Penulis: Katereni
TVRINews-Denpasar, Bali
Pemerintah Provinsi Bali mengintegrasikan konsep bermain dan belajar untuk memperkenalkan identitas lokal kepada generasi muda.
Dalam upaya menjaga relevansi budaya di era modern, agenda Bulan Bahasa Bali 2026 menghadirkan inovasi edukasi melalui program "Ruang Belajar Ramah Anak".
Memasuki hari keempat penyelenggaraannya pada Rabu 4 Februari 2026, kegiatan ini bertransformasi menjadi laboratorium budaya interaktif bagi siswa sekolah dasar di Kota Denpasar.
Program ini mengadopsi filosofi melajah sambil meplalianan, sebuah konsep pedagogi yang menyelaraskan proses kognitif dengan aktivitas bermain.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa bahasa, aksara, dan sastra Bali tidak dipandang sebagai materi yang kaku, melainkan identitas yang hidup dan menyenangkan bagi anak-anak.
Restorasi Spiritual Melalui Bahasa
Tahun ini, Bulan Bahasa Bali mengusung tema besar “Atma Kerthi Udiayana Purnaning Jiwa”. Tema tersebut merefleksikan pembangunan kesucian jiwa melalui pelestarian warisan leluhur.
Pemerintah setempat memandang bahwa bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan fondasi spiritual dan filosofis masyarakat Bali.
I Gusti Ngurah Wiriwan, Pamong Budaya Ahli Pertama Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, menekankan pentingnya pengalaman aplikatif dalam proses pembelajaran ini. Menurutnya, pendekatan teoretis saja tidak cukup untuk menumbuhkan rasa kepemilikan pada generasi alfa.
"Anak-anak diajak berinteraksi langsung dengan bahasa dan budaya Bali.
Dengan metode ini, mereka tidak hanya menyerap teori, tetapi juga merasakan langsung praktik kebudayaan tersebut dalam keseharian," ujar Wiriwan saat meninjau aktivitas di lokasi kegiatan.
Menjawab Tantangan Globalisasi
Keterlibatan puluhan siswa dalam kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemerintah Provinsi Bali untuk membentengi kearifan lokal dari pengaruh globalisasi yang masif.
Dengan membangun kedekatan emosional sejak usia dini, diharapkan terjadi transfer pengetahuan yang berkelanjutan antar-generasi.
Selain pengenalan aksara dan bahasa sehari-hari, para peserta juga diperkenalkan pada nilai-nilai karakter yang terkandung dalam sastra Bali.
Pendekatan partisipatif ini terbukti efektif dalam meningkatkan antusiasme siswa, sekaligus mengikis stigma bahwa mempelajari bahasa daerah adalah hal yang sulit.
Bulan Bahasa Bali akan terus berlangsung selama satu bulan penuh, berfungsi sebagai ruang inklusif yang mempertemukan pelajar, akademisi, dan seniman dalam satu visi: memuliakan identitas Bali di tengah dinamika zaman.
Editor: Redaksi TVRINews





