Pengamat Nilai Seskab Teddy Efektif Redam Polemik demi Stabilitas Citra Presiden

eranasional.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM –  Peran Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dalam ruang digital dinilai melampaui sekadar aktivitas media sosial pejabat negara pada umumnya. Gaya komunikasinya yang aktif, responsif, dan konsisten mengklarifikasi isu-isu publik dipandang sebagai bagian dari strategi komunikasi politik untuk menjaga wibawa dan citra Presiden Prabowo Subianto di tengah derasnya arus informasi.

Pengamat Komunikasi Digital dari Universitas Nasional (Unas), Nursatyo, menilai kehadiran Teddy di media sosial memiliki fungsi strategis dalam membentuk opini publik yang lebih positif terhadap kinerja pemerintahan.

Menurutnya, Teddy berhasil mengemas narasi pemerintahan dengan pendekatan yang lebih humanis, terbuka, dan responsif, sehingga mampu menjembatani jarak antara kekuasaan dan masyarakat.

“Sekretaris Kabinet Teddy bersama tim media sosialnya aktif merespons isu-isu yang berkembang, termasuk melakukan klarifikasi ketika muncul informasi yang berpotensi menyesatkan. Ini sangat penting di era banjir informasi seperti sekarang,” ujar Nursatyo dalam keterangannya, Kamis (5/2).

Nursatyo menjelaskan bahwa sikap aktif Teddy di ruang publik digital dapat dibaca sebagai bentuk strategi komunikasi defensif–protektif terhadap otoritas Presiden Prabowo. Dalam konteks ini, Teddy berperan sebagai “tameng” yang menyerap tekanan isu, polemik, dan kritik sebelum sampai ke kepala negara.

“Dengan Seskab berada di garis depan memberikan penjelasan atau bantahan, Presiden tidak perlu terlibat langsung dalam polemik teknis yang berpotensi mengganggu posisi simboliknya sebagai pemimpin nasional,” jelasnya.

Ia menambahkan, pola ini memungkinkan Presiden Prabowo tetap tampil sebagai symbolic leader yang tenang, fokus pada agenda strategis, serta tidak terlihat reaktif terhadap dinamika isu harian di media sosial.

Menurut Nursatyo, strategi semacam ini bukan hal baru dalam praktik komunikasi pemerintahan modern. Banyak negara menerapkan model serupa, di mana lingkar terdekat pemimpin berfungsi sebagai penyangga komunikasi publik, terutama di era digital yang serba cepat dan emosional.

Lebih lanjut, Nursatyo menilai pendekatan tersebut efektif karena konflik, klarifikasi, maupun bantahan dapat diselesaikan di level pembantu presiden, tanpa harus menyeret kepala negara ke dalam perdebatan yang bersifat teknis atau sektoral.

“Ini membuat isu tidak berkembang liar. Klarifikasi cepat di level Seskab bisa menghentikan spekulasi sebelum eskalasinya membesar,” ujarnya.

Dalam banyak kesempatan, Teddy terlihat aktif menyampaikan penjelasan terkait kebijakan, agenda presiden, maupun isu yang berkembang di masyarakat melalui unggahan media sosial, baik dalam bentuk narasi teks, foto kegiatan, hingga video singkat.

Aktivitas ini dinilai mampu mengimbangi derasnya informasi dari berbagai sumber non-resmi yang kerap kali membentuk opini publik secara sepihak.

Selain klarifikasi isu, Nursatyo juga menyoroti konten-konten yang menampilkan sisi kerja keras pemerintahan, seperti aktivitas rapat hingga larut malam, koordinasi lintas kementerian, serta dinamika kerja di lingkungan Istana.

Menurutnya, konten semacam ini berkontribusi dalam membangun persepsi publik bahwa pemerintahan bekerja secara nyata dan tidak berjarak dengan realitas.

“Ini membantu menggeser citra pejabat dari sosok birokrat yang kaku menjadi figur yang bekerja di balik layar, menghadapi tekanan, dan mengambil keputusan penting untuk negara,” ungkap Nursatyo.

Pendekatan ini dinilai relevan di era digital, di mana publik tidak hanya menuntut hasil kebijakan, tetapi juga proses yang transparan dan dapat dipahami secara visual maupun naratif.

Menariknya, Nursatyo menegaskan bahwa aktivitas komunikasi Teddy tidak menunjukkan upaya membangun personal branding secara berlebihan. Seluruh narasi yang disampaikan justru bermuara pada penguatan legitimasi pusat kekuasaan, yakni Presiden Prabowo Subianto.

“Teddy tidak sedang membangun panggung untuk dirinya sendiri. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai aktor utama, melainkan sebagai fasilitator komunikasi Presiden,” jelasnya.

Hal ini, menurut Nursatyo, membedakan Teddy dari sebagian pejabat publik yang justru memanfaatkan media sosial untuk membangun citra personal yang terpisah dari institusi atau pemerintahan.

“Dalam konteks ini, Teddy konsisten menempatkan Presiden sebagai pusat narasi. Itu yang membuat komunikasinya terlihat solid dan terarah,” tambahnya.

Nursatyo juga mengingatkan bahwa tantangan komunikasi pemerintahan ke depan akan semakin kompleks. Kecepatan informasi, algoritma media sosial, serta polarisasi opini publik menuntut pemerintah memiliki strategi komunikasi yang adaptif dan terukur.

Dalam konteks tersebut, peran pejabat seperti Seskab Teddy menjadi semakin krusial sebagai jembatan antara kekuasaan dan publik.

“Jika komunikasi tidak dikelola dengan baik, ruang digital bisa menjadi sumber krisis legitimasi. Karena itu, kehadiran figur yang mampu meredam, menjelaskan, dan menata narasi menjadi kebutuhan strategis,” pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bank Mandiri Dorong UMKM Kreatif Naik Kelas Pacu Ekonomi Kerakyatan
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Hukuman Keras untuk Suporter Inter Milan setelah Lempar Petasan ke Emil Audero
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Kemenhut Cabut Izin Lembaga Konservasi Bandung Zoo: Untuk Memastikan Satwa Terlindungi
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Siapa Tim Bertahan Terkuat di Haikyuu!!? Ternyata Bukan SMA Nekoma
• 17 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Dukung Ketahanan Pangan, Kapolda Metro Cek Tambak Udang di Muara Gembong
• 7 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.