Mampukah Industri Sawit Menjawab Krisis Iklim?

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Industri kelapa sawit dinilai memiliki peran strategis dalam menopang ketahanan ekonomi, energi, dan sosial Indonesia. Dengan kontribusi devisa ekspor nonmigas yang mencapai 36,1 miliar dolar AS per tahun serta penguasaan sekitar 58,7 persen pasar minyak sawit global, sektor ini tidak hanya menjadi andalan ekspor, tetapi juga sumber penghidupan jutaan masyarakat.

Board of Trustees Prasasti Center for Policy Studies, Fuad Bawazier menegaskan, dalam konteks ketahanan nasional, industri kelapa sawit tidak dapat dipandang semata sebagai komoditas ekonomi. Sektor ini diperkirakan menopang hingga 16,5 juta lapangan kerja, baik langsung maupun tidak langsung.

Baca Juga
  • Gempa Bumi Magnitudo 2,9 Guncang Subang karena Aktivitas Sesar Aktif
  • Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Pacitan, Warga Panik
  • Pemerintah Siapkan 6 Miliar Dolar untuk Industri Tekstil

“Angka-angka ini menunjukkan bahwa sawit bukan sekadar komoditas ekspor. Ia adalah sumber penghidupan jutaan keluarga sekaligus salah satu pilar utama ketahanan ekonomi nasional,” ujar Menteri Keuangan ke-19 tersebut lewat keterangan tertulis, Kamis (5/2/2026).

Ia menilai peluang nilai tambah industri sawit ke depan masih sangat besar, terutama melalui hilirisasi dan pengembangan produk turunan bernilai tambah tinggi. Namun, peluang tersebut harus diiringi dengan penguatan tata kelola dan keberlanjutan.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Menurut Fuad, diskusi mengenai tata kelola seharusnya tidak berangkat dari mencari kesalahan melainkan dari upaya memperkuat kapasitas industri dalam mengelola risiko dan menjaga daya saing jangka panjang di tengah meningkatnya tuntutan global terkait iklim.

Pandangan tersebut sejalan dengan tantangan struktural yang kini dihadapi industri kelapa sawit nasional. Di tengah kontribusi ekonominya yang besar, Fuad menjelaskan, sektor ini berhadapan dengan meningkatnya risiko iklim, tuntutan standar keberlanjutan global, serta persoalan produktivitas dan tata kelola di tingkat tapak. Kondisi ini menuntut pendekatan kebijakan yang tidak lagi bersifat reaktif, melainkan mampu mengantisipasi risiko sejak dini.

Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier menjadi narasumber dalam seminar nasional di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (26/7). - (Republika/Prayogi)

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Resep Jiaozi, Pangsit Isi Ayam dan Sawi Putih yang Cocok Disajikan saat Imlek 2026
• 15 jam lalugrid.id
thumb
Dekranasda Jabar targetkan transaksi Rp25 miliar di INACRAFT 2026
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Perkuat Lini Serang, Persis Solo Resmi Boyong Winger asal Brasil Jebolan Liga Korea Selatan
• 11 jam lalubola.com
thumb
Plt Rektor UNM Prof Farida Patittingi Resmi Menerima Maba PPI Angkatan V Tahun 2026
• 11 jam laluharianfajar
thumb
Kontroversi Jadwal Pemilu Jepang, Bertepatan Ujian Masuk Univesitas
• 15 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.