Burung Trinil: Si Gesit Penjaga Lahan Basah yang Sering Terabaikan

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Di tepi sawah yang mulai mengering, seekor burung kecil tampak berjalan cepat. Sesekali ia berhenti, mematuk lumpur, lalu berlari pendek sebelum terbang rendah. Orang kampung menyebutnya ancul-ancul. Dunia ilmiah mengenalnya sebagai trinil, anggota genus Tringa. Tubuhnya tergolong sedang, tetapi perannya bagi ekosistem lahan basah sangat besar.

Trinil bukan burung asing di Indonesia. Ia hadir hampir sepanjang tahun, terutama saat musim migrasi. Sawah, rawa, sungai dangkal, hingga pantai berlumpur menjadi tempat persinggahannya. Namun keberadaan trinil sering luput dari perhatian, padahal ia adalah indikator penting kesehatan lingkungan perairan dangkal.

Genus Tringa termasuk dalam famili Scolopacidae, kelompok burung pantai yang dikenal sebagai pejalan ulung. Kakinya relatif panjang, tubuhnya ramping, dan paruhnya sensitif terhadap getaran mangsa. Adaptasi ini memungkinkan trinil mencari makan di lumpur tanpa harus menyelam. Mereka memakan serangga air, cacing, krustasea kecil, hingga ikan berukuran sangat kecil.

Penelitian-penelitian ekologi menunjukkan bahwa keberadaan trinil berkorelasi langsung dengan kualitas habitat lahan basah. Ketika trinil menghilang, biasanya ekosistem sedang tidak baik-baik saja.

Trinil dalam Perspektif Ilmiah dan Lokal

Dalam literatur ilmiah, trinil telah lama dikaji sebagai burung migran. Linnaeus mencatat genus Tringa sejak abad ke-18. Namun jauh sebelum itu, masyarakat lokal di Nusantara sudah mengenalnya melalui pengamatan sehari-hari. Nama ancul-ancul muncul dari kebiasaan ekornya yang naik turun saat berjalan.

Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah menegaskan bahwa trinil bukan sekadar burung singgah. Ia memiliki fungsi ekologis penting, terutama sebagai pengendali populasi invertebrata air dan bioindikator kualitas habitat. Penelitian tersebut juga mencatat kehadiran beberapa spesies trinil di lahan basah Indonesia, khususnya Kalimantan dan Jawa.

Dari berbagai jenis Tringa yang tercatat, terdapat tiga spesies trinil yang paling sering dijumpai dan relevan dengan konteks lahan basah Indonesia, yaitu Trinil Pantai (Tringa hypoleucos), Trinil Rawa (Tringa stagnatilis), dan Trinil Semak (Tringa glareola).

Trinil Pantai (Tringa hypoleucos): Si Gesit dari Tepi Air

Trinil pantai adalah jenis yang paling mudah dikenali dan paling sering dijumpai. Ukuran tubuhnya sedang, sekitar 22–24 sentimeter. Warna tubuhnya cokelat keabu-abuan dengan bagian bawah putih bersih. Saat terbang, terlihat jelas garis putih di sayap dan tunggirnya.

Sesuai namanya, trinil pantai sering ditemukan di tepi sungai, danau, pantai berlumpur, serta sawah tergenang. Dalam penelitian yang dimuat pada "Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah", Tringa hypoleucos tercatat memiliki nilai kelimpahan tertinggi dibanding jenis trinil lain. Hal ini menunjukkan daya adaptasinya yang tinggi terhadap berbagai tipe lahan basah.

Trinil pantai dikenal aktif dan gesit. Ia jarang diam terlalu lama. Pola makannya fleksibel, mulai dari serangga air, larva, hingga moluska kecil. Spesies ini juga termasuk migran jarak jauh. Ia berkembang biak di wilayah Eropa dan Asia Utara, lalu bermigrasi ke Asia Tenggara dan Afrika saat musim dingin.

Kemampuan adaptasi inilah yang membuat trinil pantai relatif lebih aman dibanding jenis trinil lainnya. Namun demikian, ketergantungannya pada habitat perairan dangkal tetap membuatnya rentan terhadap pencemaran air dan alih fungsi lahan.

Trinil Rawa (Tringa stagnatilis): Penghuni Setia Perairan Tenang

Berbeda dengan trinil pantai yang lincah dan agresif, trinil rawa memiliki karakter lebih tenang. Tubuhnya ramping dengan kaki relatif lebih panjang. Warna bulunya abu-abu pucat dengan bagian bawah putih. Sekilas ia tampak lebih “bersih” dibanding trinil pantai.

Trinil rawa cenderung memilih habitat perairan yang tenang, seperti rawa, kolam, dan danau dangkal. Penelitian dalam prosiding lahan basah mencatat bahwa Tringa stagnatilis memiliki preferensi habitat yang lebih spesifik. Ia jarang ditemukan di area yang terlalu terganggu aktivitas manusia.

Secara perilaku, trinil rawa lebih berhati-hati. Ia sering mencari makan sendirian atau dalam kelompok kecil. Makanannya didominasi invertebrata air dan organisme mikro yang hidup di dasar perairan. Karena ketergantungannya pada kualitas air yang stabil, keberadaan trinil rawa sering dijadikan indikator awal degradasi lahan basah.

Populasi trinil rawa cenderung lebih sensitif terhadap perubahan lingkungan. Pengeringan rawa, pencemaran, dan reklamasi menjadi ancaman utama bagi spesies ini. Jika trinil rawa mulai jarang terlihat, itu pertanda ekosistem sedang mengalami tekanan serius.

Trinil Semak (Tringa glareola): Sahabat Sawah dan Rawa Musiman

Trinil semak adalah spesies yang sangat familiar di lanskap pertanian Indonesia. Ukuran tubuhnya sedikit lebih kecil dibanding trinil pantai. Ciri khasnya adalah garis alis putih yang kontras serta pola totol halus di bagian atas tubuh.

Dalam prosiding lahan basah, Tringa glareola tercatat sering muncul di sawah, rawa musiman, dan genangan air sementara. Ia termasuk burung migran yang fleksibel dan oportunistik. Saat sawah baru dibajak dan tergenang air, trinil semak sering datang berkelompok kecil.

Keunggulan trinil semak terletak pada kemampuannya memanfaatkan habitat sementara. Ia tidak terlalu bergantung pada rawa permanen. Hal ini membuatnya relatif tahan terhadap perubahan lanskap, selama masih tersedia genangan air musiman.

Namun fleksibilitas ini bukan tanpa batas. Intensifikasi pertanian, penggunaan pestisida berlebihan, dan hilangnya lahan basah alami tetap menjadi ancaman jangka panjang bagi trinil semak. Meski status konservasinya masih tergolong aman, tren populasi perlu terus dipantau.

Penjaga Senyap Ekosistem Lahan Basah

Ketiga jenis trinil tersebut menunjukkan satu benang merah: semuanya bergantung pada lahan basah yang sehat. Mereka mungkin kecil dan jarang diperhatikan, tetapi kehadirannya menyimpan pesan ekologis penting.

Trinil membantu menjaga keseimbangan ekosistem dengan mengendalikan populasi organisme kecil. Mereka juga menjadi bagian dari rantai makanan yang lebih besar. Lebih dari itu, pola migrasi dan kelimpahan trinil memberi sinyal dini tentang perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

Sayangnya, lahan basah Indonesia terus menyusut. Reklamasi, konversi lahan, dan pencemaran menjadi ancaman nyata. Jika trinil pergi, itu bukan sekadar kehilangan satu jenis burung. Itu pertanda kita sedang kehilangan sistem penyangga kehidupan.

Melindungi trinil berarti menjaga air, tanah, dan keberlanjutan pangan. Di tengah hiruk pikuk pembangunan, langkah kecil trinil di lumpur mengingatkan kita bahwa alam selalu berbicara.

Daftar Pustaka

BirdLife International. 2023. Species factsheet: Tringa hypoleucos, Tringa stagnatilis, Tringa glareola. https://datazone.birdlife.org

Hayman, P., J. Marchant, dan T. Prater. 1986. Shorebirds: An Identification Guide. London: Christopher Helm. https://archive.org/details/shorebirdsidenti0000haym

Piersma, T. 2011. Ecology of Migratory Shorebirds. Cambridge: Cambridge University Press. https://www.cambridge.org/core/books/ecology-of-migratory-shorebirds

Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah. 2019. "Keanekaragaman Burung Trinil (Tringa sp.) di Kawasan Lahan Basah." https://ppjp.ulm.ac.id/journal/index.php/psnllb/article/view/473


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK soal OTT di Depok: Ada Perpindahan Uang dari Pihak Swasta ke Aparat Penegak Hukum
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Mobil Listrik Suzuki e Vitara Resmi Meluncur, Harga Mulai Rp 755 Juta
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
[FULL] Dirut BPJS & KPCDI Buka Suara: Penerima PBI BPJS Kesehatan Nonaktif, Pasien Terancam?
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Sabu 1,04 Kg Gagal Edar di Kemayoran, Polda Metro Tangkap Sosok Perempuan Ini di Pinggir Jalan!
• 1 jam lalusuara.com
thumb
Pesan Kapolda Metro ke Jajaran: Jadilah Polisi yang Bermanfaat untuk Masyarakat
• 23 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.