Moskow (ANTARA) - Situasi antara Iran dan Amerika Serikat sangat rawan konflik, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dalam sebuah wawancara dengan Russia Today pada hari Kamis.
"Saat ini, kami tidak menempatkan diri sebagai mediator antara Iran, Israel, dan AS. Dalam kontak kami dengan mereka, kami hanya membahas perkembangan yang terjadi," ujar Lavrov, seraya menyampaikan bahwa sebagai mitra dekat Iran, Rusia secara cermat memantau situasi yang sedang berkembang.
Dia mengatakan bahwa Rusia siap berkontribusi untuk deeskalasi ketegangan dan memastikan kepatuhan pada kesepakatan yang ada.
"Ada terlalu banyak bom waktu yang bisa meledak akibat langkah ceroboh. Pihak Iran dan Israel tahu bahwa kami siap memfasilitasi implementasi kesepakatan apa pun yang mungkin tercapai," imbuh Lavrov.
Sebelumnya, outlet berita yang berbasis di AS, Axios, melaporkan bahwa negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran akan digelar di Oman pada Jumat (6/2).
Pada akhir Januari, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa sebuah "armada besar" sedang bergerak menuju Iran, dan berharap Teheran akan hadir di meja perundingan dan mencapai kesepakatan yang "adil dan setara", yang akan mencakup penyerahan penuh senjata nuklir.
Iran telah menegaskan bahwa pihaknya tidak berupaya memiliki senjata nuklir, dan mempertahankan haknya atas teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Lima putaran perundingan nuklir AS-Iran berakhir tanpa hasil pada 2025, dikarenakan operasi militer Israel terhadap Iran dan serangan militer AS terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran.
"Saat ini, kami tidak menempatkan diri sebagai mediator antara Iran, Israel, dan AS. Dalam kontak kami dengan mereka, kami hanya membahas perkembangan yang terjadi," ujar Lavrov, seraya menyampaikan bahwa sebagai mitra dekat Iran, Rusia secara cermat memantau situasi yang sedang berkembang.
Dia mengatakan bahwa Rusia siap berkontribusi untuk deeskalasi ketegangan dan memastikan kepatuhan pada kesepakatan yang ada.
"Ada terlalu banyak bom waktu yang bisa meledak akibat langkah ceroboh. Pihak Iran dan Israel tahu bahwa kami siap memfasilitasi implementasi kesepakatan apa pun yang mungkin tercapai," imbuh Lavrov.
Sebelumnya, outlet berita yang berbasis di AS, Axios, melaporkan bahwa negosiasi nuklir antara Washington dan Teheran akan digelar di Oman pada Jumat (6/2).
Pada akhir Januari, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa sebuah "armada besar" sedang bergerak menuju Iran, dan berharap Teheran akan hadir di meja perundingan dan mencapai kesepakatan yang "adil dan setara", yang akan mencakup penyerahan penuh senjata nuklir.
Iran telah menegaskan bahwa pihaknya tidak berupaya memiliki senjata nuklir, dan mempertahankan haknya atas teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Lima putaran perundingan nuklir AS-Iran berakhir tanpa hasil pada 2025, dikarenakan operasi militer Israel terhadap Iran dan serangan militer AS terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran.





