JAKARTA, KOMPAS.TV - Psikolog keluarga Alissa Wahid mengungkapkan, anak yang tumbuh dalam keluarga miskin kerap memikul tekanan berlapis yang jarang terlihat oleh publik.
Seorang anak kelas 4 SD di Kabupaten Ngada, NTT, diduga mengakhiri hidupnya lantaran tak mampu membeli buku dan pena seharga kurang dari 10 ribu rupiah.
Dalam kasus keluarga dengan ibu tunggal yang harus menghidupi lima anak, beban psikologis anak tidak berdiri sendiri, melainkan saling menumpuk.
Kondisi tersebut diperberat dengan absennya figur ayah atau figur laki-laki dewasa dalam kehidupan anak. Bagi sebagian anak, kehilangan kehadiran ayah bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga rasa aman dan dukungan emosional.
Tekanan semakin berat ketika anak harus tinggal terpisah dari ibunya dan memilih tinggal bersama nenek. Jarak fisik dan emosional dari orang tua, menurut Alissa, menciptakan luka tersendiri.
Kemiskinan juga membuat anak harus menerima kenyataan pahit bahwa banyak hal yang ia harapkan lebih sulit dicapai dibandingkan teman-teman sebayanya. Perbedaan sederhana, seperti bekal sekolah, dapat menjadi sumber rasa rendah diri dan tekanan mental.
Alissa menegaskan, situasi ini menunjukkan bahwa kemiskinan bukan sekadar persoalan angka dan bantuan sosial, melainkan krisis kemanusiaan yang berdampak langsung pada kesehatan mental anak.
Tanpa perhatian serius dari keluarga, lingkungan, dan negara, anak-anak dari keluarga miskin berisiko tumbuh dengan luka psikologis yang terus terbawa hingga dewasa.
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/fXp27lsQ16U
**diskusi ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu untuk bercerita dan berkonsultasi kepada ahli.
#siswa #alissawahid #kpai
Penulis : Elisabeth-Widya-Suharini
Sumber : Kompas TV
- siswa
- ntt
- tewas
- alissa wahid
- kpai





