PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menargetkan kredit pemilikan rumah (KPR) mencapai 6%–7% untuk 2026. Bank swasta raksasa itu sebelumnya membukukan KPR dengan nilai menembus Rp 142,3 triliun sepanjang 2025.
Adapun rasio loan at risk (LAR) membaik menjadi 4,8% dari 5,3% pada tahun sebelumnya, serta rasio kredit bermasalah (NPL) yang terkendali di level 1,7%. Perseroan juga menyiapkan pencadangan yang memadai, dengan coverage ratio NPL mencapai 183,8% dan LAR sebesar 71,6%.
SVP Consumer Credit BCA, Melani Megawati mengatakan, target pertumbuhan kredit KPR BCA salah satunya didukung sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk perpanjangan insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah atau PPN DTP. Ia juga mengatakan hal itu didukung dari suku bunga acuan 4,75% yang diperkirakan tetap stabil.
“Jadi kami lihat dengan adanya hal-hal yang positif itu kami berharap memang ada pertumbuhan mungkin beberapa persen,” ucap Melani dalam BCA Expoversary 2026 bertajuk “2025 Challenging, Bagaimana Prospek KPR pada Tahun 2026?” di ICE BSD, Tangerang, Kamis (5/2).
Dia menambahkan, pertumbuhan kredit BCA di akhir tahun tercatat lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya. Menurutnya, pola pada 2025 terbilang unik karena penyaluran kredit pada November–Desember 2025 justru melampaui September 2025. Ia mengaku hal ini dipicu penutupan program insentif PPN DTP yang mendorong nasabah mempercepat untuk mengambil KPR.
“Bahkan sampai tanggal 30 Desember (2025) itu nasabah KPR BCA masih ada yang akad, jadi benar-benar sampai akhir tahun itu malah lebih banyak,” ucapnya.
Soal permintaan KPR pada 2026, ia belum bisa memroyeksikan lebih jauh terutama karena masih awal tahun. Meski begitu, permintaan kredit sejauh ini menurutnya masih stabil. Dia menganggap hal itu didukung dari sejumlah kebijakan pemerintah termasuk perpanjangan insentif PPN DTP yang dinilai memberi dampak positif terhadap daya beli masyarakat dalam pembelian rumah.
Selain itu, berbagai kebijakan pemerintah lainnya seperti pro-properti juga mendorong pertumbuhan sektor KPR. Sebagai contoh, pemerintah yang mendukung pembangunan infrastruktur juga bisa mengerek kualitas dan daya tarik suatu kawasan yang pada akhirnya mendukung permintaan hunian.
“Karena dengan adanya infrastruktur, contohnya ada pertumbuhan LRT, terus juga dibukanya tol-tol baru,” katanya.
Laba BCA Tembus Rp 57,5 Triliun untuk Tahun Buku 2025
Jika melihat kinerja keuangannya, BBCA membukukan laba bersih Rp 57,5 triliun tahun buku 2025 atau naik 4,9% year on year (YoY).
Sepanjang Januari–Desember 2025, BCA dan entitas anak membukukan total kredit 7,7% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 993 triliun per Desember 2025. Secara rata-rata, pertumbuhan kredit BCA mencapai 10,8% sepanjang 2025. Penyaluran kredit BCA terdistribusi ke berbagai sektor, di antaranya manufaktur, perdagangan, restoran, hotel dan rumah tangga.
Di sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) naik 13,1% YoY hingga Rp 1.045 triliun. Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong mengatakan torehan ini berkat dukungan besar dari pemerintah dan otoritas membantu perusahaan melewati 2025 dan menorehkan kinerja positif.
Sepanjang tahun lalu, BCA menyelenggarakan berbagai acara seperti dua kali perhelatan Expo, BCA UMKM Fest, BCA Wealth Summit, dan Gebyar Hadiah BCA.
“Berbagai kegiatan itu berdampak positif terhadap kinerja BCA, dan menjadi wujud komitmen kami untuk terus hadir serta memenuhi berbagai kebutuhan nasabah dan masyarakat Indonesia,” ucap Hendra dalam keterangannya, Selasa (27/1).
Selain itu, kredit usaha BCA naik 9,9% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 756,5 triliun per Desember 2025. Dari sisi konsumen, BCA menjaga pembiayaan di level Rp 224,1 triliun, didukung oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar Rp 142,3 triliun serta kredit kendaraan bermotor (KKB) senilai Rp 56,6 triliun.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5315768/original/045151800_1755170609-20250808AA_BRI_Super_League_Persebaya_Surabaya_Vs_PSIM_Yogyakarta__26_of_75_.jpg)