Jakarta: Dana Otonomi Khusus (Otsus) bidang pendidikan dinilai perlu dimanfaatkan maksimal untuk memperluas akses dan kualitas pendidikan anak muda Papua. Dua perempuan muda berprestasi, Cecilia Novani Mehue dan Yunita Alanda Monim, menilai beasiswa Otsus telah memberi dampak nyata, namun sosialisasinya masih perlu diperkuat.
"Saya ini aset hidup otonomi khusus Papua. Jadi saya harus pulang ke Papua untuk membantu masyarakat dalam bentuk apapun,” kata Cecilia saat diskusi Kemendagri di Jakarta.
Baca Juga :
Budi Luhur University Mengukuhkan Dua Guru Besar BaruCecilia menjelaskan Beasiswa Otsus yang diperolehnya pada masa Gubernur Lukas Enembe membuka jalan untuk menempuh pendidikan selama tujuh tahun di Amerika.
Dua perempuan muda berprestasi, Cecilia Novani Mehue dan Yunita Alanda Monim. Dokumentasi/ istimewa
Selama masa studi, ia juga aktif dalam gerakan pemberdayaan perempuan Papua melalui organisasi Ikatan Mahasiswa Papua Amerika dan Kanada (IMAPA), hingga dipercaya menjadi Wakil Presiden organisasi tersebut.
Latar belakang keluarga sederhana menjadi motivasi kuat bagi Cecilia untuk mengejar pendidikan melalui jalur beasiswa.
“Saya ini berasal dari keluarga yang sederhana. Karena itu saya mencari beasiswa untuk sekolah dan pulang membantu orang tua dan masyarakat kami,” ungkap Cecilia.
Sekembalinya ke Papua, ia langsung menerapkan ilmunya dengan membuka usaha kafe di Sentani dan merekrut tenaga kerja dari kalangan anak muda Papua. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan, di antaranya menjadi dosen kontrak di Universitas Swadiri Jayapura, terlibat di Yayasan Ada Kitong Pung Rumah, serta pelayanan gereja.
Melalui jalur pengangkatan Otsus, Cecilia kemudian terpilih sebagai anggota DPRP Papua periode 2024–2029 setelah mengikuti rangkaian seleksi.
“Sebagai anggota Dewan hasil pengangkatan dari jalur Otsus, tugas saya adalah menjaga dan memperjuangan hak-hak adat orang asli Papua agar bisa masuk dalam program pemerintah daerah," jelasnya.
Pengalaman berbeda datang dari Yunita Alanda Monim, Puteri Indonesia Papua 2023, yang mengaku tidak memperoleh beasiswa Otsus saat menempuh pendidikan. Ia menyebut keterbatasan informasi menjadi salah satu kendala utama saat itu.
Meski demikian, Yunita melihat perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir, di mana semakin banyak anak muda Papua mendapat kesempatan pendidikan melalui program Otsus.
"Yang penting pemerintah perlu terus melakukan sosialisasi tentang program-program Otsus supaya makin banyak masyarakat Papua merasakan manfaatnya, terutama di bidang pendidikan," ungkap Yunita.
Yunita juga menyoroti temuan di sejumlah sekolah berasrama di Jakarta yang menampung pelajar asal Papua kiriman pemerintah kabupaten.
"Menurut saya, pendidikan harus menjadi fokus perhatian dari program Otsus supaya makin banyak anak-anak muda Papua yang diberdayakan," ujarnya.



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F02%2F05%2F120075ae0f8d79f33a524c93ff150825-IMG_20260205_WA0019.jpg)
