Tragedi kematian seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Ngada, Nusa Tenggara Timur, mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, siswa kelas empat SD tersebut diduga meninggal akibat bunuh diri yang salah satunya dipicu kemiskinan ekstrem, bahkan orang tua korban disebut tidak memiliki uang untuk sekedar membeli buku dan pena yang diminta korban.
29 Januari 2026, di sebuah desa di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, batin seorang anak SD bergejolak. Korban berusia sepuluh tahun yang tinggal bersama neneknya ditemukan tidak bernyawa, dengan dugaan awal mengarah pada tindakan bunuh diri. Korban telah ditinggalkan sang ayah sejak masih dalam kandungan.
Baca juga: Berikut Tanda Peringatan Dini Anak Alami Masalah Mental
Sang ibu harus bekerja keras sebagai petani dan buruh serabutan untuk menafkahi lima anak, termasuk korban. Namun, demi membantu kondisi ekonomi keluarga, korban diminta tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun. Keduanya bergantung pada hasil kebun untuk makan, dengan menu paling sering berupa pisang dan ubi.
Kondisi keluarga korban yang hidup dalam kemiskinan dinilai berdampak pada minimnya pendampingan emosional serta terbatasnya akses pendidikan. Ironisnya, keluarga korban juga diketahui luput dari bantuan pemerintah. Korban sempat menuliskan pesan perpisahan dalam bahasa daerah Bajawa untuk sang ibu.




