GenPI.co - Rencana perdamaian ASEAN (Konsensus Lima Poin) gagal menghentikan perang saudara di Myanmar.
Namun, hasil pemilu terbaru di Myanmar tetap menawarkan peluang untuk memulai dialog.
Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow mengatakan ASEAN akan mencoba membangun kembali hubungan dengan pemimpin baru Myanmar.
Menurut Sihasak, hal itu menjadi titik awal untuk rekonsiliasi dan perdamaian yang lebih luas.
"Kami tidak bermaksud mengisolasi Myanmar. Kami ingin membawa Myanmar kembali ke keluarga ASEAN," ujarnya, dilansir AP News, Rabu (4/1).
Sihasak mengatakan jika Myanmar menunjukkan upaya nyata untuk meredakan ketegangan dan kekerasan, ASEAN siap mempererat kerja sama.
Misalnya, pembatasan delegasi politik Myanmar dalam pertemuan tahunan ASEAN akan dicabut secara bertahap.
"Myanmar harus menghentikan serangan terhadap warga sipil dan menghindari penggunaan serangan udara yang merugikan masyarakat. Ini menjadi tolok ukur bagi kami," tuturnya.
Berdasarkan hasil sementara, Partai Persatuan Solidaritas dan Pembangunan yang berafiliasi dengan militer berhasil menguasai mayoritas kursi dalam pemilu terbaru di Myanmar.
Hasil pemilu tersebut memastikan militer tetap memegang kendali atas pemerintahan.
Meski kontroversial, pemilu ini bisa menjadi peluang bagi ASEAN untuk mendorong perubahan.
Sihasak pun mengusulkan agar Aung San Suu Kyi (80) dipindahkan dari tahanan ke tahanan rumah untuk akses lebih baik ke dokter.
"Ini tindakan kemanusiaan yang baik dan akan diterima positif oleh komunitas internasional," ujarnya.
Suu Kyi saat ini menjalani hukuman 27 tahun penjara atas tuduhan yang dianggap bermotif politik. (*)
Simak video menarik berikut:




