SEMARANG, KOMPAS — Hingga Kamis (5/2/2026), belum ada kasus infeksi nipah yang terdeteksi di Jawa Tengah. Untuk mencegah masuknya masuknya virus nipah di wilayah tersebut, pengawasan diketatkan, terutama di pintu-pintu masuk Jateng dari luar negeri, seperti di bandara.
Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yunita Dyah Suminar mengatakan, virus nipah tergolong zoonosis atau dapat menular dari hewan, terutama kelelawar sebagai inang alami, kepada manusia. Penularannya dapat terjadi melalui kontak dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan yang terkontaminasi, maupun kontak erat antarmanusia.
Sekitar 4 hingga 14 hari setelah terpapar virus nipah, biasanya muncul sejumlah gejala. Gejala-gejala itu seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan. Menurut Yunita, gejala lain, misalnya mudah mengantuk, penurunan kesadaran, dan pneumonia berat juga bisa mengikuti.
"Karena gejalanya mirip fl, kalau flu jangan dianggap enteng. Ketika gejalanya memberat segera ke fasilitas kesehatan untuk memeriksakan diri lebih lanjut," kata Yunita saat ditemui, Kamis (5/2/2026).
Yunita menyebut, hingga Kamis, belum ada kasus infeksi nipah di Jateng. Untuk itu, ia meminta semua pihak turut berperan aktig dalam upaya pencegahan.
Menurut Yunita, penularan nipah bisa dicegah dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk tidak mengonsumsi nira atau aren langsung dari pohonnya.
"Sebelum memakan buah, cuci dan kupas buah secara menyeluruh. Lalu, jangan ambil buah yang jatuh dari pohon. Biasanya kan orang ambil buah yang jatuh dari pohon karena biasanya manis kan, nah itu jangan diambil atau dimakan. Segera buang buah yang ada tanda gigitan hewannya," ucapnya.
Yunita juga mengimbau masyarakat untuk menghindari kontak dengan hewan yang terinfeksi. Bagi petugas pemotong hewan diharapkan bisa menggunakan alat perlindungan diri saat bekerja.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi mengatakan, di Jateng ada sistem pengawasan kesehatan hingga tingkat desa, yakni program dokter spesialis keliling atau Sipeling. Masyarakat diminta memanfaatkan program itu untuk deteksi dini.
"Kami punya program Sipeling sampai tingkat desa. Saya yakin kami punya penjagaan yang luar biasa," ujarnya.
Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1998 setelah menyebar di antara peternakan babi di Malaysia. Nama virus tersebut diambil dari nama desa tempat virus itu ditemukan. Sejak itu, kasus infeksi virus Nipah telah dilaporkan di Bangladesh, India, Filipina, dan Singapura. Terbaru, penyebaran virus itu kembali terjadi di India pada 2026 (Kompas.id, 4/2/2026).
Di Jateng, ada dua bandara internasional yang menjadi pintu masuk orang dari luar negeri. Salah satunya adalah Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang. Seiring dengan ditemukannya virus nipah di luar negeri, pengelola bandara yang melayani penerbangan internasional dari dan menuju Malaysia serta Singapura itu pun mengetatkan pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional.
"Balai Karantina Kesehatan Kelas I Semarang melakukan pemantauan penumpang internasional yang tiba dengan menggunakan thermal scanner untuk mendeteksi suhu tubuh penumpang. Thermal scanner ini berlokasi di area kedatangan penumpang internasional," kata Branch Communication and Corporate Social Responsibility Department Head Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang, Arif Haryanto.
Menurut Arif, petugas akan melakukan observasi dan pemeriksaan lanjutan terhadap penumpang yang terpantau demam atau sakit saat kedatangan. Penumpang yang merasakan demam atau sakit juga diharapkan melapor kepada petugas agar bisa diperiksa lebih lanjut.




