BMKG mengungkapkan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, siklon tropis semakin mendekat ke daratan Indonesia. Kondisi ini membuat dampak cuaca ekstrem berpotensi lebih sering terjadi dalam 10 hingga 20 tahun ke depan.
Plt Deputi Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengatakan saat ini pihaknya terus memantau aktivitas siklon tropis yang berkembang di wilayah selatan Jawa. Meski Indonesia tidak dilintasi langsung oleh badai, dampak siklon dapat dirasakan dari jarak jauh.
“Nah, ini kita terus monitor, saat ini sedang aktif beberapa siklon tropis di wilayah selatan Jawa yang paling terdampak, dampaknya karena secara remote tadi ya, membuat pola sirkulasi angin walaupun kita tidak dilewati badai seperti di Amerika, di Filipina, di Jepang, tetapi cuaca ekstrem dampak dari pengaruh itu bisa sampai 1.000 km, 500 km sampai 1.000 km terhadap pola cuaca,” kata Andri dalam sebuah diskusi di DPR, Kamis (5/2).
Ia menjelaskan, efek jarak jauh atau remote effect dari siklon tropis tersebut dapat memicu hujan ekstrem yang berlangsung selama beberapa hari. Dampaknya tidak hanya dirasakan di wilayah selatan Jawa, tetapi juga dapat menjalar hingga Jakarta dan kawasan Pantura.
“Kalau terjadi di selatan, ini misalkan di selatan Jawa, juga bisa berdampak terhadap Jakarta, juga di kota-kota di Pantura, gitu. Tidak hanya yang di selatan Jawa karena pengaruhnya itu 500 hingga 1.000 km remote effect-nya siklon tropis tersebut,” ujarnya.
Menurut Andri, secara historis kejadian siklon tropis yang mendekati Indonesia memang tergolong jarang. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, fenomena tersebut mulai berubah seiring pengaruh perubahan iklim.
“Kemudian ini ternyata walaupun kita secara historikal jarang, tapi sejak beberapa dekade sudah mulai mendekat dengan perubahan iklim itu,” ucapnya.
Ia mencontohkan sejumlah siklon yang pernah terjadi, seperti Cempaka pada 2017, Seroja, hingga yang terbaru Senyar. Pergerakan siklon-siklon ini dinilai semakin bergeser mendekati daratan.
“Jadi semakin ke sini, si siklon itu semakin mendekat ke daratan, bergeser. Nah, inilah yang artinya kita 10 tahun, 20 tahun ke depan itu akan menghadapi ancaman serupa,” kata Andri.




