Sri "Itut" Hastuti: Legenda Timnas Wanita Indonesia, Kini Melatih Tanpa Digaji

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Namanya memang belum dikenal khalayak ramai. Namun dedikasinya terhadap sepak bola wanita, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), layak diacungi jempol.

Sri Hastuti, atau biasa disapa Itut, merupakan pelatih PSW Putri Mataram, klub sepak bola wanita di Yogyakarta. Di era 1980-an, ia pernah mengharumkan nama bangsa dengan membela Timnas Wanita Indonesia di sejumlah turnamen internasional.

Merupakan sebuah kehormatan bagi kami, kumparanBOLANITA, bisa berbincang langsung dengan beliau di kediamannya yang berada di Jl. Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami berkesempatan mengulik kisah hidupnya di sepak bola, baik ketika masih aktif menjadi pemain ataupun sudah menjadi pelatih kepala.

Rumah Bu Itut tidak terlalu sulit ditemukan. Letaknya hanya sekitar 300 meter dari Lapangan Nogotirto, tempatnya biasa melatih PSW Putri Mataram.

Dengan diantar ojek online, kami tiba di depan rumah Bu Itut. Rumah tersebut bertingkat dua. Lantai pertamanya digunakan untuk menyimpan kendaraan roda dua, juga terdapat kandang berisi dua kucing peliharaannya.

Setelah beberapa detik memperhatikan kediamannya, kami pun mengucapkan salam. Tak lama, Bu Itut langsung keluar menemui kami yang masih berdiri memegang payung karena hujan sedang turun di daerah tersebut.

"Dari kumparan, ya? Sini, sini, silakan masuk. Maaf berantakan, ya," katanya saat pertama kali berjumpa kami.

Mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya, kami dengan cepat menggeleng dan langsung mengikuti jejak Bu Itut masuk ke dalam rumahnya.

Saat pertama kali menginjakkan kakinya di lantai dua rumah bertingkat itu, kami langsung disambut deretan piala yang tersusun rapi di dua rak cokelat tua berukuran besar. Piala-piala itu merupakan hasil tangan dinginnya saat melatih tim binaannya.

Selain itu, di atas lemari, terpampang pula berbagai prize board yang bertuliskan juara pertama, runner-up, hingga peringkat ketiga.

Decak kagum meluncur begitu saja dari mulut kami. Menyadari perhatian kami "ter-distract" pada koleksi piala tersebut, Bu Itut pun tersenyum dan langsung mempersilakan kami duduk di atas tikar yang sudah disiapkan, lengkap dengan minuman.

Setelah meminumnya, kami langsung mengajaknya mengobrol. Dimulai dari bertanya tentang kesibukannya saat ini, bagaimana ia tetap aktif melatih di usia yang telah menginjak kepala enam, hingga pengalamannya bermain untuk Timnas Wanita Indonesia di era 1980-an.

Kami larut mendengarkan ceritanya hingga tak terasa, waktu sudah berjalan 15 menit. Kami lalu memutuskan untuk memulai sesi wawancara di depan dua rak cokelat berisi piala-piala itu.

Dengan deretan pertanyaan yang kami ajukan, berikut cerita Bu Itut tentang perjalanannya di sepak bola.

Banyak yang mengenalnya sebagai seorang pelatih sepak bola. Namun, Itut ternyata juga bekerja sebagai Pegawai Negara Sipil (PNS) dan menjabat sebagai kepala sekolah di SD Negeri Ngrenak, Yogyakarta.

"Dari pagi sampai sore hari saya bekerja sebagai kepala sekolah di SD Negeri Ngrenak, lalu setiap Jumat sore dan Minggu pagi saya melatih anak-anak Putri Mataram. Yang aman saat ini kami sedang menyiapkan anak-anak untuk mengikuti HYDROPLUS Soccer League U-15 dan U-18 di Kudus," cerita Itut.

Sebelum menjadi kepala sekolah, Itut mengabdi sebagai guru olahraga di SD Negeri Pandanpuro 2 selama 25 tahun. Setelah itu, ia menjabat sebagai kepala sekolah di SD Negeri Kandangan 2 selama tujuh tahun.

"Kemudian dipindah lagi menjadi kepala sekolah di SD Negeri Karaan selama kurang lebih enam tahun. Nah, sekarang saya sebagai kepala sekolah di SD Negeri Ngrenak, Godean. Sampai nanti menunggu pensiun 1 Agustus 2026," lanjut Itut.

Awal Melatih PSW Putri Mataram

Sebelum menjadi pelatih kepala di PSW Putri Mataram, Itut merupakan seorang pemain aktif di klub tersebut. Ia mulai membela Putri Mataram pada 1981, saat masih duduk di kelas 1 SMP.

Saat itu, PSW Putri Mataram dilatih oleh Almarhum Sudarsono, salah satu sosok yang turut membentuk PSS Sleman. Setelahnya, posisi pelatih sempat dipegang Eko, Restu Sagita, dan Putut.

Namun, karena ketiganya sudah diterima menjadi guru di tiga kota berbeda: Lombok, Yogyakarta, dan Batang, posisi pelatih pun kosong. Dari situlah Itut mendapat kesempatan untuk memulai kariernya kepelatihannya.

"Karena Pak Darsono sudah tua, akhirnya saya diminta untuk menjadi asisten dulu awalnya. Waktu itu masih ada beliau-beliau bertiga itu masih ada, membantu mereka. Setelah ketiganya mendapat pekerjaan, nah otomatis saya, saya yang diminta Pak Darsono untuk menjadi pelatih," kata Itut.

Turnamen pertamanya saat melatih Putri Mataram adalah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) pada 2008.

"Waktu itu di Porprov itu akan mempertandingkan sepak bola sepak bola wanita. Nah, di situlah saya mulai menekuni benar-benar menjadi seorang pelatih kepala di Putri Mataram," ujar Itut.

Tak Digaji Klub

Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Itut mengungkapkan alasannya masih bertahan sebagai pelatih PSW Putri Mataram. Salah satunya adalah karena minimnya pelatih perempuan di Indonesia.

"Alasan kedua, karena di Putri Mataram itu tidak digaji. Jadi benar-benar kami murni tidak digaji. Tapi tidak masalah, yang penting Putri Mataram tetap eksis, atletnya semakin banyak, semakin berprestasi. Itu juga sudah merupakan gaji buat kami," ungkap Itut.

Beruntung, kondisi Putri Mataram mulai membaik setelah dikelola pihak baru. Dampaknya pun terasa bagi Itut dan para pemain.

"Jadi, sekarang untuk Putri Mataram setiap anggotanya sudah ada iurannya. Jadi kami-kami yang didapuk sebagai pelatih alhamdulillah mulai tahun 2025 kemarin istilahnya apa ya namanya... mendapatkan uang ganti bensinlah," ucap Itut.

"Kalau gaji, saya rasa belum dikatakan gaji. Tapi kalau uang ganti bensin, iya sampai saat ini," sambungnya.

Perkuat Timnas Wanita Indonesia

Itut juga bercerita bahwa dirinya pernah memperkuat Timnas Wanita Indonesia di tahun 1980-an, tepatnya 1984. Ia terpilih sebagai salah satu pemain yang tampil dalam laga persahabatan melawan Prancis di Yogyakarta. Selain itu, Itut juga bermain di turnamen Ibu Tien Soeharto Cup di Jakarta.

Puncak kariernya datang pada 1989, ketika Itut menjadi satu-satunya wakil DIY yang lolos seleksi timnas untuk Piala Asia Wanita di Hong Kong. Saat itu, Indonesia berada satu grup dengan Jepang, India, dan tuan rumah. Namun, Itut dan tim gagal lolos dari fase grup setelah kalah selisih gol dari Hong Kong yang menjadi runner-up grup.

"Gitu ceritanya waktu saya membela Timnas Wanita Indonesia," pungkas Itut.

Bela Timnas, Disambangi Wartawan

Setelah sukses bermain untuk timnas, Itut mengaku sempat disambangi wartawan sesaat setelah pulang ke rumahnya. Saat itu, wartawan yang berasal dari media Kedaulatan Rakyat tersebut mewawancarainya dan juga mengambil banyak dokumentasi.

"Itu foto (hasil wawancaranya) di sana. Masih saya dokumentasikan walaupun sudah enggak begitu bagus," ujar Itut sambil menunjuk ke sebelah kiri tempatnya berada, tempat bingkai besar dipajang tengah ruangannya.

Bingkai tersebut berisi foto-foto ketika Itut masih mengenakan seragam sepak bola, baik untuk timnas maupun PSW Putri Mataram.

"Terus kemudian selisih sehari ada update kan. Nah, di situlah baru orang-orang tahu kalau saya ternyata mewakili Indonesia mengikuti timnas ke Hong Kong," imbuhnya.

Menariknya, Itut tak memberi tahu tempatnya bekerja, Unit Pelaksana Teknis (UPT), saat terbang ke luar negeri untuk mengikuti turnamen. Ia—yang saat itu sudah menjadi guru—memilih nekat bermain diam-diam.

"Sebenarnya dulu saya izin itu nggak diizinkan. Jadi saya sudah jadi guru waktu itu, dan saya nggak diizinkan sama ketua UPT. Tapi saya nekat, tiga bulan di sana, TC (pemusatan latihan), kemudian sampai akhir tahun saya masih di sana. Jadi tahun barunya nggak di rumah waktu itu," kenang Itut.

"Jadi, saya nekat waktu itu. Alhamdulillah nggak ada apa-apa. Setelah terbit di koran, ketua UPT-nya langsung ngucapin selamat ke saya. Waktu itu beliau agak sepuh juga. Mungkin tahu, 'Oh bocah kok bal-balan' (anak kok main bola). Gitu kali ya," pungkasnya sambil tertawa.

Kini, setelah memiliki segudang pengalaman di sepak bola, Itut memutuskan tetap berada di lapangan hijau bersama PSW Putri Mataram. Tujuannya hanya satu, ingin menanamkan ilmu kepada anak-anak asuhannya agar kelak mengikuti jejaknya—berseragam tim nasional Indonesia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
300-400 ribu lansia dan 36 ribu disabilitas masuk target MBG tahun ini
• 10 menit laluantaranews.com
thumb
Prabowo Bakal Lantik Pejabat Baru Sore Ini, Wamenkeu Baru Pengganti Thomas Djiwandono?
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Viral! Pemuda Mentawai Selamatkan Penyu dari Buruan Warga, Ingatkan Dagingnya Beracun
• 21 jam lalugenpi.co
thumb
Istana Tanggapi Kabar Keluarga Bocah SD Bunuh Diri di NTT Tak Dapat Bansos
• 17 jam laluliputan6.com
thumb
Temui Putra Mahkota Abu Dhabi, Megawati Kenalkan Pancasila sebagai Falsafah Pemersatu Bangsa
• 11 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.