Runner-up MasterChef Australia seri ke-17, Callum Hann, mengunjungi Indonesia kemarin (5/2). Dalam kunjunganya, dia mencoba pengalaman baru mulai dari coffee cupping, belanja ke pasar tradisional, hingga memasak di sebuah bistro. Tidak sendirian, dia pun ditemani juru masak Indonesia dari restoran Silk Bistro, Chef Freddie Salim.
kumparan menjadi salah satu dari empat media yang diajak berkeliling bersama sang celebrity chef tersebut. Chef Callum kembali menjadi sorotan usai tampil di MasterChef Australia: Back to Win tahun lalu. Perjalanan kulinernya, dimulai pada saat ia berusia 20 tahun, ketika pertama kali mengikuti kompetisi memasak di televisi tersebut.
Kecintaannya terhadap dunia kuliner dan pendidikan adalah landasan dari setiap langkahnya. Dia kerap mempromosikan praktik kuliner yang berkelanjutan dan etis. Dia juga secara aktif mendukung petani lokal, mengutamakan penggunaan bahan musiman, serta berkomitmen terhadap pengurangan limbah makanan.
Saat ke Indonesia, Chef Callum turut melengkapi pengalamannya dengan hal-hal baru. Kegiatan pertamanya adalah mengunjungi coffee shop di Cikajang, yang didirikan oleh Iman Kusumaputra, Annie Gabel, Putri Yulandari, dan Abubakar Dihya. Keempatnya merupakan lulusan Australia yang kembali untuk berbisnis kedai kopi bernama Kopi Kalyan.
Di gerai kopi ini, Chef Callum belajar coffee cupping untuk pertama kalinya. Dibimbing oleh tiga orang pemilik Kopi Kalyan, yakni Putri, Annie, dan Iman, Chef Callum mencoba menyelami cita rasa kopi Indonesia. Dari kedelapan kopi yang ia coba, Chef Calllum yang juga pencinta kopi, begitu menyukai aroma serta rasa biji kopi asal Manggarai dan Karo. Dia begitu terkesan dengan rasa kopi Indonesia yang begitu beragam.
Belanja ke Pasar Santa, Chef Callum Beli Petai sampai SalakKegiatannya bersama media berlanjut dengan mengunjungi Pasar Santa yang tak jauh dari Kopi Kalyan. Kami berjalan kaki bersama untuk sampai ke pasar tradisional tersebut. Bersama Chef Freddie Salim, Chef Callum diperkenalkan warung makan khas Sunda sampai Padang yang ada di bibir pintu pasar.
"Ya, saya tahu rendang. Tapi apa itu Padang?," tanya Chef Callum kepada Chef Freddie.
"Padang adalah nama kota di Sumatera Barat," jelas Chef Freddie.
Kemudian dia pun berlanjut melihat beberapa pedagang sayuran dan membeli bahan-bahan yang hendak dimasak. Begitu melihat petai, Chef Callum langsung antusias. Dia langsung menunjuk petai yang menggantung dan tampak segar. "Saya belum pernah mencobanya, saya mau mencoba dan memasak (petai)," ujarnya.
Tapi, tak perlu menunggu saat memasak, di pasar Chef Callum langsung mencoba petai mentah. "Kenapa disebut stinky bean? Padahal rasanya tidak bau. Rasanya juga renyah," ucapnya. Usai mencoba petai, dia pun mendapat inspirasi untuk membuat masakan daging khas Australia dengan petai.
Kegiatannya berlanjut dengan membeli beberapa buah-buahan, seperti kedondong dan salak. Kedua buah-buahan ini juga akan dia masak bersama daging sapi dari Australia.
Usai berbelanja sekitar satu jam, kami rombongan media, kedutaan Australia, dan kedua juru masak tersebut melanjutkan perjalanan ke Silk Bistro, restoran di Pakubuwono milik Chef Freddie.
Begitu sampai, Chef Callum dan Chef Freddie langsung melakukan persiapan. Restoran bergaya kolonial ini, memiliki dapur terbuka sehingga kami para awak media pun dapat dengan begitu dekat menyaksikan keduanya memasak.
Chef Freddie mengajarkan Chef Callum cara mengupas salak, petai, hingga memotongnya. Sementara Chef Callum menyiapkan saus, memotong cabai, daging, hingga bahan masakan lainnya. Keduanya menyuguhkan dua masakan dari hasil belanja tadi, yakni beef steak beralaskan daun poh-pohan dan saus dari kedondong, serta beef tartare dengan paduan salak dan petai.
kumparanFOOD dan awak media lain pun mendapat kesempatan mencicipi kedua hidangan itu bersama kedua juru masak tersebut. Pertama kami langsung penasaran dan mencoba beef tartare topping petai itu. Beef tartare sendiri menggunakan potongan daging sapi mentah yang dipadukan dengan kesegaran saus asam-manis dari buah-buahan serta minyak daun jeruk dan kemangi. Olahan daging ini dimakan bersama keripik ubi ungu yang renyah.
Rasa daging yang mentah, tidak amis sama sekali. Hanya terasa kenyal, dan didominasi rasa manis, asam, segar, serta renyahnya petai. Uniknya, meski petai yang dicampur dalam masakan ini masih mentah, tapi tidak bau sama sekali.
Lanjut, kami pun mencoba beef steak dengan alas daun poh-pohan dan lumuran saus kedondong. Rasa saus kedondong yang asam menyegarkan, sedikit manis, berpadu pas dengan steak sapi Australia yang gurih dan juicy. Padahal steak sapinya tidak dimarinasi bumbu apa pun, hanya ditaburkan garam dan lada. Namun rasa gurih daging yang alami begitu memanjakan lidah. Sementara, aroma dan rasa daun poh-pohan yang khas, menambah kesan segar nan harum dari olahan daging yang juicy.
Chef Callum dan Chef Freddie pun turut terkesan dengan dua resep yang baru pertama kali mereka coba masak tersebut. Keduanya pun merasa, kombinasi olahan daging sapi Australia dengan bahan yang sangat lokal itu, sukses menghasilkan cita rasa masakan yang nikmat dan unik.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5344858/original/067142400_1757495292-1000212024.jpg)


