Serang, ERANASIONAL.COM – Pondok Pesantren Al Markaz di Sambilawang, Kecamatan Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten, terus menunjukkan peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan melalui pengembangan agro eduwisata berbasis edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
Kawasan yang diresmikan pada 2023 tersebut kini menjadi contoh pemanfaatan lahan produktif skala kecil yang mampu menghasilkan nilai ekonomi sekaligus menjadi sarana pembelajaran pertanian modern.
Direktur Jenderal Penataan Agraria, Embun Sari, bersama Staf Khusus Bidang Reforma Agraria Rezka Oktoberia dan Direktur Pemberdayaan Tanah Masyarakat Freddy A. Kolintama, melakukan kunjungan langsung ke lokasi.
Kehadiran rombongan disambut Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Banten, Harison Mocodompis.
Dalam kunjungannya, Embun Sari menegaskan bahwa reforma agraria tidak hanya berhenti pada pemberian sertifikat tanah, tetapi harus diikuti pemanfaatan yang produktif.
“Reforma agraria bukan sekadar memberikan kepastian hak atas tanah, tetapi bagaimana tanah itu dimanfaatkan. Jika tanah dibiarkan tidak produktif, maka tujuan redistribusi bisa tidak tercapai,” ujar Embun kepada wartawan, Kamis (5/2/2026).
Ia menjelaskan, sejak 2006 reforma agraria dirancang melalui pendekatan asset reform dan access reform, yakni pemberian tanah yang disertai pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, agro eduwisata Al Markaz menjadi contoh nyata bagaimana lahan dapat memberikan nilai tambah ekonomi jika dikelola secara optimal.
Embun juga menyoroti pentingnya peran tokoh penggerak dalam keberhasilan program pemberdayaan masyarakat.
“Program tidak akan berjalan tanpa sosok penggerak. Peran pimpinan pesantren sangat penting dalam mengembangkan kawasan ini,” katanya.
Kawasan Argo Eduwisata
Sementara itu, Staf Khusus Bidang Reforma Agraria Rezka Oktoberia menilai kawasan agro eduwisata Al Markaz sebagai praktik pemberdayaan lahan yang inspiratif.
“Dengan luas sekitar 1,5 hektare, kawasan ini mampu menghasilkan produk pertanian yang bermanfaat bagi kesehatan sekaligus meningkatkan perekonomian,” ungkap Rezka.
Di kawasan pesantren terdapat 14 greenhouse, tiga di antaranya telah menggunakan sistem Internet of Things (IoT). Berbagai tanaman seperti anggur, melon, dan sayuran dibudidayakan di dalamnya.
Selain pertanian, kawasan ini juga dilengkapi fasilitas outbound dan flying fox, sehingga pengunjung tidak hanya belajar pertanian tetapi juga membangun karakter.
Sebanyak 95 persen aktivitas agro eduwisata melibatkan para santri, baik sebagai bagian dari pembelajaran maupun pengembangan keterampilan.
Pimpinan Ponpes Al Markaz, Ustadz Amirul Faruk, menegaskan bahwa bertani bukan sekadar profesi, tetapi bagian dari filosofi kehidupan.
“Mau jadi apa pun, harus bisa bertani. Dari pertanian kita belajar tanggung jawab, kesabaran, dan ketahanan,” tuturnya.
Melalui kunjungan ini, diharapkan model agro eduwisata Al Markaz dapat menjadi inspirasi pengelolaan lahan produktif di berbagai daerah sekaligus memperkuat peran reforma agraria dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Serang Elfidian Iskariza, Kepala Kantor Pertanahan Kota Serang Taufik Rokhman, serta jajaran pejabat teknis lainnya.




