dirasakan," jelas Reti.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Berisiko Tinggi! Siswa SD di Pandeglang Nekat Lewati Jembatan Ambruk demi Sampai Sekolah
• 7 jam lalurctiplus.com
thumb
Transfer BRI Super League: Pemain Baru Datang, Arema FC Lepas Odivan Koerich
• 16 jam lalubola.com
thumb
Persija Bikin Kejutan! Dikabarkan Deal dengan Jean Mota, Gelandang Eks Rekan Setim Lionel Messi di Inter Miami CF
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Tim DVI Terima 16 Kantong Jenazah Korban Longsor Cisarua
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Lestarikan Budaya Bali Lewat Ruang Ramah Anak
• 7 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.