Lampu Merah dan Hijau dalam Kehidupan

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Sejak kecil, seolah-olah dewi takdir selalu memperlakukan Mike dengan tidak adil.

Saat berusia empat tahun, kedua orangtuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Sejak itu, dia diasuh oleh seorang paman jauh.

Namun, sang paman memperlakukannya dengan sangat kejam. Bentakan dan pukulan sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupannya.

Mike tumbuh menjadi anak yang dewasa sebelum waktunya. Dia belajar dengan sangat giat, meraih prestasi yang gemilang, dan berhasil diterima di jurusan favorit sebuah universitas ternama.

Namun, ketika lulus, kondisi ekonomi nasional sedang terpuruk. Selama setahun penuh dia berjuang mencari pekerjaan, tetapi tak satu pun membuahkan hasil.

Satu-satunya orang yang paling baik padanya adalah seorang nenek pemilik rumah kontrakan, berusia lebih dari enam puluh tahun. Rambutnya sudah memutih, tetapi dari wajahnya masih terpancar ketenangan dan keanggunan.

Setiap kali Mike pulang, nenek itu selalu membukakan pintu dengan senyum hangat, meskipun Mike sebenarnya memiliki kunci sendiri.

Melihat wajah Mike yang murung, sang nenek selalu menenangkannya :  “Mike, keadaan tidak seburuk itu. Semua akan membaik.”

Setiap kali mendengar itu, Mike merasa terharu. Namun di dalam hati, dia merasa nenek itu tak mungkin memahami kesulitannya.

Dia berpikir, andai hidupnya sesederhana sang nenek—yang setiap hari hanya duduk memandangi jalan dengan lalu lintas kendaraan dan kerumunan orang yang berlalu-lalang—dia pun pasti bisa hidup sebahagia itu.

Suatu hari, Mike memperhatikan nenek itu yang tengah menatap jalan dengan penuh perhatian. Dia pun heran, dunia seperti apa yang ada di dalam pikirannya? Jalan itu terlihat sama saja setiap hari, tak ada sesuatu yang menarik untuk dilihat.

Akhirnya dia tak tahan untuk bertanya: “Apa yang Nenek lihat setiap hari? Apa ada hal menarik di sana?”

Nenek itu tersenyum ramah dan berkata :  “Anakku, lampu lalu lintas di jalan itu sedang menuliskan perjalanan hidup begitu banyak orang. Bagaimana mungkin itu tidak menarik?”

“Bukankah itu hanya lampu merah dan hijau?” tanya Mike, masih belum mengerti.

“Anakku, kamu belum memahami,” lanjut sang nenek. “Hidup ini seperti lampu lalu lintas. Kadang merah, kadang hijau. Saat lampu merah, kita tak bisa melangkah. Jika memaksa bergerak, yang terjadi hanyalah kecelakaan. Saat lampu hijau, jalan terbuka lebar tanpa hambatan.”

Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan : “Terkadang dari kejauhan lampu tampak hijau, tetapi ketika kendaraan mendekat, tiba-tiba berubah menjadi merah. Kadang dari jauh terlihat merah, namun saat mendekat justru berubah hijau.

Ada kendaraan yang di setiap persimpangan selalu bertemu hijau lalu berubah merah. Ada pula yang di setiap persimpangan selalu menemui merah lalu berubah hijau.

Namun pada akhirnya, semuanya tetap meninggalkan tempat ini dan melaju menuju tujuan yang jauh.

Bukankah karena pergantian merah dan hijau itulah langkah hidup bisa diatur cepat dan lambat, dan pemandangan hidup menjadi berwarna-warni?

Lalu mengapa harus gelisah hanya karena satu lampu merah, atau terlalu berlebihan bersukacita karena satu lampu hijau?”

Saat itulah Mike akhirnya mengerti. Selama ini dia hanya terus bertabrakan dengan lampu merah di persimpangan hidupnya. Namun lampu hijau pasti akan menyala, dan kejauhan tetap memanggilnya untuk melangkah maju.

Dengan rasa syukur yang mendalam kepada sang nenek, Mike pun memulai kembali perjuangannya.

Pada usia empat puluh tahun, Mike menjadi salah satu distributor komputer paling terkenal di Amerika Serikat, dengan kekayaan bernilai miliaran.

Saat memberikan pidato di Universitas Harvard, di tengah gemuruh tepuk tangan, dia tak melupakan nasihat nenek pemilik rumah kontrakannya dulu. Dengan tenang dia berkata bahwa dirinya hanyalah seseorang yang kebetulan bertemu lampu hijau dalam hidup.

Saat berhasil, jangan lupa bahwa hidup masih memiliki lampu merah.  Saat gagal, jangan lupa bahwa mungkin di depan sana lampu hijau sudah menanti.

Hikmah Cerita

Segala sesuatu dalam hidup sesungguhnya mengandung kebijaksanaan. Di mana pun terdapat nilai-nilai perenungan. Bahkan lampu lalu lintas yang paling biasa pun, di mata orang bijak, dapat berubah menjadi filsafat kehidupan.

Manusia menjalani hidup, hari demi hari berlalu, dan memang sudah sewajarnya ada masa lancar maupun masa sulit. Jika kita memandang kesulitan sebagai hal yang wajar, maka rintangan hanyalah satu tahapan yang harus dilalui menuju keberhasilan.

Saat tanpa sengaja kita bertemu “lampu merah” dalam hidup, ingatlah kisah ini. Ketika lampu merah berlalu, lampu hijau pasti akan menyala. Dan hidup, tetaplah indah seperti adanya.

Semoga membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua. (jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
IHSG Dibuka Menguat 0,10 Persen ke Level 8.155 saat Bursa Asia Melemah
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Wamendagri: Pos Lintas Batas Negara di Papua Jangan Jadi Pajangan!
• 5 jam laluokezone.com
thumb
Roy Suryo Cs Minta Salinan 709 Dokumen Terkait Ijazah Jokowi, Ini Kata Polda Metro
• 1 jam lalurctiplus.com
thumb
KPK Tetapkan Mulyono sebagai Tersangka Suap
• 2 jam lalurealita.co
thumb
Pemkab Agam Usulkan Program Padat Karya Rp3,8 Miliar dan Pelatihan untuk Penyintas Bencana
• 1 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.