Ekologi Politik Feminis, Ruang Kolaborasi dan Perjumpaan pada Masa Krisis

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Ekologi politik feminis tak sekadar disiplin akademik, melainkan "komunitas praktik" yang mengaitkan riset, pengalaman hidup, dan aksi nyata. Di tengah krisis iklim dan perampasan ruang hidup, pendekatan ini menjadi ruang kolaborasi (convening space) untuk membangun narasi inklusif yang menghormati seluruh suara, terutama yang ada di pinggiran.

Ekologi politik feminis (Feminist Political Ecology/FPE) juga bukan hanya mengenai kebijakan lingkungan secara umum, melainkan tentang etika kepedulian (ethics of care) terhadap sesama dan Bumi.

Pandangan ini disampaikan Prof Rebecca Elmhirst dari University of Brighton, Inggris, saat menyampaikan materi pada Saparinah Sadli Distinguished Lecture, Rabu (4/2/2026) petang, di kampus Universitas Indonesia (UI), Salemba, Jakarta.

Ia membawa materi berjudul “Feminist Political Ecology as A Convening Space in Challenging Times” yang mengupas bagaimana relevansi ekologi politik feminis sebagai "ruang perjumpaan" di tengah zaman yang kian menantang.

Baca JugaEkofeminisme, Mendobrak Narasi Tunggal Pembangunan

Kegiatan yang digelar Program Studi (Prodi) Kajian Gender Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) UI, juga berlangsung daring. Kegiatan tersebut tak hanya menjadi forum intelektual, tapi untuk menyongsong usia 100 tahun (Agustus 2026) Prof Saparinah Sadli, pionir dan ikon gerakan perempuan di Indonesia.

Saparinah yang hadir secara daring menyampaikan terima kasih kepada Elmhirst yang menyampaikan materi kuliah umum tersebut, termasuk kepada Program Studi Kajian Gender Universitas Indonesia yang mengadakan acara tersebut, serta para undangan yang hadir.

”Selamat sore. Maaf, saya tidak bisa hadir, karena sudah tidak lagi terbiasa keluar lagi, keluar rumah,” ujar Saparinah.

Lahir dari pengalaman perempuan

Elmhirst mengawali kuliahnya dengan sebuah pengakuan akan pemikiran feminis di Indonesia melalui Kajian Wanita UI pada tahun 1996. Baginya, lembaga yang didirikan oleh Saparinah ini merupakan ruang pemersatu (convening space) yang krusial.

Hal ini disebabkan lembaga tersebut mempertemukan para akademisi, aktivis, dan masyarakat untuk berkolaborasi, belajar bersama, dan membangun gerakan yang inklusif.

Interseksi antara kapitalisme, patriarki, dan logika kolonial membuat keuntungan ekonomi sawit terkumpul di pihak luar. Sementara biaya kerusakan lokal dan sosial harus dipikul oleh perempuan.

Ekologi politik feminis, lahir dari pengalaman perempuan di berbagai belahan dunia, dari aktivis keadilan rasial di Amerika Serikat hingga gerakan masyarakat adat yang melawan perampasan tanah.

Elmhirst yang akrab disapa Becky, meneliti dinamika politik ekologi di Indonesia sejak 1994 menegaskan, ekologi politik feminis adalah alat analisis kritis untuk memahami bagaimana krisis lingkungan global ditentukan oleh relasi kuasa, jender, kelas, dan sejarah kolonial.

Ia mengangkat studi kasus dari Kalimantan Barat, melalui kisah Magdalena Pandan, seorang perempuan Dayak yang ruang hidupnya tergerus oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit.

Bagaimana pembangunan industri ekstraktif kerap mengabaikan sistem pengetahuan lokal dan menghancurkan akses perempuan terhadap sumber daya alam seperti air bersih dan hasil hutan yang sebelumnya menjadi tumpuan hidup.

" Interseksi antara kapitalisme, patriarki, dan logika kolonial membuat keuntungan ekonomi sawit terkumpul di pihak luar. Sementara biaya kerusakan lokal dan sosial harus dipikul oleh perempuan seperti Magdalena," tegas Elmhirst.

Ruang perjumpaan dalam aksi

Tanpa harus menyebut nama ekologi politik feminis, jejak dan warisan Saparinah Sadli merupakan manifestasi nyata semangat yang diusung Elmhirst. Pendirian Prodi Kajian Wanita (kini Kajian Gender) di UI pada 1990 merupakan langkah visioner dalam menciptakan ruang perjumpaan intelektual yang kritis dan lintas disiplin.

Lebih jauh lagi, komitmen Saparinah pada perjuangan perempuan membawanya menjadi Ketua Komnas Perempuan pada 1998. Lembaga yang lahir dari rahim gerakan perempuan pasca-tragedi Mei 1998, menjadi bukti nyata bagaimana "ruang pemersatu" bisa menerjemahkan analisis kritis menjadi kebijakan dan advokasi yang konkret untuk melindungi korban dan memperjuangkan keadilan.

Kiprah Saparinah selama ini menunjukkan perjuangan untuk keadilan jender dan kemanusiaan merupakan maraton panjang yang membutuhkan institusi, jaringan, dan kolaborasi. Ini, persis seperti yang digambarkan Elmhirst, FPE adalah tentang "bekerja bersama, berkumpul, dan membangun sesuatu secara inklusif yang menghormati semua suara."

Baca Juga Saparinah Sadli, Ulang Tahun Ke-99

Bahkan, ketika menutup presentasinya, Elmhirst meminjam metafora bunga dandelion-tanaman yang sering dianggap gulma namun mampu tumbuh menembus beton, dan setiap bagiannya memiliki manfaat. “Bagaimana kita semua bisa menjadi dandelion?” tanyanya retoris.

Dandelion menjadi simbol resiliensi, kemampuan beradaptasi, dan kekuatan untuk terus tumbuh di tengah kondisi yang paling sulit sekalipun. Semangat dandelion ini merefleksikan perjalanan panjang gerakan perempuan di Indonesia.

Karena itu kuliah umum tersebut bukan sekadar pertemuan akademik biasa, melainkan refleksi mendalam untuk menyongsong 100 tahun Saparinah Sadli, sosok yang dijuluki sebagai "ibu" bagi kajian jender dan gerakan perempuan di Indonesia.

Momentum tersebut juga bertepatan dengan perayaan 36 tahun Prodi Kajian Gender UI, institusi pendidikan magister studi jender pertama dan tertua di Indonesia yang didirikan oleh Prof. Saparinah pada tahun 1990.

Sebelum kuliah umum, melalui pemutaran video profil, audiens diingatkan kembali pada kiprah legendaris Prof Saparinah, mulai dari Dekan Fakultas Psikologi UI (1976-1981) hingga perannya sebagai pendiri dan Ketua Pertama Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pasca-kerusuhan Mei 1998.

Saparinah menerima berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden Megawati Soekarnoputri (2002) dan Cendekiawan Berdedikasi Harian Kompas (2009). Meski kini telah berusia lanjut, semangatnya tidak pudar.

Mia Siscawati, Ketua Prodi Kajian Gender SPPB UI mengungkapkan kuliah umum itu merupakan momentum krusial yang mempertemukan dua tonggak sejarah penting, yakni menyongsong 100 tahun Saparinah dan merayakan 36 tahun perjalanan Prodi Kajian Gender UI.

Di mata Mia, Saparinah bukan hanya sebagai pendiri prodi, tetapi juga "ibu" bagi gerakan perempuan di Indonesia serta pendiri Komnas Perempuan.

" Bagi kami, Ibu Saparinah menjadi orang yang selalu memberikan teladan. Sampai usia ini, Ibu masih rajin membaca dan mengajak kami diskusi mengenai berbagai perkembangan situasi sosial politik di Indonesia," ujar Mia menambahkan.

Wakil Direktur Sumber Daya Manusia Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan UI Fuad Gani menyampaikan perspektif jender dan interseksionalitas yang dibawakan Prof Elmhirst sangat dibutuhkan dalam penyusunan kebijakan pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Distinguished Lecture ini menjadi pengingat bahwa pemikiran kritis dan gerakan sosial harus terus-menerus dirawat dalam ruang-ruang perjumpaan yang subur.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ekonomi RI Tumbuh 5,39% di Kuartal IV 2025, Airlangga Klaim Lebih Baik dari Sejumlah Negara
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kisah Pilu Siswa SD di NTT yang Bunuh Diri: Jualan Kayu Bakar untuk Makan
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Gerakan Indonesia ASRI Digelar Serentak, TNI–Polri Bersih-bersih Lingkungan
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
Peneliti Berpendapat Atasan Langsung Pelaku Korupsi Harus Ikut Bertanggung Jawab
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Mendag RI: Jepang pilar penting pembangunan ekonomi Indonesia
• 56 menit lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.