Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan produksi dan ketersediaan pangan nasional tetap dalam kondisi aman meskipun sejumlah wilayah Indonesia mengalami curah hujan tinggi. Pemerintah, kata dia, telah melakukan berbagai langkah antisipatif melalui penguatan pengendalian produksi serta pemantauan stok secara ketat.
Mentan Amran mengungkapkan, stok beras nasional per Januari 2026 mencapai 3,3 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Capaian tersebut menunjukkan ketahanan pangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika iklim.
“Insya Allah kondisi cuaca tidak berpengaruh terhadap ketahanan pangan. Stok beras kita saat ini 3,3 juta ton, angka yang belum pernah terjadi sejak Indonesia merdeka,”kata Amran dalam keterangan yang diterima dari laman resmi Kementan, Kamis, 5 Februari 2026.
Ia juga menyoroti lonjakan signifikan serapan beras pemerintah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Januari 2025, serapan beras tercatat sekitar 14 ribu ton, sementara pada Januari 2026 meningkat menjadi 112 ribu ton atau naik sekitar 700 persen.
“Ini menunjukkan sistem pangan kita tetap kuat meskipun menghadapi dinamika cuaca,”jelasnya.
Menurut Amran, curah hujan tinggi justru dapat menjadi faktor pendukung percepatan tanam, selama pengelolaan air dilakukan dengan baik. Tantangan terbesar bagi sektor pertanian, lanjutnya, justru terjadi saat kekeringan ekstrem seperti fenomena El Nino.
Memasuki awal 2026, Kementerian Pertanian terus memantau kondisi produksi dan stok pangan, terutama di wilayah sentra padi. Hasil pemantauan menunjukkan produksi di Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, masih berada dalam kondisi relatif aman meskipun terdapat laporan banjir di beberapa titik.
Sebagai langkah mitigasi, Kementan memanfaatkan informasi prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai dasar pengambilan kebijakan. Pendekatan ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi dampak cuaca ekstrem agar tidak mengganggu pasokan pangan nasional.
Di tingkat lapangan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan juga melakukan peninjauan langsung ke lahan pertanian yang terdampak genangan di Kabupaten Bekasi dan Karawang. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Direktur Jenderal Tanaman Pangan Yudi Sastro atas arahan Menteri Pertanian.
Dalam peninjauan tersebut, dinas pertanian daerah diminta segera mengusulkan bantuan benih bagi petani terdampak agar tanam ulang dapat dilakukan secepat mungkin. Bantuan diprioritaskan untuk wilayah yang mengalami genangan guna mencegah gagal panen dan menjaga kesinambungan produksi.
Selain itu, pemerintah daerah juga didorong mengajukan normalisasi saluran air dan irigasi sebagai langkah jangka menengah dan panjang dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan.
Kementerian Pertanian menegaskan, penguatan tata kelola air serta respons cepat di lapangan menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas produksi pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim.
Editor: Redaktur TVRINews


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F02%2F06%2F555d86940883ee5dcea6679f577d2679-1001357191.jpg)


